Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 063: Tuan Muda Asir


__ADS_3

"Senang bertemu denganmu, Ats," ucap seorang pemuda berambut hitam legam yang menyalami Ats dengan akrab. Senyum ramah tersimpul di bibirnya. Senyuman itu menunjukkan peringainya yang baik dan sopan.


"Aku juga senang bertemu denganmu, Kak Emir," balas Ats dengan senyum ramah yang sama.


Emir adalah duta Keluarga Asir di ibu kota. Ia mengurus segala keperluan dan tugas yang penting di sana. Setiap kali ada undangan untuk menghadiri rapat, ialah yang akan menjadi perwakilan keluarganya.


"Salam, Bibi," Emir juga menyapa Dokter Razana dengan sopan, "Saya ucapkan selamat karena Bibi akan segera menikah. Pernikahan Bibi pasti akan menjadi pernikahan yang hebat dan berkesan tahun ini."


"Aku sangat menantikannya," Dokter Razana membalasnya dengan senyum kalem. Ada semburat merah yang sangat samar di pipinya. "Doakan saja agar penikahan itu berjalan lancar."


"Pasti," balas Emir singkat. Ia pun menatap seorang gadis yang bersembunyi di balik Ats, lantas menyapanya dengan luwes, "Kamu pasti Putri Ayya, 'kan?" Senang bertemu denganmu."


"Hm," Ayya hanya mengangguk singkat. Ia pun mencengkeram pakaian Ats kuat-kuat seolah tak ingin waktunya dengan sang kakak diganggu oleh pemuda itu.


"Kami sudah menyiapkan semua keperluan kalian," kata Emir mengakhiri sambutannya, "Ini adalah rumah kita. Jadi, katakan saja jika ada yang kurang."


"Terima kasih, Emir," jawab Dokter Razana mewakili rombongannya, "Ini semua sudah lebih dari cukup."


"Dia adalah Syan," Emir memperkenalkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih sama dengan Ats, "Panggil saja dia saat kalian butuh sesuatu."

__ADS_1


Syan menundukkan wajahnya, menunjukkan kepatuhan. Tangannya ditempelkan ke dada, tanda kesiapan. Badannya tegap, siap menerima arahan.


"Oke," jawab Ats mengerti. Pemuda itu pun berjalan ke kamarnya dibuntuti oleh Ayya. Rasanya lelah setelah perjalanan jauh. Ia ingin segera beristirahat sekarang.


"Awasi mereka," bisik Emir pada Syan. Ia adalah orang yang sibuk. Tidak ada waktu baginya untuk memperhatikan orang yang mungkin akan menjadi saingannya di masa depan.


"Dimengerti, Tuan," jawab Syan tanggap.


Emir pun menghela napasnya. Ia segera pergi dari kediaman untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Meskipun Tuan Muda Asir itu cukup curiga dengan sepupunya, ia yakin Ats tidak akan melakukan apa pun untuk saat ini.


Seperti yang diperintahkan oleh tuannya, Syan mengawasi setiap pergerakan tamunya dengan cermat. Ia berperan sebagai seorang pelayan profesional sehingga tak dicurigai sama sekali, bahkan oleh Arselan. Yah, lagi pula, tugasnya hanya mengawasi sepasang kakak beradik yang menghabiskan waktu terakhir mereka sebelum berpisah. Jadi, tak ada hal penting yang bisa ia laporkan pada Emir selain hal-hal remeh.


"Kenapa?" Ats mengerutkan keningnya heran. Di zaman yang ultramodern ini, sangat jarang orang tidak bersekolah. Yah, mungkin ada beberapa di daerah pinggiran kota. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa karena pemerintah kekaisaran sudah memberikan fasilitas sekolah gratis pada setiap warganya.


"Saya bisa mempelajari apa pun sendirian," jawab Syan dengan wajah tanpa ekspresinya, "Lagi pula, saya tidak membutuhkan sertifikat ntuk bekerja pada 'Tuan Muda' Emir."


Syan menekankan kata 'tuan muda' pada Emir guna menegaskan posisi majikannya di rumah ini. Bagaimanapun juga, ia adalah abdi setia Emir, sedangkan pemuda yang duduk menikmati indahnya malam ini adalah saingan tuannya. Apa pun yang terjadi, ia pasti mendukung Emir untuk menjadi penerus kepemimpinan Keluarga Asir.


"Oh, hebat," komentar Ats singkat. Ia pun memalingkan pandangannya ke langit. Matanya menatap gugusan bintang artifisial yang menyala redup di atas sana, tapi hatinya sibuk menembus cakrawala yang tak terhingga.

__ADS_1


"Aku senang," kata Ats kemudian. Matanya terpejam, sedangkan bibirnya tersenyum tipis. "Kamu adalah orang yang sangat kompeten, Syan. Kak Emir pasti akan sangat terbantu olehmu."


"Saya masih banyak kekurangan," Syan sadar akan dirinya. Pengalamannya masih semata kaki. Pengetahuannya pun lebih dangkal lagi. Ia masih harus banyak belajar segala hal.


"Siapa orang yang tak punya kekurangan?" balas Ats yang kini membuka matanya, "Setiap orang pasti punya banyak kekurangan. Tinggal bagaimanakah ia memanfaatkan kekurangan itu. Pada dasarnya, kekurangan itu bisa menjadi kekuatan."


"..."


Syan terdiam. Ini akan menjadi catatan yang berguna untuknya. Bukan untuk dilaporkan kepada Emir, tapi benar-benar untuk dirinya sendiri. Sejauh pengamatannya selama ini, tak ada apa pun yang mencurigakan dari pergerakan Ats. Jadi, bisa dibilang bahwa pemuda itu bukan ancaman—setidaknya sekarang.


"Kamu tahu?" tanya Ats pelan, tapi tak memerlukan jawaban. "Dunia ini sangat kecil, apalagi kita yang menempatinya. Apa yang kita miliki akan sirna. Tak ada yang abadi di dunia ini."


"..."


Lagi-lagi, Syan hanya dapat terdiam. Ia mendengarkan ucapan Ats lekat-lekat. Pikirannya mencoba untuk menebak arah dari ucapan pemuda itu.


"Segala sesuatu di dunia ada masanya," lanjut Ats setelah terdiam sebentar, "Anak-anak akan menjadi dewasa, kemudian tua. Tunas akan tumbuh, berbuah, kemudian lapuk. Lautan pun ada pasang ada surut. Apa gunanya semua hal yang semu itu."


"Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan Muda," Syan akhirnya membalas ucapan Ats saking penasarannya. Ia tetap belum bisa menebak maksud pemuda itu sekeras apa pun ia berusaha.

__ADS_1


"Itu hanyalah filosofi yang sederhana," jawab Ats, "Di dunia yang sementara ini, segelanya fana. Ada hidup, ada mati. Ada siang, ada malam. Mereka silih berganti sesuai dengan kadar yang telah ditentukan untuknya. Syan, orang-orang terlalu sering melebihkanku. Mereka ingin aku meraih sesuatu yang berat dan merepotkan bagiku. Untung saja ada Kak Emir yang mau menggantikanku."


__ADS_2