
"Bukankah sudah jelas?" Profesor Surya menatap murid berkacamata itu dengan tajam, "Kita pasti akan terkena dampak yang besar. Orang-orang Klan Zarah akan mati baik karena ledakan hulu ledak nuklir ataupun radiasinya. Itu adalah bencana yang sangat besar."
"Bukannya ada tabir benua yang bisa meminimalisasi dampak ledakan nuklir itu?" tanya siswa lain yang kemudian langsung dibalas dengan gelengan tegas oleh Profesor Surya, "Tabir itu memang kuat dan efektif untuk menahan serangan rudal konvensional tingkat menengah, tapi beda halnya dengan nuklir. Apalagi jumlahnya sangat banyak saat itu. Tercatat ada dua hulu ledak nuklir yang diluncurkan ke ibu kota. Andai kita tak menghindar, itu berarti kehancuran."
"Kalau seandainya Klan Zarah tidak diserang dengan nuklir, apa kita akan tetap berada di permukaan bumi?" tanya Ats kemudian. Ia selalu penasaran dengan bentuk permukaan bumi yang asli. Jika dilihat dalam gambar, sepertinya memang tak berbeda jauh dengan tatanan geografis di pulau-pulau konstelasi Klan Zarah yang senantiasa mengorbit bumi tanpa terlihat sejak ratusan tahun lalu.
Namun, ada tempat-tempat tertentu yang tak ada di konstelasi dan tak mampu ditiru oleh para insinyur Klan Zarah secerdas apa pun mereka. Ats ingin sekali berkunjung ke sana. Andai Klan Zarah tidak meninggalkan permukaan bumi, pasti perjalanan itu akan lebih mudah, kan?
"Kita akan tetap meluncur ke angkasa," jawab Profesor Surya yakin, "Penelitian skala besar untuk menerbangkan benua itu telah diadakan sejak lama oleh para leluhur Klan Zarah. Kalaupun Klan Vyro tidak menyerang kita, Klan Zarah akan tetap melaksanakan misinya. Yah, meskipun mungkin akan bertahap dan memakan waktu yang lebih lama. Oh, ya! Ada mungkin konstelasi tak akan terbentuk seperti sekarang bila kita meluncur ke angkasa secara bertahap. Keberadaan pulau-pulau mengapung pun mungkin akan diketahui oleh klan lain sehingga penguasaan angkasa tak hanya menjadi milik Klan Zarah. Itu sangat mungkin menimbulkan pertentangan baru antarklan."
"Lalu, jika perang antarklan itu tetap terjadi, sedangkan kita tidak menjadi korban pertama, apa kita juga akan terseret ke dalam perang itu?" tanya Ats lagi, "Bukankah kita klan yang terhormat dan disegani dulu?"
"Perhatikan bab sebelumnya," kata Profesor Surya sembari membuka Bab Hubungan Internasional Praskema. "Kekaisaran Altair memiliki hubungan yang dekat dengan aliansi dari Kaum Elemental. Seperti katamu, kita juga merupakan klan yang disegani oleh Kaum Aklali saat itu, bahkan Elemental. Seandainya Benua Altair tidak diserang dengan nuklir oleh Klan Vyro, kemungkinan besar kita akan ikut berperang dengan aliansi sehingga Klan Vyro akan lebih kerepotan, bahkan mungkin tak dapat bertahan selama yang sebenarnya terjadi."
Ats manggut-manggut. Meskipun ada catatannya di buku elektronik, ia memutuskan untuk mencatat ulang materi itu. Lagi pula, ada ilmu-ilmu lain dari Profesor Surya yang tak tercatat di buku elektronik. Pemahamannya pun akan jadi lebih baik dengan begitu.
Pelajaran sejarah berlangsung dengan cepat tanpa terasa. Kebanyakan murid menunjukkan keaktifannya, tapi tetap saja ada yang tak kuasa menahan kantuk dan tertidur dengan posisi kamuflase duduk cantik sehingga tak tampak tertidur sama sekali. Itu adalah keahlian para murid di akademi.
"Jun, bangun, Jun," Ats menggoyang-goyangkan pundak Arjuna. Kawannya yang selalu bercelak itu pun tersentak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya guna mempercepat penghimpunan jiwa. Sejenak kemudian, pemuda berwajah kusut itu menghela napas penuh penyesalan. Hais ... lagi-lagi tertidur di jam pelajaran sejarah, padahal ia ingin belajar dengan serius.
"Kamu nggak apa-apa tuh?" tanya Ats begitu melihat Arjuna yang bersandar lesu di tempat duduknya. "Wajahmu kusut banget gitu."
"Nggak apa-apa, kok," jawab Arjuna lemas, "Cuma kesemutan aja."
"Oh," Ats pun pamit ke luar duluan. Ada yang mau ia makan di kantin. Arjuna pun titip makanan padanya sebelum ia meninggalkan kelas. Pemuda bercelak itu sedang mager sekarang.
__ADS_1
***
"Yo, Ats," panggil sebuah suara yang khas, "Gimana kabarmu? Jarang banget kelihatan akhir-akhir ini."
