Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 010: Suara Gadis Kecil Itu


__ADS_3

Ats kecil duduk sendirian di halaman rumahnya. Ia menatap ke langit seakan menunggu-nunggu sesuatu datang dari sana. Setiap kali suara pesawat terbang terdengar, ia akan berdiri untuk melihat pesawat itu.


"Nak, sudahlah," seorang wanita tua menepuk pundak Ats kecil, "Kamu harus bisa bersabar. Masih ada kami di sini."


Ats memandang wanita itu dengan tatapan yang polos. Sebenarnya, ia sudah merelakan kepergian kedua orang tuanya. Dalam hati kecil di tubuhnya yang mungil, ia sudah mengerti esensi dari kata 'ikhlas' yang merupakan salah satu pangkal dari kebahagiaan.


"Bukannya aku punya seorang adik?" tanya Ats setelah lama terdiam.


Wanita tua yang tak lain adalah neneknya itu pun tertegun. Ia lantas memeluk Ats kecil sangat lama. "Benar, Nak. Kamu punya. Kamu harus menyayanginya saat bertemu dengan ia nanti. Berjanjilah! Kamu akan menyayanginya."


"Aku janji. Kapan dia datang?" dalam pelukan neneknya, Ats kembali bertanya.


"Semoga ia lekas datang," ucap sang nenek tanpa memberi jawaban yang jelas. Ats pun termangu. Selalu saja begitu. Jawaban nenek dan keluarganya selalu saja begitu setiap kali ia bertanya tentang adiknya seolah-olah adiknya itu adalah tokoh fiksi.


"Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Ats lagi. Ketika pertanyaan ini yang terlontar, barulah neneknya menjawab dengan jelas, "Dia seorang putri."


"Hm ...," Ats pun menghela napasnya. Kilas masa lalu itu kembali menghilang. Kini, hanya tersisa dirinya yang berdiri sendirian seperti biasa. Ditatapnya rumah besar yang antik. Yah, itu adalah rumah bergaya kuno. Menurut buku yang Ats baca di waktu ia kecil dulu, desain arsitektur itu berasal dari ratusan tahun yang lalu.


Ats berdiri di antara dua pilar yang menyangga teras rumah. Ia pun menatap ke samping. Ada sebuah kolam persegi di sana. Ikan-ikan nila berenang bebas di dalamnya. Sebuah air mancur terbangun sederhana di tengahnya. Tanaman-tanaman herbal menghias di sekitarnya, menyatu dengan tanaman gantung yang memenuhi atap limas di teras.


Sebenarnya, Ats sudah lama melupakan perihal adiknya. Keduanya tak pernah saling bertemu. Ats hanya pernah mendengar kabar keberadaannya. Karena itu, ia hampir menganggapnya tak ada. Namun, entah mengapa ia merasa sering memikirkannya akhir-akhir ini.


"Seorang putri, ya?" gumam Ats ketika mengingat adiknya yang tak pernah ia kenal itu, "Berarti ia sama seperti bunda, kan?"


"Dia kakakku?" suara seorang gadis kecil tiba-tiba terdengar sampai mengagetkan Ats. Pemuda itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapa pun di sana selain dirinya. Hanya ada ia sendiri, berdiri sendirian di sebuah teras rumah yang asri dan sunyi. Hanya gemericik air mancur yang menemaninya.

__ADS_1


"Sungguh?" suara gadis itu kembali terdengar, membuat Ats kebingungan, "Kakak, akhirnya kita bertemu. Cepatlah sembuh agar kita bisa benar-benar bertemu sungguhan. Perkenalkan, aku adikmu. Namaku A—...."


Ketika suara itu terngiang di telinga Ats, pandangannya menjadi gelap. Kepalanya pun terasa sakit dan pusing. Napasnya memberat seakan ada sepucuk gunung yang menindih dadanya. Tangannya pun mengepal. Ia mati-matian berusaha bertahan.


Suara-suara yang samar sempat terdengar di telinga Ats sebelum ia kehilangan kesadarannya. Ia juga sempat merasakan sebuah sentuhan di tangannya yang menggenggam. Sentuhan itu rasanya hangat, tapi tak terasa lama.


***


"Hais ...! Pastikan Paman menyegel semua fungsi yang belum mampu ditangani oleh bocah itu!" titah Iskandar sewot, "Gejala buruk itu terjadi padanya tiba-tiba. Para dokter di akademi sampai sangat terkejut karenanya."


"Yah, sedang kulakukan," jawab Profesor Han singkat. Ia pun kembali fokus pada gawai-gawai tipis di hadapannya. Jari-jemarinya bergerak lincah memijat-mijat setiap tombol hologram yang menyala redup, tapi cukup terlihat.


"Hais ...," keluh Iskandar dengan menghela napasnya, "Kenapa tiba-tiba ada masalah pada neuron zarahnya? Bukannya sistem sudah dilepas dengan paksa?"


