Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 062: Kembali ke Ibu Kota


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan cepat. Sudah waktunya Ats kembali ke ibu kota untuk belajar. Begitu pula rombongan dari Keluarga Kekaisaran Altair.


"Master, terima kasih atas keramahan Anda selama ini," ucap Profesor Han selaku kepala rombongan, "Maaf karena kami sudah banyak merepotkan Anda sekeluarga."


"Ya, aku tidak masalah," Master Aruj membalas dengan datar, "Aku justru berterima kasih karena bisa bertemu dengan cucu perempuanku yang selama ini kalian tahan."


"Ehem," Putri Elnara berdehem, "Mohon maklumi sikap keras kepala kami, Master. Kami melakukan itu demi keselamatan Ayya sendiri. Anda pasti mengerti maksud saya setelah melihat apa yang terjadi kemarin."


"Hais ...," Master Aruj menghela napas. Ia pun menatap Ayya yang berdiri di samping Ats. Ada rasa iba di matanya. Ia bisa mengerti maksud Putri Elnara dengan sangat baik. "Aku tahu. Selama kalian bisa menjaga mereka dengan baik, aku tidak masalah sama sekali."


"Anda tidak perlu khawatir dengan itu, Master," Putri Elnara menjamin, "Kami pasti merawat dan melindunginya sebaik mungkin."


Setelah itu, Profesor Han berbincang dengan Kepala Keluarga Asir. Ia berbasa-basi sejenak sebelum pergi. Kepala Keluarga Asir pun mewejang pada Ats yang akan ikut dalam rombongan.


"Ats," panggil Kepala Keluarga Asir. Ia adalah adik dari ayah Ats. Andai Laksamana Agung Kekaisaran itu masih hidup, ia pasti tak akan menduduki posisi itu sekarang, "Kamu belajarlah yang giat. Pergilah ke mana pun kamu mau. Lihatlah dunia yang luasnya tak terbilang. Kamu bahkan berkesempatan besar untuk berkunjung ke tempat di luar konstelasi. Namun, kamu harus ingat. Keluarga Asir ini adalah tempatmu pulang. Pikirkan juga tawaranku. Sejak awal, kamu berhak atas itu."


"Saya akan memikirkannya dengan matang, Paman Kepala," jawab Ats formal. Saat ini, posisi Tuan Muda Asir sudah dipegang oleh Emir Asir, putra tertua dari kepala keluarga sekarang yang sangat berbakat. Meski begitu, masih banyak orang yang merasa Ats lebih pantas di posisi itu meskipun Ats sendiri tidak menyukainya. "Waktu saya di akademi juga masih banyak. Pasti waktunya lebih dari cukup."


"Jangan pernah meremehkan waktu," Kepala Keluarga Asir mewejang, "Kalau sampai kamu meremehkan waktu, kamu tidak akan sadar sampai waktu itu hampir saja mendahuluimu."

__ADS_1


"Saya mengerti, Paman," angguk Ats menerima wejangan itu. Rombongan pun berangkat. Selama perjalanan, Ayya terus menempel pada Ats. Bagaimanapun juga, ini adalah kesempatan terakhirnya menghabiskan waktu dengan sang kakak.


"Kakak, menginaplah di istana dulu," kata Ayya begitu mereka sampai di ibu kota, "Akademi kan baru dibuka besok."


"Nggak kok," balas Ats, "Hari ini, sudah banyak yang sampai di asrama."


"Kakak ...," Ayya memasang wajah kesal. Pipinya menggelembung besar. Itu membuat Ats gemas ingin mencubitnya.


"Kakak tidak mungkin menginap di Istana Tulip Emas, Ay," Ats mencoba untuk membari pengertian. Mendengar itu, Ayya menatap Putri Elnara dengan tatapan penuh harap sembari memberinya kode untuk mengizinkan Ats menginap barang semalam saja.


"Tidak bisa, Ay," Putri Elnara menggeleng tegas, "Istana Tulip Emas adalah istana para putri. Tidak ada laki-laki yang boleh masuk ke sana, apalagi menginap."


"Ay—" Ats ingin memberi pesan agar Ayya mau melepaskannya. Namun, Putri Elnara lebih dulu menyela, "Kalian tidak perlu tinggal di Istana Tulip Emas. Aku yakin Keluarga Asir kalian punya kediaman di ibu kota. Gunakan saja apa yang kalian miliki."


"Itu merepotkan," Ats langsung mengeluh, "Terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Aku juga belum pernah ke sana."


"Itu tidak sesulit yang kamu pikirkan Ats," Dokter Razana menawarkan bantuan, "Biar aku yang mengurusnya. Kalian tinggal ikut saja nanti."


"Hm, oke," Ats setuju kalau begitu. Ia pun menatap Ayya, "Gimana, Ay?"

__ADS_1


"Ayo!" Ayya langsung setuju. Mereka pun memutuskan untuk menginap di Kediaman Keluarga Asir di ibu kota. Kediaman itu langsung sibuk begitu mendengar kabar rencana kedatangan mereka, bahkan Emir Asir yang kebetulan menempatinya. Untuk memberi mereka kesempatan bersiap, Dokter Razana mengajak keponakannya untuk jalan-jalan di ibu kota terlebih dahulu.


***


"Agen kita gagal? Bukannya ia eksekutif kita di Pulau Reda?" tanya Adipati Altalimain meminta pertanggungjawaban. Wajahnya mengeras berang. Ada bara yang menyala di matanya.


"Pangeran Han dan Putri Elnara berkunjung ke sana, Tuan," jawab Arunqa Bey beralasan, "Sepertinya, gosip mengenai pernikahan pangeran bujang itu benar. Mereka datang ke Pulau Reda untuk melamar putri Keluarga Asir."


"Apa hubungannya itu dengan kegagalan kalian?" Adipati Altalimain tak menerima alasan sepele begitu. Arunqa pun hanya dapat menjawab sesuai laporan yang diterimanya. "Tuan, putri Keluarga Asir itu adalah bibi kandung dari Tuan Muda Asir. Kemungkinan, dia terlalu sibuk dengan acara keluarganya sampai tak bisa menerima undangan dari agen kita."


"Apa itu pantas disebut dalih?" Adipati Altalimain tak mau menerima alasan konyol semacam itu. Tangannya mengepal erat. Tatapannya menusuk tajam.


"Tuan, Tuan Muda Asir sudah menerima undangannya," jawab Arunqa ragu, "Tapi, dia hanya mengirim utusan atas undangan itu tanpa datang langsung."


"Hais ...!" Adipati Altalimain tak habis pikir. Sebenarnya, bocah itu tak terlalu penting sampai ia harus mengirim eksekutifnya di Pulau Reda untuk membujuk. Lagi pula, penelitian tentang sistem itu masih belum selesai sepenuhnya. Masih banyak celah dan kemungkinan gagal. Jadi, tak ada gunanya terlalu berharap.


"Sudahlah, lupakan dia bergabung dengan kita untuk saat ini," Adipati Altalimain tak peduli lagi, "Awasi saja penelitiannya. Kalau mereka berhasil, barulah kita mengambilnya suka atau tidak suka."


"Dimengerti," Arunqa menerima titah itu tanpa protes sedikit pun. Dengan perintah itu, ia langsung memikirkan berbagai rencana, baik dengan cara halus maupun kasar. Dengan begitu, selama Adipati Altalimain memberi perintah, ia bisa langsung menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2