
Selama beberapa hari, seluruh murid yang lolos seleksi OSIS disibukkan oleh Panggung Pengangkatan, sebuah acara yang dilaksanakan setiap satu semester sekali. Mereka semua membangun sebuah panggung yang cantik untuk melaksanakan upacara pelantikan mereka sebagai anggota OSIS. Di panggung itu, mereka akan disumpah layaknya para pemimpin yang diberi amanah. Begitulah akademi-akademi di Kekaisaran Altair mendidik murid-muridnya dalam mengemban tanggung jawab.
Amir selaku presiden OSIS periode ini memimpin langsung acara itu, mulai dari persiapan sampai saat pengambilan sumpah. Sebagai orang nomor satu di OSIS, ia harus bekerja paling banyak untuk mendapatkan hasil sebaik-baiknya. Kesalahan sedikit saja akan menjadi tanggung jawabnya.
"Pada hari ini, kita akan memulai pelantikan anggota OSIS yang baru," kata Amir dalam sambutannya pada acara Panggung Pengangkatan. Matanya menyapu seisi aula yang luas. Aula ini diisi oleh para murid dari anak-anak tahun pertama sampai ketiga. "Semua calon anggota OSIS dipersilakan untuk berdiri."
Ats dan para murid menoleh ke barisan anak-anak berpakaian merah gagah yang berdiri tegap di barisan khusus. Para calon anggota OSIS itu terlihat amat keren nan berwibawa seolah ada bayang-bayang kehormatan yang menaungi mereka. Nama mereka pun dipanggil satu per satu ke panggung sesuai dengan komitenya masing-masing. Mereka semua berbaris di sana untuk disumpah.
"Jawab pertanyaan saya dengan tegas dan kompak," kata Amir sebelum mengambil sumpah mereka, "Apa kalian siap untuk mengabdi?"
"Siap!" jawab mereka serempak. Suaranya menggema hebat di aula. Ada aura khas yang memancar darinya. Itu adalah aura yang mengandung karisma.
Amir memberi beberapa pertanyaan lagi. Setiap pertanyaannya dijawab dengan penuh keseriusan dan ketegasan oleh para anggota OSIS yang baru. Mereka semua menyatakan kesiapannya untuk menjadi anggota OSIS yang terbaik. Di akhir sesi itu, Amir pun memberi instruksi sumpah, "Ikuti perkataan saya dengan tegas dan kompak."
Amir mulai membacakan sumpah. Para anggota OSIS yang baru pun mengikutinya dengan patuh. Acara berjalan dengan lancar sampai akhir. Para murid dan guru yang hadir memberi tepuk tangan yang meriah begitu sumpah selesai diteguhkan.
Kepala sekolah yang pun maju ke panggung dan menyampaikan amanat. Pidatonya sarat akan ilmu dan wejangan, tapi terlampau lama sampai membuat beberapa anak terlelap bagai diperdengarkan cerita pengantar tidur. Pidato yang terlalu lama itu malah membuat pesan yang disampaikannya memudar.
"Selamat," Ats menyalami Arjuna dan Solar yang tengah bersiap untuk memindahkan barang-barangnya ke asrama yang baru, "Kalian benar-benar jadi OSIS sekarang."
__ADS_1
"Heh," Arjuna berkacak pinggang, "Kamu tuh harusnya juga jadi OSIS."
"Aku nggak masalah kok," Ats menyungging senyum gembira, "Aku malah senang soalnya bisa lebih fokus ke penelitian."
"Tahun depan," Solar menepuk pundak Ats, "Kamu harus daftar lagi loh."
"Em ...," Ats menimbang-nimbang dalam hati sebelum menjawabnya. Ia pun berkata, "Aku jadi Dewan Perwakilan Murid aja deh nanti."
"Hm, boleh juga," Putu yang hadir di sana mengangguk setuju, "Aku juga harus coba nih buat daftar DPM."
"Hm," Solar mengangkat koper yang sudah selesai dirapikannya, "Selamat berjuang. Kamu jadi DPM, nanti kalau kita ada apa-apa, percepat aja, ya. Jangan lama-lama."
"Oh, kalau ada embel-embelnya pasti ada balasannya," jawab Ats iseng, "Khusus buat kamu, Jun, kalau misal ada apa-apa bakal kukasih bonus. Kita kan temen. Mungkin pengurangan biaya atau masalah birokrasi gitu."
"Lah, itu mah bukan teman," protes Arjuna. Ia menaruh baju terakhir ke kopernya. Matanya menatap Ats seakan bertanya-tanya, "Kamu kok kaku amat gitu sih?"
"Yah," Ats kembali menyunggingkan senyum senangnya, "Justru karena kita temen, aku nggak mau kamu kena kasus karena suap."
"Ih," Arjuna benar-benar menunjukkan wajah penuh tanda tanya sekarang, "Siapa juga yang mau nyuap?"
__ADS_1
"Kamu," balas Putu mengingatkan.
"Heh, dasar!" Arjuna mendengus sebal, "Bercanda, tahu?"
"Tahu kok," balas Ats, "Cuma jaga-jaga doang. Kita juga cuman bercanda. Iya kan, Put?"
"Ya," Putu mengangguk dengan senyum puas di wajahnya, "Jangan lupain kita, ya, kalau dah jadi OSIS."
"Ya, pastilah," balas Arjuna. Ia pun menyusul Solar yang sudah lebih dulu mendahuluinya pergi ke asrama baru.
***
"Seperti yang kujelaskan sebelumnya," ucap Profesor Han sebelum mengajarkan teknik yang dijanjikannya, "Teknik ini adalah salah satu teknik tingkat tinggi yang membuat Klan Zarah unggul dalam penelitian teknologi nano. Kita bahkan sudah mampu mempelopori pembuatan chip komputer super di masa lalu sebelum Skema Menghilang dari Bumi. Karena itulah kita selalu di depan pada bidang teknologi."
Teknik Penyusunan Partikel merupakan teknik yang dilakukan oleh orang-orang Klan Zarah yang sudah mampu mempertahankan wujud partikel mereka dalam waktu lama. Minimal, mereka bisa bertahan selama Ats melakukan akselerasi di semester pertama kemarin.Tak hanya itu, mereka juga harus bisa bergerak dengan bebas dan tetap berkonsentrasi.
"Mempelajarinya butuh kesabaran tinggi dan waktu yang lama," ujar Profesor Han, "Tapi, kalau kamu sudah terbiasa nanti, kamu bisa melakukannya semudah bernapas. Jadi, yang perlu kamu latih pertama kali adalah ketahananmu. Master Khaled pasti sudah mengajarkan satu dua trik untuk melakukan itu, bukan?"
"Ya, tapi saya belum bisa menguasainya dengan baik," jawab Ats jujur, "Em, Profesor. Bisakah Anda menunjukkan contoh penggunaan teknik itu."
__ADS_1
"Tentu," Profesor Han pun menunjuk sebatang logam yang solid. Ia meleburkan logam itu menjadi partikel-partikel kecil bersama tangannya. Sekejap kemudian, tubuhnya ikut melebur. Partikel-partikelnya bergerak dengan cepat dan teratur. Beberapa saat kemudian, tubuhnya kembali muncul dengan potongan-potongan logam di tangannya.