
"Seperti yang diharapkan dari anak Keluarga Asir," ucap Master Khaled puas, "Kamu punya bakat yang bagus. Kenapa kamu malah lebih memilih jadi ilmuan yang membosankan itu? Padahal, kamu bisa dapat prestasi yang mengagumkan dengan bakatmu itu."
"Tidak, Master," Ats menggeleng tegas, "Di Keluarga Asir, saya masihlah biasa-biasa saja. Tuan muda dari keluarga utama lebih hebat dan lebih berbakat daripada saya."
"Ck, kalian bahkan selalu merendah begitu," Master Khaled berdecak sebal—yah, nggak terlalu sih, "Tahun lalu, aku juga punya murid berbakat dari Keluarga Asir sepertimu. Dia juga bilang bahwa sepupunya ada yang lebih berbakat daripada ia, padahal dia dari keluarga utama."
"Ah, pasti dia Tuan Muda Emir, kan?" tebak Ats spontan. Ia langsung mengingat kakak sepupunya yang ramah itu. Sebenarnya, Emir Asir juga memintanya untuk jadi perwira militer seperti Master Khaled, tapi Ats menolaknya dengan halus dan lebih memilih jalan ibunya.
"Yah, dia bilang sepupunya lebih berbakat," Master Khaled menuding Ats dengan jari telunjuknya, "Bukankah itu kamu?"
"Kami punya banyak sepupu yang berbakat, Master," sanggah Ats sopan, "Mungkin itu sepupu kami yang lain."
"Hais ...! Sudahlah! Itu tidak penting sekarang," Master Khaled kembali berkacak pinggang, "Aku sudah melihat kemampuanmu. Siapa sangka bocah sepertimu ini berani menusukku langsung yang merupakan seorang master? Aku kagum dengan keberanianmu itu. Ck, kalau saja mainan itu tidak ada, aku pasti bisa melihat hal yang lebih menarik."
"Haha ...," Ats tertawa kecil atas gerutuan gurunya. Ia tak menyangka bahwa Kepala Dewan Pengasuhan yang katanya galak itu punya sisi seperti ini. "Itu karena saya yakin bahwa serangan saya tidak akan mampu melukai seorang master praktisi zarahian kecuali Anda terlampau lengah, Master."
"Hm, benar," Master Khaled mengangguk setuju, "Harusnya, aku tak boleh membiarkanmu sampai menyentuh seujung pakaianku sedikit pun, tapi ternyata aku terlalu meremehkanmu. Lain kali, aku tak boleh seperti itu lagi. Ah, ya! Kamu tadi mau menggunakan teknik Zarahian, kan? Tunjukkan padaku!"
"Siap, Master," Ats menurut. Kedua tangannya disatukan dengan salah satunya mengepal. Ia pun membentuk ulang kuda-kuda. Dalam beberapa saat, tubuhnya perlahan menjadi transparan. Partikel-partikel zarah dalam tubuhnya mulai merenggang. Jika ada peluru atau tebasan pedang yang mengenainya, senjata itu pasti akan lewat begitu saja tanpa melukai sang praktisi sedikit pun. Itulah karakteristik utama Klan Zarah yang sering membuat klan lainnya kerepotan.
"Hm, cukup," Master Khaled mengangkat tangannya, "Kamu bisa beristirahat sekarang."
Partikel-partikel zarah Ats kembali menyatu seketika. Pemuda itu pun menghela napas panjang. Butuh banyak energi dan tenaga untuk melakukan dan mempertahankan satu teknik itu. Karenanya, ia jarang sekali menggunakannya kecuali di saat-saat genting.
"Hai, kalian!" bentak Master Khaled. Para murid yang baru saja mau bubar sehabis menonton pertandingan singkat tadi jadi tersentak. Mereka pun menoleh takut-takut kepada sang master.
__ADS_1
"Bukankah kalian akan ada tes masuk Kelas Zarah hari ini?" tanya Master Khaled dengan suaranya yang serak-serak basah dan mengerikan, "Di mana senior kalian?"
Anak-anak itu tak langsung menjawab. Mereka saling dorong-mendorong terlebih dahulu, baru kemudian salah satu di antara mereka maju menjadi jubir. Dengan suara yang bergetar, ia menjawab pertanyaan Master Khaled, "Me—mereka sedang ke luar sebentar, Ma—Mas—ter. Kami diperintahkan untuk menunggu sejenak."
"Hm, begitukah?" Master Khaled menyeringai dan dengan sadar menyebarkan aura intimidasinya. Anak-anak di depannya jadi tertegun kaku melihat itu. Sebenarnya, tidak semua dari mereka ingin mendaftar Kelas Zarah. Mereka datang karena katanya ada pertandingan seru di sini. Ketika mereka hendak pulang, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti.
