
"Ay, kakak pergi dulu, ya," kata Ats pamit. Ia mengantar Ayya sampai di depan gerbang Istana Tulip Emas sebelum kembali ke Akademi Altair. Putri Elnara, Hafiza, dan beberapa orang pelayan menyambut di sana.
"Kakak," panggil Ayya. Tangannya menggenggam lengan Ats kuat-kuat. Gadis itu menatap kakaknya dengan sendu. "Jangan pergi."
"Kakak harus pergi," Ats menyimpulkan senyum. Ia tak mungkin menuruti Ayya sekarang. Perhatian padanya memang penting. Akan tetapi, terlalu memanjakannya juga tidak baik. Ada saatnya harus berkata tidak. Lagi pula, keseharian Ats di akademi akan segera dimulai.
"Tapi—" Ayya tetap berusaha memaksa. Ia pun menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak sedih. Melihat itu, Putri Elnara mendekat dan menghiburnya.
"Sudahlah, Ayya," kata Putri Elnara, "Kamu kan bisa ketemu sama kakakmu lagi waktu liburan nanti."
"Janji, ya," tuntut Ayya, "Aku pulang ke rumah Kakak Ats lagi waktu dia liburan nanti."
"Iya, asal kamu sehat," balas Putri Elnara penuh pengertian, "Ayya kan anak yang kuat."
Ats pun pergi ke akademi setelah Ayya mau merelakannya. Ia harus baik-baik memperhatikan kondisi adiknya itu. Kalau tidak, ia mungkin akan sangat menyesal di masa depan nanti.
"Ats, apa kamu sedih?" tanya Dokter Razana di perjalanan menuju ke akademi. Ia duduk di kursi depan bersama Ats yang menyetir mobilnya. Pandangannya menatap gedung-gedung megah yang mencakar langit di sekitarnya.
"..."
Ats tak langsung menjawab pertanyaan itu. Bohong kalau ia bilang tidak. Setelah bertemu dengan adik kandungnya itu, ia merasa tak pernah ingin meninggalkannya lagi. Apalagi gadis itu sangat lemah dan mudah sakit.
"Ya," jawab Ats datar. Pandangannya tetap perhatikan jalan di depan. Air mukanya bergetar oleh kerinduan. Setiap kali melihat Ayya di hatinya, ia selalu teringat dengan ibundanya. Itu membuatnya meneteskan air mata tanpa sadar sama sekali.
__ADS_1
"Fokuslah," Dokter Razana mengingatkan.
Ats sedikit tersentak mendengarnya. Detik kemudian, ia merasakan sentuhan sang bibi yang menghapus air matanya. Pemuda itu pun menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Sebelum mentari terik di atas kepala, Ats sampai di akademi. Ia pun memarkirkan mobil bibinya, lalu langsung pamit pada sang bibi dan mengangkat barang-barang yang perlu ia bawa ke asrama.
Ada absen yang harus diisi sebelum memasuki asrama. Ats harus melewati beberapa stan pemeriksaan untuk dapat mengisi absen itu. Stan itu digunakan untuk memastikan murid-murid akademi tidak membawa barang-barang terlarang.
"Semua aman," kata seorang senior yang menjaga stan pemeriksaan. Ia adalah murid tahun kelima. Selama liburan, ia menetap di akademi untuk melakukan pelatihan tertentu.
"Terima kasih, Senior," Ats pun segera mengisi daftar kehadirannya. Pengisian absen itu menggunakan teknologi biometrik. Kehadiran Ats langsung masuk ke basis data begitu ia menyelesaikan prosesnya.
"Kamu sudah datang," sebuah suara yang sangat Ats kenal menyambutnya. Ia pun menoleh dan mendapati Solar di sana.
"Ya," jawab Ats singkat. Dilihatnya Solar yang terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Sepertinya, dia benar-benar latihan keras selama liburan ini. "Kamu datang kapan?
"Kemarin," jawab Solar. Dia pun duduk di sofa aula yang empuk, lalu memainkan gawainya.
"Semester ini, kita sudah bisa masuk ke OSIS," ucap Ats setelah ia selesai membereskan barang-barangnya di kamar, "Kamu tertarik buat ikut nggak?"
"Aku bakal ikut nanti," jawab Solar enteng, "Senior Fang sudah kasih tiket ke aku."
"Hm? Emang ada yang begituan?" tanya Ats. Sejauh pengetahuannya, anggota OSIS dari murid tahun pertama akan diseleksi dengan ketat terlebih dahulu. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.
__ADS_1
"Ada," jawab Solar percaya diri, "Karena aku yakin aku pasti bisa terpilih."
"Oh," Ats manggut-manggut pelan.
"Kamu sendiri?" tanya Solar kemudian, "Mau ikut daftar OSIS?"
"Em ...," Ats berpikir sejenak. Berorganisasi adalah hal yang penting dalam pendidikan. Dengan berorganisasi, pastilah ada pengalaman menarik yang didapat. Masalahnya, Ats sudah sangat sibuk dengan penelitiannya bersama Profesor Han. Mulai semester kedua ini, mereka akan mulai melanjutkannya kembali terlepas dari penentangan keras Dokter Razana.
"Mungkin iya," jawab Ats yang belum disertai dengan keyakinan, "Aku harus cari yang berimbang sama aktivitasku. Toh, kalaupun belum bisa masuk OSIS, kita masih bisa coba buat ikut Bedan Eksekutif Akademi di semester tujuh nanti."
Ada perbedaan besar antara OSIS dan BEA. Lingkup kerja OSIS hanya terbatas dalam lingkungan sekolah dan dipegang oleh para murid tahun ketiga ke bawah. Jangkauan yurisdiksi mereka pun hanya sebatas murid-murid yang setara atau di bawah mereka. Berbeda dengan BEA yang menguasai setiap lini akademi.
BEA juga memiliki struktur organisasi yang lebih kompleks meliputi berbagai hal. Mulai dari keseharian para murid sampai pengawasan sosial masyarakat dan pemerintah. Mereka bisa saja dianggap sebagai oposisi dari pemerintah saat adanya suatu masalah pada kebijakan yang mereka terapkan.
"Hais ... harus ikut OSIS dong," Solar menepuk pundak Ats pelan, "Kalau catatan keaktifanmu di OSIS bagus, kamu bakal punya kesempatan yang lebih buat masuk BEA."
"Yah, jalani aja dulu," jawab Ats ringan, "Nanti coba daftar dulu deh. Kalau nggak keterima, ya udah. Aku malah bisa fokus penelitian kalau begitu."
Solar memandang Ats dingin. Ia merasa harus berpikir ulang untuk menjadikan sahabatnya ini sebagai seorang rival. Setelah latihan panjang selama liburan ini, ia merasa teknik zarahiannya sudah lebih baik dan pasti bisa mengalahkan Ats. Melihat tak ada perubahan berarti dari diri bocah Asir itu, ia ingin sekali menguji kemampuannya.
"Ats," panggil Solar, "Lawan aku."
"Ha? Apa?" Ats menatap Solar aneh. Jelas ia bingung sebab Solar tiba-tiba menyuruhnya untuk melawan. Melawan bagaimana?
__ADS_1