
"Hai, kita mendapat kejutan pada Arena tahun ini," ucap Ari dengan wajah ramahnya yang khas, "Ini adalah berita mendadak. Aku pun tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi."
"Ya, Bung," Jemy mengangguk-angguk setuju, "Babak final ini pasti akan lebih sulit dari babak-babak sebelumnya."
"Yah," Ari juga mengangguk, "Membayangkan anak-anak tahun pertama bertanding dengan tahun akhir saja sudah cukup menghebohkan, apalagi jika mereka juga harus bertanding melawan anak-anak berbakat dari Akademi Neo-Altair. Ini pasti menjadi dilema yang berat bagi Regu Yildirim."
“Bukan begitu, Bung,” Jemy menggeleng pelan, “Anak-anak tahun pertama tidak akan semalang itu karena ini adalah acara penggabungan.”
“Oh! Benar juga,” balas Ari seolah baru sadar, “Akademi Neo-Altair memiliki beberapa regu campuran antarangkatan. Dua regu terbaik mereka akan bergabung dengan dua regu terbaik dari akademi kita.”
“Jadi, Regu Yildirim akan bergabung dengan salah satu regu yang masuk ke babak final dari Akademi Neo-Altair,” jelas Jemy lebih detail, “Begitu pula Regu Tupan, mereka akan bergabung dengan salah satu finalis dari Akademi Neo-Altair.”
“Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka,” Ari memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi dari semua pihak, “Skala Arena akan menjadi semakin besar karena banyak peserta yang ikut kali ini. Setiap regu yang digabungkan juga harus berkonsolidasi untuk membangun kerja sama yang baik. Kalau sampai mereka gagal melakukan konsolidasi itu, akan sulit bagi mereka untuk menang.”
"Ya, ya," Jemy mengangguk setuju, "Esensi dari pertandingan kali ini adalah pembentukan kerja sama tim yang kuat dan tepat. Mari kita saksikan … Arena finaaal!"
...***...
"Kita bertemu lagi, Ats," ucap seorang pemuda dengan senyum yang khas di wajahnya. Dia menepuk pundak Ats dengan akrab. Kawan-kawan Ats cukup terkejut melihatnya.
“Ya, Senior Ulu,” Ats mengangguk kecil, “Ini adalah kebetulan yang tidak terduga.”
__ADS_1
“Kebetulan?” Ulu memicingkan matanya sekejap, lantas tersenyum simpul, “Yah, pokoknya, senang satu regu denganmu.”
“Di mana teman-teman Senior yang lain?” Ats menatap sekumpulan pemuda yang sedang berdiskusi di ruangannya. Solar ada di tengah-tengah mereka. Pemimpin utama Regu Yildirim itu tengah berkonsolidasi dengan pihak dari Akademi Neo-Altair.
“Zagan ada di regu sebelah,” ucap Ulu memberi tahu dengan senang hati, “Biar kuberitahu dari sekarang. Dia adalah lawan yang merepotkan.”
Ats manggut-manggut paham, sedangkan Arjuna dan Bayu hanya berdiri menyimak dengan tenang. Mereka memang penasaran karena seorang murid senior dari Akademi Neo-Altair menyapa Ats duluan. Namun, mereka menahan rasa penasaran itu untuk ditanyakan nanti.
“Radu tidak ikut pertandingan Arena,” lanjut Ulu, “Arie juga ada di regu seberang. Ah, dia bocah yang paling merepot. Sejauh ini, tak ada yang bisa lolos dari bidikannya.”
“Apa dia seorang penembak jitu?” tanya Bayu masuk ke dalam obrolan Ats dan Ulu. Ulu pun menoleh padanya, lalu mengangguk.”Benar, dia seorang penembak jitu yang hebat.”
“Ho, itu menarik,” Ulu menyeringai tipis, “Tidak heran kalian bisa sampai ke final meskipun masih tahun pertama.”
“Hm, jelas,” Solar tiba-tiba datang, ikut bergabung, “Kami adalah generasi terbaik sepanjang dekade ini.”
“Jangan sombong dulu,” Ats mengingatkan, “Lawan kita memiliki jagoan-jagoan yang hebat. Meskipun kamu sudah sampai di tahap ahli, kamu tetaplah masih pemula. Mereka adalah orang-orang hebat yang jauh di atas kita.”
“Oh, seorang praktisi ahlikah?” Ulu tampak tertarik, “Master Eden pasti pernah datang padamu.”
“Master Eden?” Solar mengingat-ingat sejenak, “Oh, guru baru itu. Ya, pernah, tapi aku sudah jadi muridnya Master Khaled.”
__ADS_1
“Hm?” Ulu menatap Solar heran karena suatu hal, lalu mengabaikannya begitu saja, “Begitu, ya.”
Konsolidasi berjalan dengan mulus. Solar mengerti kemampuan kawan-kawannya. Ia dan sebagian Regu Yildirim menerima peran sebagai pasukan penyerbu di bawah komando para senior dari Akademi Neo-Altair. Itu tidak masalah. Lagi pula, lawan mereka kali ini jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya.
“Ats, kita ikut menyerang kali ini?” tanya Siver dengan nada malas, “Aku ingin bermain dengan rudal-rudal lagi. Tidak bisakah aku kembali ke Basis Komando?”
“Tenanglah, Siv,” Ats tidak peduli dengan keluhan Siver, “Ikuti saja mereka. Mereka lebih berpengalaman dan profesional. Lagi pula, tidak hal semacam itu di Arena kali ini.”
“Hm, benar juga sih,” Siver juga sadar diri, “Lagi pula, kita menang karena kebetulan.”
“...”
Ats ingin membantah ucapan kawannya itu, tapi urung. Sebenarnya, kemenangan mereka tidaklah sepenuhnya kebetulan. Usaha dan kerja sama regu menjadi kunci utama dalam kemenangan mereka. Kepatuhan dan kepercayaan juga tidak kalah penting. Andai Siver dan yang lainnya terlalu banyak bertanya mengenai keputusan Ats, mereka mungkin akan diserbu lebih cepat oleh lawan.
“Ini dia,” ucap Ats pelan begitu pintu besar terbuka. Dilihatnya panorama perkotaan trimilenium yang elok. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Ada nuansa futuristik yang tak kalah dengan ibu kota kekaisaran.
“Kota Garis?” Ali heran dengan nama yang tercantum salah satu dinding ruangan tempat awal mereka muncul di dunia digital. Siver mengikuti arah matanya memandang, sedangkan Ats menjelaskan, “Ini adalah salah satu kota termaju di Bumi. Mereka memiliki segalanya, tidak kalah dengan kita.”
“Cukup hebat,” Ali menatap gedung-gedung di sekitarnya dengan seksama begitu keluar dari ruangan, “Kudengar, Bumi sangat hancur lebur ketika Perang Antarklan ratusan tahun lalu.”
“Yah, begitulah,” Ats setuju, “Tapi, Kaum Aklali seperti kita dapat beregenerasi dengan cepat seperti virus yang menjangkiti Bumi. Jadi, pembangunan secepat itu memanglah wajar. Ini sudah waktunya. Ayo kita segera maju untuk mengintai.”
__ADS_1