Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 034: Panggilan dari Profesor Han


__ADS_3

Ats bersyukur karena sudah bisa kembali ke asrama sore ini. Untung bibinya mau berbaik hati untuk melepaskannya. Jujur saja, ia merasa kurang nyaman tinggal di pusat kesehatan yang letaknya tak jauh dari kompleks asrama perempuan. Tempat itu memiliki hawa yang berbeda dengan asramanya.


Sebelum berpisah dengan sang bibi, Ats sempat berpikir untuk aktif membantu proses "perkenalan" bibinya dengan Profesor Han. Namun, ia mengurungkan niat karena melihat Dokter Razana sepertinya akan menolak. Lagi pula, kalau ia ikut campur telalu banyak dalam urusan orang dewasa itu, genre cerita ini akan berubah. Mari fokus lagi untuk penelitian.


"Ats, jangan main-main dengan percobaan yang berbahaya lagi," Dokter Razana menekan kepala Ats dan mengacak-acak rambutnya di halaman Pusat Kesehatan Akademi. Ia melakukan itu agar keponakannya ini benar-benar mengindahkan peringatannya.


Ats pun hanya dapat mengangguk pasrah. Ia ingin segera pergi dari sini. Sejak tadi, ia merasakan pandangan-pandangan aneh yang terus mengintipnya. Itu benar-benar memalukan mengingat bagaimana Dokter Razana memperlakukannya seperti anak kecil di depan umum.


"Aku pergi dulu, Bibi," Ats melambaikan tangannya. Ia pun memasuki jalur khusus yang akan langsung memindahkannya ke kompleks asrama laki-laki. Di dalam jalur khusus itu, ia kembali mengaktifkan Arselan.


"Selamat sore, Tuan," sapa Arselan ramah seperti biasa. Ia menampakkan wajah umumnya, kucing dengan senyuman simpul yang imut.


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Ats sampai di tempat tujuan. Pintu jalur khusus pun terbuka otomatis. Ats keluar dan mendapati seorang pemuda menyapanya seolah sudah menunggu.


"Wah, kamu beneran keluar dari portal itu," Fang menepuk pundak Ats beberapa kali, "Habis ketemuan sama siapa nih?"


"Apaan sih?" Ats membalas ketus, "Justru, ngapain Senior berdiri di sini?"


"Aku?" Fang menunjukkan senyum simpul yang terkesan sedikit usil, "Profesor Han yang minta tolong ke aku buat njemput kamu. Katanya, kalau kamu dah sampai, kamu harus langsung ketemu sama beliau."


"Ha? Masa?" Ats tak percaya begitu saja. Buat apa Profesor Han melakukan itu. Lagi pula, semua yang berkaitan dengan penelitian sudah mereka bahas di Pusat Kesehatan Akademi seharian ini—tentu saat Dokter Razana sedang bekerja.


"Beneran," Fang meyakinkan, "Nih, kutelepon profesor, ya?"


"Nggak usah, sih," Ats mencegah, "Biar aku langsung ke tempat beliau aja. Beliau ada di kediamannya, kan?"


"Hm," Fang mengangguk, "Yuk, aku juga mau sekalian ke Kompleks Penelitian Bintang."


Sepanjang perjalanan ke kediaman Profesor Han, Ats tak dapat mengenyahkan rasa curiganya. Ini aneh. Buat apa gurunya ini mengutus Fang hanya untuk menjemputnya? Beliau kan bisa memintanya langsung lewat telepon?


"Gimana penelitianmu, Ats?" tanya Fang memecah keheningan.


"Dihentikan untuk sementara," jawab Ats singkat.

__ADS_1


"Eh? Kenapa?" Fang cukup terkejut mendengar itu. Menurut pengamatannya selama ini, penelitian itu berjalan dengan lancar. Yah, walaupun terkadang Ats kecelakaan. Namun, itu tak membahayakan nyawanya sehingga memaksa penelitian untuk dihentikan.


"Profesor Han disuruh introspeksi," jawab Ats asal, tapi ditanggapi serius oleh Fang. Yah, itu tidak sepenuhnya bohong sih. Profesor Han memang disuruh berhenti sementara oleh Dokter Razana. Wanita itu mengancam akan menggunakan hak perwaliannya atas Ats jika sang profesor tak mengindahkan peringatannya.


"Oh, gitu, ya?" Fang mencatat baik-baik informasi itu dalam benaknya. Mereka akhirnya sampai di Kompleks Penelitian Bintang. Keduanya pun berpisah di sana. Fang pergi ke salah satu laboratorium , sedangkan Ats ke pemukiman yang terletak tak jauh dari sana.


"Salam, Profesor," Ats menyapa Profesor Han yang sedang menyirami taman sendirian. Ia jadi semakin curiga dengan Fang. Jangan-jangan, seniornya itu sedang menjahilinya.


"Oh, kamu sudah datang, Ats," Profesor Han menyambut Ats ramah, "Aku sudah menunggumu dari tadi. Mari masuk."


Ah, ternyata Fang tidak berbohong. Berarti Profesor Han yang mencurigakan. Buat apa ia mengutus Fang kalau ia sendiri sedang tidak sibuk.


"Ada apa, Profesor?" tanya Ats yang kini telah teduduk di sofa, "Senior Fang langsung menjemput saya tadi. Apa ada sesuatu yang mendesak? Saya bahkan belum sempat mampir ke asrama."


