Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 047: Sang Nenek


__ADS_3

"Kakek?" Ats reflek melonggarkan tekanannya. Orang yang ia tangkap pun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Ia menggunakan teknik zarahian dan berpindah ke tempat rekannnya.


"S—salam, Master Aruj," kedua tamu tak diundang yang membuntuti Ats itu langsung memberi hormat begitu melihat kakek Ats. Mereka melakukannya dengan tubuh yang masih gemetaran karena Arselan belum melepas gelombangnya.


"Ats, pulanglah dulu!" Master Aruj menatap Ats yang tampak amat kelelahan. Ia tahu bahwa bocah itu sedang tertekan oleh sesuatu.


"Tapi—" Ats ingin menyampaikan sesuatu, tapi Master Aruj tetap bersikukuh menyuruhnya pulang.


"Cepat pulang dan biarkan nenek menyembuhkanmu!" ucap Master Aruj tegas, "Aku yang akan mengurus ini."


"Baik, Kakek," Ats pun menurut. Sebelum pergi, ia menatap kedua orang yang masih tertunduk hormat di hadapan kakeknya. Tepat saat itu, Arselan selesai menyelidiki identitas mereka.


"Mereka juga pembohong," gerutu Ats begitu melihat laporan yang diberikan oleh Arselan, "Hais ... mereka bahkan tidak terdaftar dalam afiliasi apa pun. Apa mereka juga orang-orang dari badan intelijen? Atau—?"


Ats tertegun memikirkan dugaan keduanya. Ia pun mempercepat langkahnya untuk ke rumah. Seperti kata kakeknya, ia harus segera berobat pada neneknya sekarang.


"Ats, kamu sudah kembali," sambut seorang nenek yang terlihat mirip dengan Dokter Razana versi tuanya. Ia pun juga seorang dokter. Saat muda, ia merupakan dokter terbaik di zamannya. Namanya adalah Nenek Amina. "Loh!? Kamu kenapa?"


"..."


Ats tak menjawab. Ia hanya mendekat ke neneknya dan mencium punggung tangan wanita tua itu. Setelah beberapa saat terdiam, barulah ia menjawab, "Ada tamu tak diundang tadi. Aku hampir bertarung dengannya."

__ADS_1


"Kamu nggak kenapa-napa, kan?" tanya Nenek Amina cemas. Sejak Ats ditinggal kedua orang tuanya, wanita itu yang menjaganya. Ia sosok yang paling sedih melihat Ats kecil kesepian dulu.


"Nggak apa-apa kok, Nek," Ats menyungging senyum agar tidak membuat neneknya terlalu khawatir. "Cuman capek aja."


"Beneran?" sebagai mantan dokter terkemuka, pastilah Nenek Amina menyadari kejanggalan pada neuron zarah Ats. Ia tidak bisa membiarkan itu.


"Hm," Ats mengangguk percaya diri, tapi kepalanya tiba-tiba pusing setelah itu. Ia pun hampir ambruk di hadapan neneknya.


"Ats!?" Nenek Amina sangat terkejut. Ia langsung membaringkan Ats di ranjang terdekat, lalu mengambil kit medisnya.


"Apanya nggak apa-apa?" gerutu Nenek Amina khawatir. Ia langsung memeriksa cucu kesayangannya itu. Matanya yang masih jeli di usia tua mampu melihat partikel-partikel aneh di tubuh cucunya. Ia pun berusaha menangkap partikel-partikel itu, tapi kemudian urung karena ternyata mereka membantu mempercepat pemulihan Ats.


"Apa ini?" Nenek Amina bertanya-tanya.


Tentu hanya Ats yang mendengarnya. Meskipun Nenek Amina tahu ada yang aneh pada tubuh cucunya, ia tak pernah menyangka bahwa itu adalah droid-droid kecil berukuran nano yang dirancang oleh Profesor Han selama masa ujian para murid. Profesor itu pun memasangnya pada Arselan saat Ats sedang sibuk dengan festivalnya.


"Itu," Ats bangkit duduk. Pemuda itu bingung cara menjelaskannya. Ia mencari kata pembuka yang tepat agar tidak membuat neneknya semakin khawatir.


"Ats, katakan!" Nenek Amina mencengkeram kedua pundak Ats, "Apa kamu meminum obat-obatan terlarang?"


"Eh?" Ats tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia pun menggeleng tegas, lalu menjelaskan yang sejujurnya pada Nenek Amina.

__ADS_1


"Sistem Pengendali AI?" Nenek Amina merasa pernah mendengar teknologi itu. Namun, ia tak ingat di mana pernah mendengarnya. Pokoknya, selama Ats baik-baik saja, itu tak masalah baginya.


"Tapi, kenapa kamu nggak ngomong ke nenek dari dulu?" tetap saja Nenek Amina khawatir.


"Aku kan emang nggak punya koneksi ke luar di akademi," jawab Ats lugas, "Telepon ke adikku yang di ibu kota aja nggak bi—"


Ats terdiam begitu mengingat adiknya. Ia sudah berjanji pada Dokter Razana untuk menelepon adiknya hari ini. Untung saja ia ingat. Ia harus meneleponnya sekarang sebelum lupa lagi.


"Loh? Kamu belum ketemu Ayya di ibu kota?" Nenek Amina tak menyangka. Ia sering mendapat panggilan video dari cucu perempuannya itu akhir-akhir ini. Itu adalah kabar gembira setelah bertahun-tahun ia hanya mendengar berita sakitnya putri kecil itu.


"Belum sempat sih," Ats langsung mencari gawainya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak menemukannya juga.


"Cari apa, Ats?" tanya Nenek Amina bingung melihat tingkah cucunya ini. Bocah itu sudah pulang dalam keadaan terluka, datang membawa teknologi aneh, sekarang pun bertingkah layaknya orang pikun.


"Ponselku," jawab Ats yang terus mencari ke seluruh ruangan, "Aku sudah janji mau nelpon adik tadi."


"Oalah," sang nenek pun manggut-manggut, lalu berkata, "Ya, udah. Kamu mandi dulu sana. Biar nenek yang cariin. Nanti kalau nggak ketemu, pakai aja ponselnya nenek buat telepon adikmu."


"Hm," Ats menurut. Ia pun mengeluarkan pakaian-pakaiannya yang masih terjebak di ransel. Setelah mendapatkan kaus yang dicarinya, ia pun pergi untuk mandi.


"Hais ...," Nenek Amina menghela napas berat. Ia lantas menoleh ke sebuah meja. Di atas meja itu terdapat beberapa bingkai-bingkai foto keluarga. Itu foto-foto lama yang masih tersimpan sampai saat ini.

__ADS_1


"Sejak kapan dia sebesar itu?" pikir Nenek Amina yang kemudian menatap foto seorang bocah yang tersenyum ceria bersama ayah dan ibunya. Itu adalah terakhir yang diambil sebelum ayah dan ibu Ats wafat.


"Adiknya pun sudah besar. Syukurlah dia tumbuh dengan sehat sekarang," Nenek Amina mengusap foto yang sedikit berdebu itu. Ia menatapnya lekat-lekat sampai tanpa sadar meneteskan air mata ke permukaannya. Rasa rindu yang teramat dalam menyentuh hatinya yang telah menua.


__ADS_2