Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 028: Tragedi Sepuluh Tahun Lalu


__ADS_3

"Ats, kamu beneran nggak kenapa-napa nih?" tanya Arjuna lagi selepas pelajaran pertama selesai. Ats pun tersenyum simpul dan mengangguk, "Nggak apa-apa kok."


"Beneran?" Arjuna masih belum yakin.


"Hm," Ats menjawab singkat. Ia pun pamit untuk keluar kelas sebentar. Arjuna yang mengamatinya hanya dapat menatap curiga. Ia adalah pemuda yang peka, apalagi mereka berdua sudah berkawan sejak kecil.


"Hais ... Aku jadi nggak bisa fokus gara-gara dia," keluh Ats di luar kelasnya. Ia berjalan ke aula sekolah yang luas. Ada banyak murid selain ia di sana.


"Apa dia ada hubungannya sama tragedi itu, ya?" Ats duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia di sana. Ia pun menatap gawai di tangannya. Arselan telah menyalinkan semua data yang ia dapat ke gawai pintar tuannya itu.


"Tragedi sepuluh tahun lalu," Ats membaca halaman paling awal yang Arselan berikan. Itu adalah berita tentang kecelakaan yang menimpa Armada Ketiga Kekaisaran, armada yang dipimpin langsung oleh Laksamana Agung Asir. Ada berbagai kejanggalan pada kecelakaan itu sehingga menimbulkan banyak gosip dan pertanyaan. Namun, kasus itu tetap ditutup dengan kesimpulan yang sama, yaitu kesalahan teknis yang mengakibatkan kecelakaan tragis.


Halaman selanjutnya—


Di sana ditampilkan daftar-daftar perwira dari Armada Ketiga dan pegawai observasi yang gugur. Salah satunya adalah Salam Eden. Tercatat bahwa saat itu usianya adalah 15 tahun. Ia adalah korban termuda dalam tragedi itu.


"Tak punya keluarga, yatim-piatu sejak kecil. Rumahnya adalah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari Kantor Observasi," ucap Ats sambil berjalan kembali ke kelasnya. Pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Ia harus bergegas sebelum gurunya masuk lebih dulu. "Apa mata-mata itu hanya asal mengambil identitas orang yang sudah meninggal untuk mengelabui akademi?"


"Hai," seseorang menepuk pundak Ats. Ats pun menoleh dan mendapati seorang pemuda berwajah lesu yang kurus kerempeng. Tatapannya datar, nyaris seperti orang yang tak punya harapan hidup. Pemuda itu bertanya, "Kamu Atssuria Asir, kan?"


"Ya," Ats berusaha mengenali pemuda berbadan lebih itu. Ia diam-diam menatapnya dari atas sampai bawah. Sesaat kemudian, Arselan memberikan laporan.


" Subjek teridentifikasi," kata Arselan yang kemudian menunjukkan layar interface di atas kepala pemuda itu. Di sana ada tulisan, "Salam Eden (Meragukan). Penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan."

__ADS_1


"Senior—" Ats nyaris membaca tulisan itu dengan lisannya.


"Salam," pemuda berwajah masam itu lebih dulu memperkenalkan dirinya, "Salam Eden, murid tahun ketiga. Aku ingin bicara denganmu."


"Ah, maaf, Senior," Ats langsung menolak, "Aku harus segera masuk."


"Sepulang sekolah nanti," Salam memberi alternatif lain, "Apa kamu ada waktu?"


"Em—" Ats ingin menolak. Ia jelas tak mau berdekatan dengan murid yang mencurigakan ini. Untung saja ia punya alasan untuk itu, "Itu ... aku ada kelas khusus dengan Magister Snoug nanti. Maaf, aku tak ada waktu."


"Magister Snoug? Kelas apa?" Salam terlihat tak berniat untuk melepaskannya sama sekali. Itu membuat Ats jadi semakin waspada. Ia pun menjawab sekadarnya, "Kelas Kepemimpinan. Itu kelas khusus yang aku dapat. Maaf, Senior. Aku harus masuk dulu sekarang."


"Ah, tungg—"


"Huh, untung nggak terlambat," Ats menghela napas lega. Ia pun mengaktifkan gawai belajarnya. Pelajaran paruh kedua dimulai sekarang.


***


"Ats, kamu bisa tunggu sebentar di sana," ucap Magister Snoug yang masih sibuk dengan pekerjaannya saat Ats masuk, "Aku akan selesai sebentar lagi."