"Eh, kamu langsung ke sini?" Profesor Han tak menyangka. Sebenarnya, ia tidak ingin terlalu mengganggu Ats lagi. Namun, ia memang memiliki hal untuk disampaikan.


"Ya, Senior Fang langsung menyambut saya di portal," jawab Ats yang kini merutuki Fang dalam hati, "Jadi, ada apa Profesor memanggil saya?"


"Ah, aku—" Profesor Han tampak tak enak hati. Ini bukan sesuatu yang terlampau mendesak sampai harus mengambil waktu istirahat Ats seperti itu.


"Eh? Emangnya Profesor habis ngapain?" Ats jadi memikirkan hal aneh, "Apa berkaitan dengan saya?"


"Em," Profesor Han tak langsung menjawab. Ia memikirkan dahulu kata-kata yang paling tepat untuk disampaikan. "Mungkin itu yang paling menyinggungnya."


"Yah," Ats membenarkan, "Bener sih kayaknya."


"Haha, benar, kan?" Profesor Han tersenyum getir, "Dia terlihat sangat menyayangimu. Kalian pasti sangat dekat."


"Iya," Ats mengangguk. Ia pun mencomot sekeping kukis yang Profesor Han hidangkan. Setelah itu, ia menyeruput teh hangat yang diseduhkan untuknya.


"Apa dia akan memaafkanku?" tanya Profesor Han.


"Bibi pasti memaafkan Anda," Ats langsung menjawab. Ia menikmati percakapan tentang bibinya ini, tapi belum mengerti ke mana arahnya.

__ADS_1


"Meski begitu, dia terlihat tak akan pernah mau menerimaku," Profesor Han bergumam pelan. Andai Ats tak menajamkan indranya, ia mungkin tak akan mendengar kata-kata itu. Pemuda dari Keluarga Asir itu pun langsung membantah, "Mana mungkin? Bibi sudah lama nunggu Profesor loh—kayaknya."


"Eh? Masa?" Profesor Han mendongak, "Kamu serius?"


"Mungkin," Ats malah memberi jawaban yang ambigu, "Yang jelas, bibi bukannya benci dengan Anda."


"Ats!" seru Profesor Han sampai membuat Ats tersentak di tempatnya. Ia bahkan menggampar meja dengan keras saking semangatnya, "Kamu bisa membantuku, kan?"


"Hm?" Ats mengerjapkan matanya, tak menyangka bahwa reaksi sang profesor akan seberlebihan itu. "Ya, saya memang bisa membantu Anda untuk itu."


"Sungguh?" Profesor Han meminta konfirmasi. Ada bara semangat di matanya. Wajahnya pun sedikit memerah.


"Sungguh," Ats mengangguk serius, "Tapi, sebelum itu, apa Profesor punya kisah dengan bibiku sebelumnya?"


"Ah, itu—" Profesor Han memperbaiki sikap duduknya, "Cerita yang panjang."


"Ceritakan padaku kalau begitu," pinta Ats semangat. Ini pasti akan jadi cerita yang seru. Sejak kemarin, bibinya selalu menolak untuk menjelaskan maksud "Pria tidak peka" yang ditujukan pada sosok ilmuwan di hadapannya ini.


Berbeda dengan Dokter Razana, Profesor Han dengan senang hati bercerita. Lumayan sih buat ngisi waktu sore. Berdasarkan cerita itu, Ats menyimpulkan bahwa gurunya ini bukannya tidak peka, tapi terlalu kikuk dan ragu dengan perasaannya.


Profesor Han pertama kali bertemu dengan Dokter Razana di usia 24 tahun. Itu ketika saudari kembarnya menikah dengan seorang pria dari Keluarga Asir. Tentu saja perasaan itu tak timbul begitu saja. Bisa dibilang, mereka malah sudah saling bermusuhan sejak pertama kali bertemu.


Ats pun menahan tawanya mendengar itu.


Beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan di akademi. Saat itu, Profesor Han bergelar sarjana muda yang sedang meniti jalan magisternya, sedangkan Dokter Razana adalah murid akademi tahun pertama.


Mereka tak banyak berinteraksi selama masa-masa penimbaan ilmu. Barulah saat Dokter Razana menjalankan penelitian untuk studi pascasarjananya, mereka bisa dibilang cukup "akrab". Yah, seperti api dan air begitulah.


Pokoknya, penelitian itu hampir gagal karena Profesor Han terlalu sering mengkritik dan membantah arguman Dokter Razana. Mending kalau ada sarannya. Dokter Razana bahkan hampir menyerah saat itu. Mengetahui itu, Profesor Han pun merasa bersalah.


Anehnya, mereka malah semakin sering terlibat dalam penelitian bersama di bidang teknologi zarahian. Sayangnya, penelitian-penelitian itu juga dipehuni konflik dan persaingan antara mereka berdua. Namun, itulah yang baringkali menjadi pengikat takdir keduanya.


"Itu keren," Ats menatap kagum, "Bagaimana kalau saya menulisnya jadi sebuah novel?"

__ADS_1


"Kamu suka menulis?" Profesor Han mengernyitkan dahi. Ats pun mengangguk. Ia terlihat seperti seorang sastrawan yang baru saja mendapat pencerahan.


"Yah, terserah kamu," Profesor Han mengizinkan. Tak terasa waktu berlalu. Sudah saatnya untuk Ats kembali ke asrama. Hari-harinya di akademi pun akan berlanjut.


__ADS_2