Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 035: Jaga Kesehatanmu dengan Baik


__ADS_3

"Ats, bukannya kamu sering sakit akhir-akhir ini?" tanya Putu heran. Seperti biasa, mereka sedang makan siang bersama di kantin sekolah. Lauk siang ini adalah tempe mendoan dan sayur asam, ditambah buah semangka segar.


"Eh, iya sih," Ats mengakuinya. Ia pun menyantap sesuap makan siangnya. Seperti kata Putu, ia memang sering sakit akhir-akhir ini. Itu karena Arselan sih. Pengendalian sistem itu tidaklah mudah.


"Kamu overaktif sih," Arjuna menanggapi, "Kelas tambahanmu itu kebanyakan kegiatan. Padahal, kamu baru ada penelitian sama profesor terkenal."


"Bukan gara-gara itu kok," Ats menggeleng. Ia mencuil mendoan di piringnya dan menyeruput lauk itu dengan nasi berkuah sayur asam. Rasanya nikmat dan segar di mulut. Akademi Altair telah mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan murid-muridnya.


"Iya, lah. mana mungkin praktisi ahli jatuh gara-gara capek," Solar ikut membantah, "Aku aja biasa-biasa aja kok meskipun ngambil Kelas Zarah lebih banyak dari dia."


"Yah, kamu kan beda," Arjuna menampik bantahan itu, "Tenagamu kan emang gak ketulungan. Lagian, aktifnya Ats itu lebih kepikiran. Nggak kayak kamu yang cuman pakai otot."


"Heh, apa?" Solar merasa tersinggung, tapi tak sampai marah. Arjuna pun hanya menyeringai kecil dan menjawab asal, "Bukan apa-apa kok."


"Oiya, kemarin Senior Salam dikeluarin dari akademi loh," kata Arjuna begitu mengingat tentang Salam Eden, "Kesalahannya emang fatal ternyata. Dia beneran memalsukan berkas data diri."


"Kamu cepet banget dapat kabar gosip kayak gitu," ucap Ats begitu selesai mengunyah makanannya, "Kayak emak-emak aja."


"Soalnya itu jadi topik utama di ruang obrolan Kelas Menambak semalam," jawab Arjuna enteng, "Tebakanku benar, kan? Katanya, dia beneran mata-mata."


"Ck, katanya sih katanya," ucap Putu dengan nada sarkastik. Dia orang yang mengedepankan otentikasi sumber informasi. Informasi yang berembel-embelkan kata ambigu seperti 'katanya/kabarnya' tak patut dipercaya, "Emangnya jelas gara-gara itu?"


"Loh? Beneran!" Arjuna tak terima dengan bantahan itu, "Kalau dia bukan mata-mata, buat apa dia memalsukan identitas?"

__ADS_1


"Itu kan spekulasi kamu!" kata Putu sok realistis, lalu menjawab pertanyaan Arjuna, "Bisa jadi dia nggantiin saudaranya atau mungkin ngambil jatah beasiswa kenalannya."


"Itu juga cuman spekulasi kamu," Arjuna dan Putu pun malah saling berdebat panjang, bahkan sampai selesai makan siang. Berbeda dengan Ats dan Solar yang bergegas ke asrama untuk mempersiapkan kelas tambahan siang ini.


"Hah ...!" Ats menghela napas dan membaringkan tubuhnya di kasur. Ia cukup kaget ketika mendengar kabar dari Arjuna tadi. Yah, walaupun ia sudah tahu bahwa Salam Eden memang akan dikeluarkan.


"Pasti ada orang dalam yang membantunya, kan?" gumam Ats menduga-duga, "Nggak mungkin dia bisa lolos dari seleksi berkas akademi yang ketat. Hais ...."


"Kamu ngapain sih?" tanya seorang pemuda pendek berkaca mata bulat. Ada janggut tiipis di dagunya. Ia adalah pemuda beraura cendekiawan, "Baru ada masalah, ya?"


Orang itu adalah Darwis Teyre, salah satu rekan Ats di Kelas Penelitian Ilmiah. Di antara para murid di sana, ia yang paling aktif. Ia bahkan digadang-gadang sebagai calon ilmuwan muda paling berbakat di generasinya.


"Hm? Nggak apa-apa kok?" Ats bangkit terduduk. Ia menggeleng pelan, memutuskan untuk tak memberi tahu apa pun pada bocah kutu buku itu.


"Ayo, berangkat," ajak Darwis, "Kelasnya dah mau mulai nih."


Berbeda dengan penelitiannya bersama Profesor Han yang berkaitan dengan teknologi mutakhir, kajiannya di Kelas Penelitian Ilmiah lebih ke penelitian sosial masyarakat. Ats yang tidak seaktif lainnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengkaji jurnal-jurnal yang kelas sediakan. Saat kelas dimulai, mereka akan membahasnya bersama.


"Kalian semua adalah calon sarjana muda!" seru seorang pria muda dengan penuh semangatnya. Ia memiliki aura yang mengebu-ngebu. Matanya bersinar cerah memancarkan optimisme. Senyumnya senantiasa terukir di wajah, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang periang dan ramah. "Pada sejatinya, seorang sarjana adalah orang yang memikul tanggung jawab besar atas ilmu yang dimilikinya, mengerti?"


