
Hari Ke-6 liburan semester ...
Orang-orang ramai berkumpul di salah bendara terbesar di Pulau Reda, termasuk Ats, Master Aruj, bahkan Kepala Keluarga Asir. Mereka menantikan salah satu tamu penting yang akan datang kali ini. Meskipun Kepala Keluarga Ats agak sebal dengan pemberitahuan yang mendadak, ia tetap akan menyambut tamu pentingnya dengan baik.
"Itu mereka," gumam Ats berpaling dari gawainya. Dilihatnya sebuah pesawat imperial yang mendarat vertikal dengan mulus di bandara. Pesawat elit yang megah itu dikawal empat pesawat penjaga termutakhir.
"Selamat datang di Pulau Reda, Pangeran," sambut Kepala Keluarga Asir diikuti anggota keluarga lainnya. Mereka semua menunduk hormat dengan kompak. Itu adalah etika dasar yang ada dalam dunia aristokrasi Kekaisaran Altair Raya.
"Terima kasih atas sambutan Anda, Tuan Besar Asir," balas seorang pria paruh baya yang amat tersohor kecerdasannya. Ia mengenakan pakaian resmi khas kekaisaran yang berwarna merah darah. Berbagai ornamen indah tersulam di dadanya. Itu menambahkan aura kewibawaan yang memancar dari tubuh sang pangeran.
"Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda setelah sekian lama," Kepala Keluarga Asir bangkit, begitu pula keluarganya, "Sudah lama saya tidak melihat Anda dengan pakaian glamor seperti itu."
"Profesor Han," gumam Ats ketika menatap pangeran yang tengah berbincang dengan Kepala Keluarga Asir. Pandangannya pun menyapu ke arah lain. Ia mencari sosok yang harusnya datang bersama sang profesor itu.
Lama menunggu, tak tampak juga sosok yang dicarinya, bahkan sampai seluruh rombongan kekaisaran keluar dari pesawat imperial. Begitu juga rombongan dari Keluarga Asir—para murid yang sekolah di ibu kota—yang kebetulan diminta untuk bergabung dalam pesawat itu. Ke mana pun Ats menoleh, ia tak juga menemukan sosok itu. Pada akhirnya, ia pulang tanpa sempat melihatnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" gumam Ats selama perjalan. Ia pun menatap ke luar mobil. Perasaannya sedang tidak enak saat ini. Karena itulah ia memutuskan untuk menelepon salah satu kontak teratasnya.
"Halo," sapa Ats pada orang di seberang telepon, "Bibi."
"Ats!" seru Dokter Razana dengan gelagak cemas di sana, "Pas sekali. Aku baru mau meneleponmu."
__ADS_1
"Kenapa?" Ats penasaran. Firasatnya pun semakin buruk. Ia tak ingin dugaannya benar-benar terjadi.
"Ayya," jawab Dokter Razana. Suaranya terdengar panik. Itu membuat Ats mengepalkan tangannya.
"Cepat ke Rumah Sakit Pusat Kota sekarang!" titah Dokter Razana, "Kamu harus datang secepatnya."
"Bibi sudah di sana?" Ats terheran. Ia bahkan belum melihat bibinya itu keluar dari pesawat imperial. Apa pesawat mereka berbeda?
"Pokoknya cepat datang!" desak Dokter Razana, "Nanti aja ceritanya."
"Hm," Ats mengangguk meskipun Dokter Razana tak menyaksikannya sama sekali. Ia pun memerintahkan sopir yang mengantarnya, "Pak, berangkat ke Rumah Sakit Pusat sekarang!"
"Eh?" si sopir cukup terkejut, tapi ia tetap mengikuti perintahnya, "Oke, Den."
"Adikku," jawab Ats dengan ekspresi serius yang tak sabaran. Zen baru pertama kali melihat sapupunya itu begitu. Biasanya, bocah itu amatlah tenang dan kepala dingin.
"Kamu punya adik?" Zen tak pernah mendengar kabar itu sebelumnya. Sejauh pengetahuannya, Ats adalah anak tunggal yang kesepian sejak kedua orang tuanya meninggal.
"Hm," Ats mengangguk kecil menjawab pertanyaan itu, "Maaf, ya. Kamu jadi pulang telat."
"Eh," Zen mengedipkan matanya, "Nggak apa-apa kok."
__ADS_1
Mereka sampai di tempat tujuan dalam waktu kurang dari lima belas menit. Di halaman rumah sakit yang luas, Ats melihat salah satu kendaraan imperial yang terparkir di tempat khusus. Kendaraan itu sudah menjelaskan pertanyaannya di perjalanan tadi.
Sesampainya di aula, Ats langsung menelepon bibinya lagi. Ia harus segera menuju ke ruang periksa adiknya. Meskipun ia belum lama berkomunikasi langsung dengan gadis itu, ia tetap merasa sangat khawatir. Bagaimanapun juga, Ayya adalah adiknya.
Zen yang melihatnya hanya dapat menatap dengan aneh. Ia mengikuti saja ke mana pun Ats pergi. Sesekali, ia memperhatikan kanan dan kiri untuk memeriksa nama dari ruangan yang ada. Barangkali itulah ruangan yang sepupunya cari.
"Ini dia," Ats berhenti di depan salah satu pintu ruang VIP. Di atas pintu itu ada sebuah papan nama bertuliskan "Melati 3". Itu adalah ruang yang Dokter Razana beri tahukan.
"Hm?" Zen mendapati ponselnya berdering. Ia pun mengankat panggilan itu sebelum masuk ke dalam ruangan, sementara Ats mendahuluinya. Saat melihat nama penelepon itu, wajahnya berubah pasi.
"Bibi," Ats memanggil seorang wanita yang menunggu di dalam kamar. Saat wanita itu menoleh, ternyata ia bukanlah Dokter Razana. Bocah Asir itu pun jadi kikuk dan gelagapan. Ia merasa telah masuk ke ruang yang salah.
"Kamu Tuan Muda Asir, kan?" tanya wanita itu sebelum Ats sempat meminta maaf dan pamit untuk keluar.
"Ya, saya putra dari Keluarga Asir," jawab Ats setengah lega. Dilihatnya wanita itu memiliki mata merah ruby yang cantik. Kepalanya tertutup oleh kerudung yang besar. Ia menyunggingkan senyuman simpul kepada Ats.
"Syukurlah kamu sudah datang," kata wanita itu, "Ayya sudah menunggumu."
Ats menatap arah tangan wanita itu menunjuk. Ia pun melihat sebuah ranjang yang di atasnya ada seorang gadis kecil. Gadis kecil itu berbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
"Ayya," gumam Ats sembari mendekati gadis itu. Saat ia sampai tepat di samping ranjang, Ayya membuka matanya. Putri kecil itu tersenyum halus pada sang kakak yang akhirnya dapat ia temui.
__ADS_1
Entah perasaan apa yang membuncah dalam hatinya, Ats meneteskan air matanya tanpa sadar. Ia berdiri terpaku melihat sosok adiknya yang tersandera oleh penyakit mengerikan.
"Kakak," panggil Ayya lembut, "Jangan menangis. Kakak sudah besar."