
Saat Ats membuka matanya, ia sudah berbaring di atas sebuah kasur empuk. Matanya pun mengerjap. Dilihatnya langit-langit putih yang tidak ia kenal.
"Apa aku masuk rumah sakit lagi?" pikir Ats dalam hati. Ia pun berusaha menggali ingatannya. Namun, kepalanya jadi pusing seketika.
"Ho, syukurlah kamu sudah bangun," suara Master Khaled muncul dari arah pintu, "Kamu membuat Profesor Han sangat cemas."
"Master Khaled? Kenapa Anda di sini?" Ats mendapati pria bongsor itu berdiri di depan pintu. Ada seulas senyum simpul di bibirnya. Ia juga terlihat lega.
"Tentu saja gara-gara kamu, Bocah," Master Khaled menuding Ats. Wajahnya berubah ketus sekarang. "Kenapa kamu melakukan akselerasi tanpa memberi tahuku, hah?"
"Eh?" Ats menatap heran, "Saya harus memberi tahu Anda?"
"Tentu saja, Bocah! Geh, sudah kuduga. Kamu melakukannya dengan sengaja," Master Khaled pun duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Ats, "Apa kamu sudah pernah melakukan teknik akselerasi itu sebelumnya?"
"Pernah," jawab Ats enteng, "Nenek yang mengajarkannya pada saya."
"Begitu, ya?" Master Khaled menatap datar. Sebagai seorang master zarahian, ia sangat kagum dengan Keluarga Asir. Seandainya ia bisa memilih, tentu ia ingin terlahir sebagai bagian dari keluarga itu. Mereka memiliki budi pekerti yang luhur, teknik zarahian paling ampuh, dan kehormatan terbesar di seantero kekaisaran. Bisa dibilang, hampir semua rakyat kekaisaran pernah mendengar nama keluarga ini setelah nama keluarga kekaisaran sendiri.
Namun, yang paling memikat bagi Master Khaled adalah teknik mereka yang sederhana, tapi hebat. Anehnya, teknik itu tidak cocok pada semua orang, bahkan di Keluarga Asir sendiri. Mereka sudah seperti klan dalam klan yang memiliki gen nan unik.
"Ats, kamu sudah sadar!" kini, giliran suara Profesor Han yang terdengar. Pria itu langsung menyelonong masuk. Ia memandang Ats dari atas sampai bawah, memastikan kondisinya baik-baik saja.
"Profesor, Anda terlalu berisik. Itu bisa membuat Ats terganggu," seorang wanita pakaian dokter muncul dari belakang sang profesor. Suara dan wajah wanita itu tak asing bagi Ats. Ah, ia bahkan mengenalnya.
"Bibi?" Ats tak menyangka bahwa ia akan bertemu adik dari ayahnya itu. Namanya adalah Razana Asir. Ia seorang dokter ahli zarahian yang terkenal.
Ats memang pernah mendengar bahwa bibinya ini bekerja sebagai guru kedokteran di Akademi Altair, tapi ia jarang bertemu dengannya karena sang bibi tinggal dan mengajar di kompleks perempuan.
__ADS_1
"Ats, kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit nggak?" tanya Dokter Razana cemas. Wanita berkerudung putih itu amat sayang pada keponakannya ini macam anaknya sendiri. Itu karena ia belum menikah sama sekali meskipun usianya sudah masuk kepala tiga tahun ini. Saat Ats lahir, usianya sekitar 15 atau 16 tahun.
"Nggak apa-apa kok, Bibi," jawab Ats dengan seulas senyum simpul di wajahnya, "Ini cuman kecelakaan kecil aja."
"Hais ... kamu tuh mirip sama kakak," gerutu Dokter Razana sebal, "Kalian keras kepala banget. Bukannya kamu mau jadi ilmuwan? Kenapa kamu malah belajar teknik yang berbahaya itu lagi?"
"Em, itu—" Ats ingin memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan interogatif Dokter Razana yang tajam, tapi ia tidak enak. Ia pun hanya bisa menekuk sedikit wajahnya untuk berpaling dari tatapan itu.
"Master Khaled," Dokter Razana menatap master zarahian yang duduk di samping keponakannya itu, menduga bahwa sang masterlah yang mengajak Ats untuk mempelajari sesuatu yang berbahaya.
"Jangan salahkan saya, Dokter," balas Master Khaled tenang, tapi dengan suara yang samar-samar bergetar. Sama seperti Ats, sang master segan dengan tatapan wanita itu. Ia pun melirik pada Profesor Han.
Itu sudah cukup menjelaskan segalanya pada Dokter Razana. Ia harus mempertanyakan masalah ini lebih dalam pada yang bersangkutan nanti. Diam-diam, Profesor Han pun meneguk ludahnya, merasa merinding tanpa sebab yang belum ia ketahui, tapi familiar.