"Oh, Master Khaled," sebuah suara mengalihkan Master Khaled dari anak-anak tahun ajaran baru itu. Dilihatnya seorang pemuda berwajah riang yang datang bersama beberapa kawannya. "Anda sudah selesai berlatih di sini. Mohon maaf kalau mengganggu. Adik-adik kami hanya berharap bisa mendapat pelajaran yang berharga dari Anda."
"Arka, kamu harus bisa mendidik anak-anak lembek itu dengan baik," ucap Master Khaled pada pemuda yang menyapanya, "Jangan sampai generasi muda Klan Zarah jadi 'tahu' seperti ini."
"Hm ...," pemuda yang dipanggil Arka tersenyum simpul guna menyembunyikan kegugupannya, "Te—tentu, Master. Mereka akan jadi praktisi zarahian yang terbaik di masa depan."
Ketika Master Khaled dan para murid senior itu sedang mengobrol, Ats memperhatikannya dengan seksama. Ia mengamati Arka yang paling menonjol di antara mereka. "Arselan, tolong identifikasi kakak senior yang paling depan itu."
"Identifikasi dimulai ...!" Arselan dengan tanggap menjawab. Ia menggunakan emotikon kucing detektif kali. Ekspresi yang ditunjukkannya terlihat sangat serius. "Obyek teridentifikasi!
Usia: 18 tahun
Status: Murid, Ahli Zarahian (menengah)
Afiliasi: Akademi Altair, Tim Beta Force
Level Ancaman: Lemah
"Sirius? Aku belum pernah mendengar marga itu," gumam Ats pelan, "Apa dia murid nonmarga? Kemampuannya pasti sangat tinggi karena ia seorang ahli."
__ADS_1
"Ats," panggil seorang murid yang akan mendaftar Kelas Zarah, "Kamu tadi ngapain?"
"Tes masuk kelas," jawab Ats singkat. Kawan-kawannya pun tertegun. Mereka tak menyangka sama sekali bahwa harus berduel dengan Master Khaled untuk bisa masuk ke Kelas Zarah. Melihat itu, Ats menggeleng dan memberi kabar baik, "Aku disuruh Profesor Han, jadi tesnya agak beda. Kalian nggak perlu khawatir kok."
"Benaran?" salah seorang dari mereka bertanya guna mengonfirmasi. Ia sudah berniat mundur karena merasa tidak mampu melawan Master Khaled. Ats pun mengangkat kedua bahunya dan berkata, "Coba tanya aja ke para senior!"
"Hai, apa maksudmu kamu beda?" tanya anak yang lain. Ada mimik curiga di bocah itu. Ia adalah Solar Efendi, salah satu pewaris utama dari Keluarga Efendi yang berkuasa atas salah satu wilayah di kekaisaran dan punya berbagai bidang bisnis.
"Aku disuruh buat masuk ke Kelas Zarah sama Profesor Han," jawab Ats malas. Ia menemukan tanda-tanda tak baik. "Makanya itu, Master Khaled sendiri yang harus mengujiku."
"Apa?" Solar tak begitu percaya, "Apa berarti beliau yang bakal jadi pelatihmu?"
"Yah, kurang lebih gitu," Ats mengangguk kecil. Dilihatnya Solar yang tengah berpikir keras. Ada aura persaingan yang memancar darinya, tapi Ats tak peduli dengan aura itu.
"Hai, cepat berkumpul di tengah!" salah seorang senior memanggil anak-anak baru untuk merapat. Rupanya, para senior sudah selesai mengobrol dengan Master Khaled. Mereka yang berniat untuk mendaftar pun masuk ke lapangan, sedangkan sisanya mencari kesempatan untuk keluar dari balai pelatihan.
"Ats, aku nggak bakal kalah dari kamu," ucap Solar sebelum ia pergi ke tengah lapangan, "Camkan itu!"
"Hm, terserah kamu," Ats tak peduli.
"Bocah Asir," panggil Master Khaled kemudian, "Ikut aku. Masih ada tes lainnya yang harus kamu hadapi."
"Baik, Master," Ats pun berjalan mengikuti sang master. Sebelum keluar dari balai pelatihan, ia melihat sekilas ke kawan-kawannya yang berbaris di tengah lapangan.
"Arselan, apa hari-hariku akan baik-baik saja setelah ini?" tanya Ats iseng. Arselan pun melakukan pemprosesan data secepat kilat. Tak lama kemudian, ia menjawab, "Semoga Anda baik-baik saja dan sehat selalu dalam berkah dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa."
__ADS_1
"Itu ...," Ats kenal dengan kata-kata tersebut, "Kamu ambil dari ucapan perpisahan, ya? Hais ... aku memang tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaan itu. Lagian, kamu juga nggak mungkin bisa meramal masa depan."