Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 049: Bukan Bocah yang Istimewa


__ADS_3

"Lalu, kenapa kalian terus mengikutiku sepanjang hari?" tanya Ats begitu si kumis tebal menyelesaikan ceritanya. Pria penguntit itu berlutut tunduk tanpa perlawanan sama sekali.


"Itu—" si kumis tebal mencari kata-kata yang tepat sebelum mengungkapkan alasannya, "Kami ada penawaran untuk Anda, Tuan Muda. Kalau berkenan, Anda bisa bertemu dengan kepala utusan besok."


"Penawaran apa?" Ats tak mengendurkan kewaspadaannya sedikit pun. Ia tetap berhati-hati. Bagaimana pun juga, si kumis tebal itu lebih kuat darinya jika ia tak memiliki Arselan.


"Saya tidak tahu," jawab si kumis tebal dengan wajah yang tertunduk lesu, "Saya ditugaskan untuk memastikan independensi Anda."


"Hm, aku adalah putra dari Keluarga Asir," kata Ats dengan penuh ketegasan, "Buat apa kalian melakukan itu?"


"Kami—" ucapan si kumis tebal kembali terputus. Ia berpikir keras agar kelompoknya tak mendapat penilaian buruk dari Ats. Itu adalah perintah yang diturunkan kepadanya. Sayangnya , langkah mereka telat selangkah dari Tim Ulu. "Kami pastikan penawaran itu tidak merugikan Keluarga Asir. Mohon pertimbangkan penawaran kami."


"Pak Dani," Ats sudah muak berbicara dengan si kumis tebal ini, "Dia sudah melakukan tindakan spionase di Wilayah Keluarga Asir. Tahan dia sampai keputusan selanjutnya tiba."


"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Dani patuh. Ia pun menahan si kumis tebal, sementara pria asing itu berusaha untuk bernegosiasi lebih jauh. Akan tetapi, semua usahanya sia-sia.


"Ikut aku!" paksa Pak Dani. Bertepatan saat itu juga, penjaga gerbang lainnya datang. Pria yang merupakan karib Pak Dani itu terkejut melihat apa yang terjadi. Ia pun langsung menyapa Ats dan melanjutkan tugasnya untuk berjaga.

__ADS_1


"Arselan, apa masih ada yang lain?" tanya Ats sambil melangkah ke asrama yang ditujunya.


"Area sekitar aman. Tidak ditemukan tanda-tanda eksistensi yang mencurigakan," jawab Arselan yang terus dalam mode waspadanya sepanjang hari ini. Ia menunjukkan peta dua dimensi yang sudah lama tidak Ats lihat. Ada beberapa titik putih yang menyala di sana. Titik putih itu menunjukkan keberadaan makhluk hidup bernapas yang ada dalam kondisi pasif.


"Bagus, akhirnya aku bisa menemui teman-teman dan beristirahat dengan tenang," ucap Ats begitu sampai di depan sebuah asrama berarsitektur tradisional, tapi megah. Itu adalah sebuah komplek perumahan joglo berbentuk leter U dengan lapangan besar di tangahnya. Ada empat kamar di masing-masing sisi selatan dan utaranya, sedangkan di sisi timurnya ada tiga kamar. Ini merupakan asrama para praktisi ahli yang setara dengan Ats.


"Wah, wah, siapa ini?" seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluhan menyambut kedatangan Ats.


***


"Bocah itu tidak ikut acara perjamuan?" Adipati Altalimain tertarik mendengar berita yang baru disampaikan padanya itu, "Apa ada alasan khusus yang membuatnya tidak mau ikut ke acara sebesar itu?"


"Ada kemungkinan, hubungan antara Tuan Muda Asir dan Pangeran Kedua merenggang karena suatu sebab yang belum kami tahu," lanjut Arunqa, "Kami sempat mendeteksi kedekatan di antara mereka berdua, tapi itu hanya sesaat. Tuan Muda Asir bahkan cenderung menjauhi Pangeran Kedua. Mungkin saja, kesepakatan di antara mereka tidak berjalan lancar."


"Hm, begitu, ya," Adipati Altalimain manggut-manggut, "Aku masih punya kesempatan untuk membawanya ke sisiku kalau begitu. Apa kamu sudah menyiapkannya, Bey?"


"Kami sudah melaksanakan pengintaian di sekitar Tuan Muda Asir. Tim negosiasi pun sudah disiapkan," jelas Arunqa dengan senyum tipis di bibirnya, "Mereka ada di Pulau Reda sekarang. Begitu Tuan Muda Asir menerima tawarannya, mereka akan segera melapor."

__ADS_1


"Bagus, kamu memang selalu bisa diandalkan," Adipati Altaliamain tersenyum puas. Namun, senyumnya itu tetiba menghilang setelah Arunqa melanjutkan laporannya.


"Eden Bey? Dia keponakanmu, kan?" sang adipati memastikan.


"Benar, Tuan. Ada kemungkinan dia juga tertarik untuk merekrut Tuan Muda Asir ke sisinya," Aruqa berwajah serius. Sebagian besar Keluarga Bey beroposisi pada pemerintah, tapi kemenakannya yang bernama Eden itu sedikit berbeda.


"Dia bocah yang merepotkan," gerutu Arunqa di tengah laporannya, "Tapi Anda tak perlu khawatir. Sejauh ini, dia pun belum mendapat kemajuan yang berarti dalam menjalin hubungannya dengan Tuan Muda Asir."


Sebanarnya, bocah dari Keluarga Asir itu tidaklah terlalu istimewa sampai harus diawasi begitu. Ia hanyalah anak yang beruntung karena mampu mengaktifkan sistem. Padahal, orang-orang sekelas ilmuan dan militer pun tak mampu mengaktifkannya.


"Kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Arunqa yang kemudian beranjak dari ruang kerja Adipati Altaliamain.


Namun, justru karena bocah itulah misinya menjadi semakin mudah untuk mengambil alih sistem. Dia ibarat kertas putih yang masih bersih. Di usianya yang muda itu, tak sulit menjejalkan ideologi yang tepat. Selama agen Adipati Altalimain mampu mempengaruhinya, penguasaan sistem akan menjadi semakin mudah.


"Atssuria Asir," gumam Arunqa Bey sambil menatap profil bocah dari Keluarga Asir itu. Jari telunjuknya pun menekan tombol pada lift. Tak lama kemudian, pintu liftnya tertutup dan membawa Arunqa ke lantai yang lebih rendah.


"Nak, kamu harus melihat dunia seperti kami," gumam pria tua itu seolah berbicara langsung dengan Ats. Ada nada kerinduan yang mengalir dari suaranya. "Kamu akan melihat hal-hal indah di sini. Percaya dan ikutilah kami, niscaya kamu akan bahagia."

__ADS_1


"Kalau tidak—" Arunqa menutup gawainya. Pintu lift terbuka. Ia pun berjalan keluar dengan santainya. "Kamu akan terus terjebak di tengah takhayul dan dongeng orang-orang terdahulu itu."


Malam semakin larut, tapi Kota Altalimain yang padat semakin terang nan berwarna-warni. Orang-orang di dalamnya bermain dan berpesta ria, menikmati hidup mereka yang bebas di sana. Itulah mereka, orang-orang yang menuntut kebebasan penuh pada Kekaisaran Altair Raya. Namun, merekalah yang sejatinya terjebak pada halusinasi mereka sendiri, sedangkan mereka tak menyadarinya.


__ADS_2