"Baik, Magister," Ats mengangguk kecil. Ia pun duduk di sofa yang tersedia di kantor itu. Sofanya empuk dan nyaman. Memang layak disebut kualitas terbaik untuk instansi tinggi seperti Akademi Altair.


"Hais ... ternyata dia masih ada di sini," Ats menghela napas heran ketika mengingat kembali pertemuannya dengan Salam tadi pagi. Itu adalah pertemuan yang tak terduga sama sekali. Pemuda aneh itu bahkan mengajaknya untuk bertemu.

__ADS_1


"Ada masalah apa, ya? Kok dia bisa kenal aku?" Ats jadi semakin curiga. Sembari menunggu pekerjaan Magister Snoug rampung, ia melanjutkan bacaannya terkait tragedi yang terjadi sepuluh tahun lalu.


"Kemusnahan Armada Ketiga! Kecelakaan atau Konspirasi?" Ats membaca judul sebuah tabloid digital yang terbit di tahun itu. Ini adalah berita lama yang Ats senndiri belum pernah membacanya. Saat itu, ia masih terlalu kecil dan tak memahami masalah kompleks seperti ini.


Saat itu, seluruh armada yang ada di tempat kejadian hancur. Ledakan besar terjadi dari tempat observasi. Jika itu adalah ledakan biasa, tentu tak akan ada korban baik dari tim observasi maupun Armada Ketiga yang canggih. Masalahnya, itu adalah ledakan super yang mengandung badai elektromagnetik sehingga ia dapat mematikan semua elektronik yang ada di sekitarnya. Karena itulah kendali armada menjadi tak stabil dan mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang hebat.


Ada kemungkinan ledakan itu disebabkan oleh serangan ******* yang beroperasi di sekitar tempat observasi. Diperkirakan bahwa mereka sengaja menyulut masalah pada mesin yang terdapat di sana sehingga bereaksi serius pada muatan materi di sekitar. Itulah yang menjadi penyebab dari ledakan super itu.


"Ck! Ini hanyalah perkiraan yang tidak dapat dibuktikan oleh siapa pun," gumam Ats pelan. Ia pun melanjutkan ke halaman berikut. Halaman itu masih mengulas topik yang sama, tapi isinya sedikit berbeda.


"Kecelakaan Armada Ketiga! Benarkah pemerintah turut andil dalam masalah ini?" begitulah judul yang terpampang besar-besar di artikel berita itu. Sama seperti sebelumnya, artikel ini tak menyajikan data yang meyakinkan sama sekali. Pemerintah bahkan menanggapinya sebagai, "Imajinasi konyol yang tak berdasar guna menggiring opini masyarakat."


"Itu tanggapan yang wajar," Ats berpikir dengan sudut pandang pemerintah yanng dikritik tanpa dasar itu. Bisa dibilang, itu adalah fitnah yang besar. Apalagi terhadap pemerintahan. "Ck! Bahkan mereka mengutib dari sumber yang sama."


"Undi Tak, jurnalis sekaligus influenser yang bertanggung jawab atas berita-berita tanpa dasar ini," Ats membaca orang yang menjadi sumber dari berita yang sering kali berembel-embel "Katanya/kabarnya" itu.


Arselan pun menunjukkan profilnya. Menurut penelusuran Arselan, Undi Tak ini telah ditangkap tujuh tahun lalu atas tuduhan penyebaran berita bohong, fitnah, dan pencemaran nama baik. Ia sosok yang emosional dan terkenal sering melontarkan ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu. Sejak muda, ia memang dikenal sebagai "Influenser Pembuat Onar."


"Hais ... kasus ini terlalu rumit," Ats menghela napas panjang. Ia pun menutup halaman-halaman itu dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Pikirannya jadi semakin kacau karena data-data yang Arselan paparkan. Yah, itu memang data dengan kategori "bohong" sih, tapi itu tetap berguna untuk menyelisik keributan yang sempat terjadi di masa itu.


"Sayangnya, tak banyak informasi yang berkaitan dengan Salam Eden di sana," Ats menyesalkan hal itu. Hal yang paling membuatnya penasaran saat ini adalah identitas asli Salam Eden. Ia merasa tak bisa mengabaikannya sama sekali.


"Ats," panggilan dari Magister Snoug membuat Ats langsung menoleh, "Apa kamu ada masalah?"

__ADS_1


"Saya—"


__ADS_2