"Pokoknya, kamu harus istirahat dulu," perhatian Dokter Razana kembali kepada Ats, "Jangan main-main lagi sama dia. Bibi nggak mau kamu sakit karena jadi kelinci percobaannya."
Professor Han memalingkan wajah saat lagi-lagi Dokter Razana menatapnya dengan tajam. Pria itu ingin protes, tapi tertahan oleh sesuatu yang tak tampak. Ia sungguh tak pernah menganggap Ats sebagai kelinci percobaannya. Itu adalah tuduhan tak berdasar—yah, walaupun wajar dan bisa sedikit dimaklumi sih.
"Hm," Dokter Razana mengangguk, lalu balik bertanya, "Kenapa memangnya?"
"Bukan apa-apa kok," jawab Ats enteng, "Cuman, berarti lukaku nggak terlalu parah kali ini."
"Nggak parah gimana?" tanya Dokter Razana dengan suara tinggi, "Kamu bisa mati kalau nggak segera diawasi, tahu? Untung kamu bisa selamat sekarang. Tapi, kalau kamu main-main lagi, kamu bisa celaka lain kali."
"Em—" Ats ingin menyangkal, "Aku kan emang punya afinitas di sana—"
"Ih ...! Bocah ngeyel," Dokter Razana mencubit kedua pipi Ats seperti mencubit anak kecil untuk membuatnya berhenti membantah. Itu membuat Master Khaled dan Profesor Han sedikit terkejut. Selama ini, Dokter Razana terkenal kalem dan dingin di antara para dokter wanita, bahkan terkesan galak.
__ADS_1
"Bwibwi, adwa Mwaster Khwaled dwn Prowfwesor Hawn di swini," protes Ats sambil berusaha melepaskan cubitan itu. Dokter Razana pun langsung melepaskan cubitannya. Itu menyisakan rona merah yang perih di pipi Ats.
"Ekhem!" Master Khaled bangkit dari duduknya, "Sepertinya, kami mengganggu di sini. Kami pamit undur diri dulu, Dokter, Ats. Banyaklah beristirahat untuk saat ini."
"Eh? Tungg—" Profesor Han hendak mengatakan sesuatu, tapi Master Khaled sudah memaksanya untuk pergi.
"Terima kasih, Master," Dokter Razana tersenyum riang, "Anda peka sekali."
"Ha—hai," Profesor Han masih berusaha protes sampai akhir, tapi ia tak bisa melawan kekuatan Master Khaled. Padahal, ia harus menanyakan beberapa hal mendesak pada muridnya itu untuk memastikan sesuatu.
"Jadi, Ats," Dokter Razana mengelus kepala Ats dan berceramah, "Kamu jangan ngelakuin hal berbahaya kayak gitu lagi, ya. Nenek bisa sedih loh kalau kamu sampai sakit."
"Hm," Ats jadi termenung setelah mendengar neneknya disebut, "Aku bakal hati-hati kok."
"Yang bener!" tuntut Dokter Razana. Wanita itu pun menghela napas. Sosok keponakannya ini sungguh sangat mirip dengan kakaknya, Laksamana Agung Asir yang susah dipegang cakapnya jika berkaitan dengan teknik zarahian.
"Beneran kok," Ats pun berjanji, "Ah, ya. Bibi sudah pernah ketemu sama adikku, belum?"
"Udah, adikmu imut kayak kamu. Mirip banget loh," jawab Dokter Razana senang. Perasaannya berubah seketika saat membahas Ayya. "Tapi, kok tiba-tiba kamu tanya tentang adikmu? Biasanya kan kamu nggak ingat sama sekali kalau kamu punya adik."
"Hais ... kan nggak ada yang ngingetin," Ats beralasan asal, "Gimana mau ingat?"
"Ih, adiknya sendiri lupa," Dokter Razana pura-pura miris. Ats pun tertawa kecil dan membalas, "Yah, yang penting kan aku sudah ingat sekarang."
"Dia penasaran banget loh sama kamu," ujar Dokter Razana, "Setiap dia sehat, dia pasti ngajak orang-orang di Istana Tulip Emas buat mampir ke rumah, tapi dokter nggak kasih izin karena belum memungkinkan."
"Dia—" Ats jadi ingat kalau fisik adiknya itu lemah. Meskipun belum pernah bertemu dengannya, ia tetap merasa khawatir. "Masih sering sakit akhir-akhir ini?"
__ADS_1
"Ya, makanya kamu juga jangan sampai sakit-sakitan," Dokter Razana menyentil kening Ats, mengingatkannya agar benar-benar menjaga kesehatan, "Dia syok banget pas denger kamu sakit, tahu?"
"Hm? Ternyata gitu," Ats jadi mulai paham dengan suara-suara yang sering mengusiknya itu akhir-akhir ini. Dalam hubungan persaudaraan itu ada suatu benang kuantum yang saling terhubung. Saat salah satunya merasa bermasalah, yang lainnya pun jadi berempati. Pantas saja Ats sering merasa sedih tanpa sebab saat ia masih kecil.