"Bisa jadi malah karena itu," kata Profesor Han menduga, "Harusnya kamu konsultasi dulu sebelum melepasnya."


"Aku belum memeriksa ulang data dari gejala traumatik dan efek samping pada para driver," Profesor Han pun mengalihkan file di gawainya sebentar, lalu mengirimkan sepaket dokumen digital kepada Iskandar. "Coba kamu periksa di sana. Beri tahu aku kalau kamu menemukan sesuatu."


"Hm," Iskandar mengangguk kecil begitu melihat file baru yang masuk ke akunnya. Ia pun pamit untuk meneliti dokumen itu. Lagi pula, ia sudah bosan di sini dan tak ingin mengganggu kerja Profesor Han lebih lama lagi.


***


Kilau cahaya yang terang menyambut Ats begitu ia terbangun dari pingsannya. Pemuda itu berusaha menggerakkan tangan guna menghalangi kesilauannya, tapi ia tak kuasa untuk bergerak sedikit pun. Matanya pun mengerjap pelan.


Sedikit demi sedikit, penglihatannya berangsur normal. Kini, ia bisa melihat langit-langit ruangan yang polos seputih susu. Beberapa lampu LED yang terang menyala di sana. Dari situlah cahaya silau itu berasal.

__ADS_1


"Aku pingsan lagi, ya?" gumam Ats bertanya pada dirinya sendiri. Ingatan dalam mimpinya telah sempurna menghilang. Memorinya langsung mengenang saat-saat terakhirnya sebelum terjatuh.


"Arselan," panggil Ats. Ia penasaran dengan kejadian selanjutnya. Kalau ia tak salah ingat, harusnya droid mengesalkan itu menangkapnya. Ia harus tahu di mana letak posisinya sekarang.


"Arselan," panggil Ats lagi karena Arselan tak juga merespon, "Arselan, Arselan!"


Ats berupaya menggerakkan tangannya mulai dari menekuk jari-jemari. Ia melakukannya perlahan sampai merasa mampu untuk mengangkat tangan. Saat ia melihat pergelangan tangannya, ia tak menemukan Arselan di sana.


"...!?" Ats terkejut dalam hening. Berbagai dugaan bermunculan di benaknya. Kemungkinan terburuk, piranti yang melingkar di tangannya itu diambil oleh pihak akademi atau bahkan Departemen Jasus karena ia ketahuan masuk ke Perpustakaan Ilmiah dan meneliti sesuatu tanpa izin.


"Tunggu, emangnya aku butuh izin buat masuk ke sana? batin Ats dalam hati, "Tapi, bukannya ruangan itu memang nggak dikunci? Yang kasih perintah kan juga Profesor Han? Harusnya nggak ada masalah dong."


"Anda sudah sadar, Tuan Muda?" suara serak seorang pria terdengar mengagetkan Ats. Pemuda itu pun menoleh dan menemukan seorang pria tua yang rambut dan janggutnya sedikit beruban.


"Siapa?" tanya Ats. Meskipun ayahnya seorang tokoh militer yang penting dahulu, tapi ia tak pernah dipanggil tuan muda, bahkan di Keluarga Asir.


"Perkenalkan, saya Zaganosh," ucap pria tua itu, "Ajudan Pangeran Kedua. Anda bisa memanggil saya Zagan. Pangeran meminta saya untuk memeriksa kondisi Anda."


"Pangeran Kedua?" Ats tambah terkejut, tapi tak dapat menampakkannya, "Memangnya, di mana saya sekarang?"


"Anda berada di Rumah Sakit Kekaisaran Altair," jawab Zaganosh, "Beberapa hari yang lalu, kondisi Anda memburuk karena sebab yang tidak diketahui."


"Apa pihak akademi sudah mengetahuinya?" tanya Ats lebih lanjut. Ia jadi mengkhawatir studinya. Kalau ia terlalu lama terbaring di rumah sakit, ia pasti ketinggalan banyak pelajarannya.


"Tentu, pihak akademi sudah mengetahuinya," Zaganosh mengulas senyum di bibirnya. Sepertinya, dia pria yang ramah terlepas dari perawakannya yang besar dan terkesan menyeramkan, apalagi untuk anak kecil. "Anda tidak perlu risau tentang itu."

__ADS_1


Ats ingin menanyakan sesuatu lagi, tapi ia merasa tak mampu mengutarakannya sekarang. Ia ingin tahu apa motif Pengeran Kedua memperhatikannya sampai seperti ini. Rasanya tak mungkin jika hanya karena ia adalah seorang murid dari Profesor Han yang ternyata juga seorang pangeran. Pokoknya, ia akan langsung menyampaikan keberatannya jika jelas diseret ke ranah politik oleh pangeran muda itu.


__ADS_2