Ats dan murid lainnya mengangguk. Mereka suka model penyampaian pria itu. Namanya adalah Sarjana Anshar. Suaranya jelas dan lantang. Ada daya pikat yang mengalir dari intonasinya. Dengan begitu, ia mengajak audiensnya untuk berpikir.


"Bagus! Sarjana bukan sekadar gelar kehormatan. Ia lebih tepat disebut tuntutan!" katanya dengan pandangan yang menyapu setiap sudut kelas. Ada belasan murid di sana. Tak ada yang tertidur. Berarti, kelas masih bisa dilanjutkan meskipun hawa siang hari lebih enak digunakan untuk rebahan.

__ADS_1


"Darwis," panggil Sarjana Anshar tegas dengan senyum yang tetap menghias bibirnya, "Coba jelaskan maksudnya!"


"Ekhem. Baik, Pak," Darwis berdeham sekali untuk meleburkan suara bergetar dari kegugupan dirinya. Setelah terjeda sesaat, barulah ia menjawab.


"Saat kita menjadi seorang sarjana, saat itulah keilmuan kita mulai diakui secara resmi. Pengakuan resmi itu mengandung tanggung jawab besar. Saat masyarakat telah melihat kita sebagai sarjana, saat itulah mereka tahu bahwa kita memiliki ilmu yang mumpuni dan dapat diandalkan. Mereka akan meminta kita untuk melakukan banyak hal seperti memecahkan masalah, mencari solusi, bahkan memimpin masyarakat."


"Darwis, izin interupsi," seorang anak beralis tebal mengangkat tangannya. Darwis pun mengangguk. Pada dasarnya, kelas ini akan lebih seru dengan diskusi dan adu argumen. "Silakan, Lan."


"Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sarjana tidaklah setinggi itu di mata masyarakat," kata pemuda bernama Lan itu. Ia memiliki mata yang sipit seperti Fang. Ada aura kecerdikan yang memancar darinya. "Saat ini, tidak sedikit sarjana yang menjadi pengangguran. Mereka bahkan cenderung individualis menurut sekelompok orang. Kalau cuman begitu, bukankah gelar sarjana ini tak lebih dari sekadar hiasan. Bagaimana mungkin kita memimpin masyarakat kalau begitu?"


"Itu tidak salah, Lan," Sarjana Anshar menanggapi langsung, "Memang tak sedikit sarjana yang jatuh setelah kelulusannya. Bahkan sekelas magister dan doktor pun masih ada. Kalian tahu? Dulu, ada seorang magister yang meminta pemerintah untuk melegalkan hukum bunuh diri. Dia bukan orang biasa. Di depan namanya ada gelar magister. Namun, dengan gilanya ia menyarankan hukum yang bodoh dan tidak bisa diterima."


"Bagaimana tanggapan pemerintah, Pak?" tanya salah seorang audiens.


"Tentu pemerintah menolaknya. Depresi telah membuat megister itu berputus asa untuk hidup. Ia dan orang-orang sepertinya tidaklah sedikit. Mereka adalah orang-orang yang gagal memikul tanggung jawabnya. Di sisi lain, tak sedikit pula sarjana yang berkontribusi besar di tengah masyarakat meskipun dalam hal-hal yang simpel seperti mengatasi masalah di kehidupan sehari-hari."


Diskusi pun mengalir. Orang-orang di kelas dengan alami mengemukakan pendapatnya. Sambil mendengar keseruan diskusi mereka, Sarjana Anshar akan sesekali mengoreksi atau menjawab pertanyaan yang sulit. Di tengah diskusi itu, materi kelas tersampaikan dengan mulus.


"Hais ... tugas lagi," keluh Ats begitu Kelas Penelitian Ilmiah selesai. Ia langsung mengecek pesan yang masuk kepadanya. Ada beberapa jurnal yang harus ia baca sebelum kelas berikutnya diadakan minggu depan.


"Itu kan konsekuansi," balas Darwis yang mendapat tugas lebih banyak dari lainnya, tapi tidak mengeluh sama sekali. Tak hanya membaca, ia juga dituntut untuk rutin menulis jurnal. Setiap minggu, jurnalnya akan dikoreksi oleh Sarjana Anshar. Saat jurnal itu selesai, jurnal lainnya akan menanti. Ia bahkan sudah dimintai tolong untuk membantu pembuatan jurnal laporan sebuah perusahan besar. Hebatnya, ia bisa melakukan semua itu dengan baik.


"Aku emang suka tantangan kok," kata Darwis ketika Ats memujinya. Baginya, itu bukanlah hal yang hebat sebagaimana Ats menganggap dirinya biasa saja meskipun faktanya ia adalah seorang praktisi zarahian muda tingkat ahli.

__ADS_1


"Yah, pokoknya tetap semangat," Ats tersenyum kecil, "Jaga kesehatan juga. Jangan sampai ambruk karena kebanyakan kerja."


"Bukannya itu kamu?" Darwis menatap Ats dengan heran. Ats pun tertawa hambar. Ia tak bisa menyangkal hal itu.


__ADS_2