Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 017: Orientasi Politik Magister Snoug


__ADS_3

"Arselan," panggil Ats sebelum kelas dimulai, "Carikan semua informasi terkait Magister Snoug."


"Mencari informasi ...," Arselan langsung merespon. Seperti biasa, ia menampilkan emotikon kucing detektifnya saat sedang mengumpulkan informasi. Dalam sekejap, ribuan informasi bermunculan di mata Ats, mulai dari yang umum sampai yang khusus. Informasi-informasi itu pun menyatu dalam satu baris dan membentuk catatan kategori. Ats bisa memilih yang mana saja semau kehendaknya.


"Beliau hebat," gumam Ats dalam hati. Matanya menatap ke sekitar sesekali, memastikan kelas belum dimulai, "Banyak sekali prestasi yang beliau raih sejak muda. Pantas saja beliau bisa jadi guru besar di akademi, tapi—"


Ats mengamati satu berita yang meliput keterlibatan Magister Snoug dalam politik kekaisaran. Di sana terlihat bahwa sang magister lebih berpihak pada Adipati Altalimain, adik tiri kaisar saat ini yang berkuasa atas Kota Altalimain dan sekitarnya. Itu membuat Ats mengerutkan keningnya.


"Adipati Altalimain cenderung beroposisi dengan kekaisaran," pikirnya, "Kalau profesor berpihak pada Pangeran Kedua, kenapa beliau memberiku guru Ilmu Kepemimpinan dari pihak oposisi kekaisaran?"


"Oi, Ats!" sebuah tepukan di pundak mengagetkan Ats. Pemuda itu pun menoleh dan mendapati seorang kawannya yang bermata cokelat gelap dan berwajah usil. "Putu?"


"Ngapain kamu? Melamun serius banget gitu," tanya Putu yang kemudian duduk di samping Ats. Pemuda berambut cokelat itu mengeluarkan kotak bekalnya dan langsung makan sarapan. Sepertinya, ia tak sempat makan di asrama pagi ini.


"Nggak apa-apa, kok," jawab Ats sekadarnya, "Cuman mikirin guru yang bakal jadi pengajar khususku."


"Pengajar khusus? Kamu kok dah dapat yang begituan?" Putu menoleh heran. Sebelum ia sempat menjawab, orang lain sudah lebih dulu menyerobotnya.


"Biasalah, jalur belakang," itu adalah suara Arjuna, "Dia kan dekat sama Profesor Han, makanya dapat bantuan terus."


"Ya, udah. Kamu kan tinggal cari muka ke guru senior biar punya nasib mulus," Ats tidak ingin ambil pusing untuk menghadapi tuduhan kawan karibnya itu. Lagi pula, dekat dengan guru tertentu di akademi itu bukan sesuatu yang buruk. Itu adalah cara mereka yang rajin untuk memaksimalkan pendidikan di akademi.


"Emangnya, siapa yang jadi pengajar khususmu?" tanya Putu penasaran. Menurut informasi yang ia dapat, seorang murid bisa ikut pengajaran dengan kawannya yang punya pengajar khusus selama pengajar itu tak keberatan. Yah, barangkali ia juga bisa menumpang pada bocah dari Keluarga Asir ini.


"Magister Snoug," jawab Ats singkat.


"Magister Snoug?" Putu berusaha mengingat-ingat, "Ah, guru besar Ilmu Politik dan Pemerintahan, ya?"

__ADS_1


"Hm," Ats mengangguk kecil. Arjuna pun kembali berceloteh, "Berarti kelas khususmu Ilmu Politik dong? Wih ... sangar sih. Punya koneksi sehebat itu sejak di akademi. Auto jadi pejabat pemerintahan nih. Masa depanmu terjamin, Ats."


"Siapa yang tahu?" Ats mengangkat bahu. Jika sampai ia terbawa arus pemikiran politik Magister Snoug, ia justru akan semakin kerepotan. Menjadi oposisi suatu pemerintahan itu bukan hal yang kecil, apalagi pemerintahan monarki absolut. Hidupnya pun mungkin tak akan tenang. Heh! Buat apa jadi pejabat? Cita-citanya adalah menjadi seorang ilmuan, bukan politisi.


***


"Magister Snoug, ya?" Fang menyandarkan pipinya pada tangan yang mengepal, "Beliau ngajarnya enak kok?"


"Aku mah juga tahu soal itu," Iskandar menggeleng pelan, "Cuman ... orientasi politiknya itu loh."


"Wajar sih kamu khawatir," Fang menatap datar, tak heran dengan kekhawatiran sahabatnya, "Magister itu kan memang dekat sama Adipati Altalimain."


"Oh, ya," Iskandar teringat sesuatu, "Kamu pernah ngajak bocah itu ke Altalimain, kan? Gimana sikapnya di sana?"


