
Kunjungan ke bukit belakang yang singkat itu berlalu dengan cepat. Anasiya lebih banyak bergaul dengan gadis-gadis seusianya dari keluarga kekaisaran selama liburan itu. Bagaimanapun juga, ini adalah momen yang tepat untuk mendekatkan diri dengan orang-orang yang terpandang sejak lahir.
Begitu sampai di kamarnya, Anasiya langsung mendapat surat lagi. Itu adalah surat yang dikirim oleh Zen. Isinya bukan undangan bertemu yang sama seperti sebelumnya, melainkan sesuatu yang sangat serius dan belum sempat diutarakan oleh tuan muda itu di pertemuan yang lalu.
"Andai dia mengatakannya lebih cepat," gumam Anasiya begitu membaca surat yang ditulis dengan cap resmi itu, "Aku mungkin akan memikirkan lebih cepat juga."
Anasiya mengirim surat balasan dengan segera. Karena ini surat 'proposal' resmi, ia pun harus mengirim balasannya dengan resmi juga. Ia membubuhkan rencana masa depannya juga di sana.
"Aku ingin menunggu untuk saat ini," kata Anasiya sembari mengingat kata-kata Ats yang didengarnya di bukit belakang tadi, "Meskipun perasaan itu bisa berubah kapan saja, aku tetap ingin menunggu. Aku pasti akan mendapatkan yang terbaik untukku kelak."
Anasiya menuliskan bahwa ia ingin fokus pada studinya alih-alih memikirkan pernikahan. Karena itu, ia tak bisa menerima proposal lamaran Zen sekarang. Ia meminta pemakluman dari pemuda itu..
Selain itu, ia juga menulis satu surat untuk orang lain setelah berkali-kali meyakinkan dirinya. Ia tak tahu bagaimana respon penerima surat keduanya itu nanti. Ia hanya berharap agar mendapatkan masa depan terbaik untuk dirinya.
"Ini—" gumam Anasiya. Kedua suratnya sedang dalam perjalanan sekarang. Surat itu dikirim langsung tanpa perangkat nirkabel demi menekankan formalitasnya meskipun berisi pesan pribadi. "Yang terbaik, 'kan?"
Anasiya pun menutup matanya. Hari itu berlalu dan masanya untuk tinggal lebih lama di Perguruan Zarahian Asir telah habis. Ia harus segera kembali pada keluarganya.
***
"Dia menunggu Kakak," kata Ayya dengan suara cemprengnya, "Kak Ana denger yang kemarin, ya?"
__ADS_1
"Iya sih," Ats tersenyum hambar, "Kayaknya."
Pemuda itu pun menaruh surat yang diterimanya, lalu mengirim pesan balasan lewat gawainya. Itu lebih simpel daripada cara Anasiya, tapi memiliki kesan yang berbeda.
Inti balasannya, ia tak bisa menjanjikan apa pun pada gadis itu. Ia hanya ingin fokus. Namun, fakta bahwa ia memiliki kesan dengan Anasiya memang tak terbantahkan. Andai perasaan itu bisa bertahan, ia mungkin akan benar-benar datang selepas studi pertamanya usai nanti. Di paragraf terakhir, pemuda itu membubuhkan, "Andai ada orang baik yang datang mendahului saya, maka terimalah ia dengan sebaik-baiknya."
Kalimat itu menyatakan bahwa ia tak ingin memiliki perasaan yang terlalu mengikat di antara mereka satu sama lain. Karena itu, ia menutup semua komunikasi dengan Anasiya sampai waktu membukanya kembali tiba. Saat waktu itu sampai, mungkin akan ada banyak hal yang berubah, bahkan perasaan di antara keduanya sendiri. Namun, ia yakin bahwa mereka akan mendapat takdir yang terbaik.
Hari itu adalah H-3 sebelum kembali ke asrama. Zagan dan Arie kembali setelah menghadiri undangan Master Sauka. Mereka tak mendapatkan banyak informasi selain organisasi yang menaungi master itu. Inti pertemuannya, sang master ingin mengundang Ats untuk bergabung bersamanya.
"Biarin aja deh," Ats tak berniat untuk menerima ajakan itu sama sekali, "Kalian aja yang ambil. Kode di undangan itu pasti berguna, 'kan?"
"Jadi," Ats menatap Zagan dan Arie bergantian, "Tugas kalian akan selesai bersamaan usainya liburan ini, 'kan?"
"He'em," Arie mengangguk kecil, "Terima kasih atas kerja samanya. Ini adalah uraian dari pengamatan kami. Coba kamu koreksi. Barangkali ada salah paham atau typo catatan yang tidak tepat di sana."
Ats pun menerima file yang Arie berikan. Di Pulau Reda ini, Tim Ulu juga bertugas untuk melakukan pengamatan lingkungan selain menjaga Ats. Apa yang mereka hadapi adalah perang pemikiran. Itu adalah tak kasatmata yang terjadi sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu. Seseorang bisa jadi terkena imbas dari perang itu tanpa mereka sadari.
"Sejauh ini tak ada masalah," ucap Ats begitu selesai membaca ringkasan dari uraian itu.
Bagi Tim Ulu yang dikirim oleh pihak Iskandar, tugas mereka adalah memastikan apa yang ada dalam kepala Ats. Tidak masalah bocah itu tak berpihak pada Pangeran Kedua. Selama pikirannya "lurus", tugas mereka bisa dianggap sukses.
__ADS_1
"Ats," panggil Zagan ketika ia memikirkan goal dari misinya, "Apa pendapatmu mengenai Altalimain?"
Altalimain terkenal sebagai destinasi wisata terbaik di kekaisaran. Di sana, berbagai macam hiburan dibuka setiap harinya. Kota itu adalah tempat paling ramai selama masa liburan. Di sisi lain, tempat itu juga menjadi basis pemikiran yang diwaspadai oleh pemerintah.
"Altalimain ramai," jawab Ats objektif, "Seperti kata orang, tempat itu memang cocok untuk bermain-main, tapi tidak cocok untuk mereka yang selalu 'berpikir' dengan serius seperti para cendekiawan."
"Hm," Zagan menyunggingkan senyumannya, "Aku mengerti. Dengan begini, dia pasti bisa bernapas lega. Oiya, wali kota dan Nona Anasiya menitipkan salam padam."
"Oke," balas Ats singkat.
"Hai," panggil Arie, "Wali kota sedikit kecewa denganmu loh. Ia pikir, kamu akan mampir ke kotanya selama liburan ini."
"Aku tahu," jawab Ats, "Aku sudah mengirimkan pesan dan permohonan maaf padanya."
Ats menatap kedua pemuda itu dengan datar, lalu menghela napas hambar. Begitu kedua agen itu pergi, ia mengambil gawainya. Dicarinya sebuah kontak seseorang yang sangat penting. Ia pun menulis pesan kepada orang itu.
"Anda tidak perlu merisaukan apa pun. Sejak dulu, Keluarga Asir senantiasa memperhatikan esensinya sebaik mungkin, sedangkan saya adalah orang yang memegang kuat asas itu."
"Arselan," panggil Ats kemudian, "Cari segala informasi terkait Kota Altalimain, terutama pemimpin dan kondisi sosial di sana."
"Baik, Tuan," jawab Arselan tanggap, "Pencarian dimulai."
__ADS_1