"Senior Fang?" Ats menoleh dan mendapati seorang pemuda bermata sipit yang memanggilnya, "Ah, baik sih. Cuman ... sibuk banget akhir-akhir ini."
"Oh, aku dah denger rumornya," Fang tertawa kecil.
"Apa?" Ats tidak mendengar kata terakhir dengan jelas.
"Bukan apa-apa," Fang menggeleng dan membagikan senyumnya yang ramah, "Gimana penelitianmu sama Profesor Han? Seru, kan?"
"Seru," jawab Ats yang sedang memilih jajanan di etalase, "Yah, gara-gara itu aku jadi sibuk sih."
"Haha," Fang menepuk pundak Ats sampai adik tingkatnya itu tersentak, "Semangat, Ats. Hidup itu pasti banyak ujiannya."
"Kamu mau ikut ke Altalimain lagi, nggak?" tanya Fang menawarkan, "Aku mau ke sana pas akhir pekan nanti."
"Hah? Emangnya bisa?" Ats terheran. Di Akademi Altair, sangat jarang murid-muridnya ke luar. Semua kebutuhan sudah tersedia di sana. Karena itu, ada ambang batas kepergian yang ketat. Para murid hanya diperkenankan ke luar akademi setiap tiga bulan sekali. Itu pun dalam waktu yang sangat pendek untuk kuartal pertama dan ketiga. Mana mungkin mereka bisa keluar lagi akhir pekan nanti?
"Ada deh," Fang menjawab dengan nada yang mencurigakan, "Aku kasih tahu kalau kamu mau ikut."
"Nggak, ah," Ats menggeleng. Ia tak ingin terlibat masalah lagi dengan seniornya itu. Palingan ke Altalimain untuk kepentingan OSIS, kan? Lebih baik ia fokus pada keseharian akademinya yang sibuk.
"Oke, bilang aja, ya, kalau berubah pikiran," Fang melambaikan tangannya dengan senyum riang saat Ats pamit pergi. Ketika tubuh Ats mulai menghilang di tengah kerumunan murid, senyuman itu berubah menjadi seringai. Ia pun berpaling dan pergi kembali ke posnya.
__ADS_1
***
"Pastikan kedua matamu tetap terbuka saat membidik target!" seru instruktur yang mengampu Kelas Menambak, "Jaga ketenangan kalian. Hai, Kamu! Jangan sampai tanganmu gemetaran begitu! Pegang senapanmu dengan benar!"
Bentakan itu membuat para murid baru tersentak. Mereka pun buru-buru memperbaiki pegangan. Termasuk Arjuna yang ada di tengah mereka.
Pemuda bercelak itu menghela napasnya pelan. Ia memegang senapan di tangannya dengan tenang seperti perintah instruktur. Kedua matanya membidik target tanpa berkedip. Ia sudah pernah mempelajari teknik menembak ini dulu.
"TEMBAK!" seru instruktur lagi. Para murid pun menekan pelatuk. Suara tembakkan yang keras serentak terdengar bak puluhan guntur di siang bolong.
Dalam sekejap, puluhan peluru meluncur dari moncongnya. Target-target yang terpasang di depan seketika berlubang, tapi ada juga yang tidak karena peluru tak mengenai sasaran.
"Ck! Apa kalian hanya bermain-main, hah?" instruktur kembali membentak, "Kenapa hanya tiga sasaran yang tepat? Apa kalian tidur saat kujelaskan tadi?"
Tak ada yang menjawab. Semua murid di ruang latihan itu menekuk wajah, segan pada sang pelatih yang galak, bahan takut. Sebagian dari mereka berusaha mati-matian agar tak terlihat gemetaran di sana.
"Instruktur Mus," panggilan seorang pria berjanggut tipis menyibak keheningan, "Sudahlah. Lagian, mereka masih murid baru. Kamu terlalu galak pada mereka."
"Hah, ini bukan urusan Anda, Kapten Tom," Instruktur Mus menatap dingin orang yang memanggilnya, "Aku tidak akan bersikap lembek meskipun pada bocah-bocah cengeng seperti mereka."
"Pfht!" Kapten Tom hampir tertawa, "Kamu memang tidak berubah, Instruktur. Mulut siletmu itu selalu tajam."
"Heh, enyahlah kalau tak ada urusan di sini!" Instruktur Mus berpaling. Kapten Tom pun mengerutkan kening. Ia mengedipkan matanya sekali, lalu tersenyum maklum dan duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir ruang latihan. "Yah, aku hanya ingin melihat-lihat sekaligus bertemu teman lama. Kuharap, ia ada waktu setelah ini."
"Geh, terserah kau!" Intruktur Mus pun kembali fokus pada anak-anak baru yang sedang diujinya.
__ADS_1
Arjuna diam-diam mencuri pandang untuk melihat sosok bernama Kapten Tom itu. Ia merasa tak asing dengan suaranya, tapi tak ingat siapa pemiliknya. Sepertinya, ada yang familiar dari pria berjanggut tipis itu.