"Hm? Waktu itu, ya?" Fang mencoba untuk mengingat-ingat. Disedotnya minuman dingin yang ia pesan dari kantin tadi, sedangkan tangan kirinya masih tetap menopang pipi "Dia biasa aja sih. Nggak beda sama anak-anak lainnya."


"Gitu, ya?" Iskandar terlihat kecewa.


"Dia sensitif?" Iskandar menebak.


"Dia kan bocah dari Keluarga Asir," Fang merasa minumannya sudah habis. Ia pun meremas gelasnya, lalu menyimpannya di laci. "Wajar sih dia kayak gitu. Nggak salah kalau Keluarga Asir disebut sebagai keluarga yang paling teguh mendidik anak-anaknya."


"Makanya, kan?" Iskandar jadi khawatir, "Gimana lalu dia jadi ngikutin terpengaruh pemikirannya magister itu?"


"Yah, itu kan terserah dia," Fang mengangkat bahu. Pemuda bermata sipit itu terlihat tak terlalu peduli. "Menurutku sih ... dia nggak bakalan mudah terbawa arus setelah dididik sebaik itu sama keluarganya. Kalau kamu emang khawatir banget sama dia, mending kamu awasi terus dia sampai akhir."


Iskandar terdiam. Ia larut dalam pikirannya. Fang memang benar. Ia tak bisa memaksakan kehendaknya pada Ats. Namun, ia bisa mengawasinya agar kelak mereka berdua tak saling bersilang kubu di dunia perpolitikan. Firasatnya mengatakan bahwa bocah dari Keluarga Asir itu akan sangat berpengaruh di masa depan.

__ADS_1


***


"Kenapa kamu pilih Magister Snoug untuk jadi guru Ilmu Kepemimpinannya?" tanya pria di balik layar itu. Ia terlihat khawatir, sama seperti Iskandar.


"Dia guru yang paling berbakat di bidang itu," jawab Profesor Han tanpa rasa bersalah, "Lagian, perannya kan sebagai guru Ilmu Kepemimpinan, bukan Ilmu Politik dan Pemerintahan."


"Kamu pikir Snoug tidak akan mengajarkannya hanya karena itu bukan mata pelajaran yang ia ajar?" pria di balik layar menghela napas heran, "Dia tokoh yang cukup pandai mempengaruhi anak-anak muda untuk ikut dengannya. Karena itu, aku tak bisa mengatur Altalimain dengan mudah."


"Hais ...," Profesor Han menepuk dahi, "Jangan remehkan bocah dari Keluarga Asir itu. Aku yakin dia punya keteguhan yang hebat sehebat keluarganya."


"Keluarganya memang tidak perlu dikhawatirkan, tapi dia adalah pemuda yang sedang dalam masa pencarian jati dirinya. Dia berbeda," celoteh pria di balik layar itu.


"Kakak, aku yang bertanggung jawab langsung atasnya," ucap Profesor Han meyakinkan, "Aku akan mengawasinya dengan baik. Jadi, Kakak tak perlu serisau itu."


"Kamu pikir aku bisa tenang setelah kamu memberinya 'sistem' yang berbahaya itu?" pria di balik layar mengeluh, "Aku tak mau dia dimanfaatkan oleh Oz."


"Kakak Oz?" Profesor Han jadi ingat dengan salah satu saudara tirinya itu, "Dia memang culas sih, tapi bukan berarti Magister Snoug yang mendukungnya juga begitu."


"Kamu pikir begitu?" pria di balik layar terheran.


"Pokoknya, aku memilihnya karena ia yang paling hebat di bidangnya," Profesor Han kembali menegaskan alasannya, "Aku yakin Magister Snoug cukup tahu diri sehingga tak akan membujuk Ats untuk bergabung ke sisi Kakak Oz."


"Dia mungkin tak akan membujuknya, tapi dia akan memintanya sedikit demi sedikit," pria di balik layar menduga, "Ats akan terseret dengan sendirinya kalau kamu tak mengawasi bocah itu dengan benar."


"Hais ... baiklah-baiklah," Profesor Han tak mau berdebat lagi dengan kakaknya, "Aku sudah berjanji akan menjaganya dengan baik. Kakak fokus saja sebagai kaisar. Jaga keseimbangan negeri ini. Jangan sampai ada pertumpahan darah yang tak perlu."


"Kamu juga," ucap pria di balik layar sebelum mematikan koneksinya, "Jangan sampai bocah itu jadi potensi yang membahayakan Klan Zarah di masa depan."

__ADS_1


"Hm," Profesor Han mengangguk. Layar gawainya pun mati seketika. Ia menghela napas panjang. Tak lama kemudian, gawainya kembali berdering. Nama seorang yang penting terlihat di sana.


"Dia?" Profesor Han mengerutkan kening, lalu menerima telepon itu.


__ADS_2