Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 078: Pembalasan Kilat


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Solar heran.


"Aku tidak tahu detailnya," jawab Ats cepat, "Tapi aku yakin bahwa itu adalah ledakan."


"Itu mungkin serangan dari Pos Meriam A," tebak Ali yang tengah fokus pada keseluruhan peta Arena padang pasir ini. Ada empat basis komando yang terlihat di sana, tapi hanya ada dua regu yang bertarung. Itu menambah kesulitan dan keuntungan tertentu.


"Pos Meriam A?" Ats memperhatikan salah satu titik pos pada peta tiga dimensi. Titik pos itu berwarna hijau, menandakan ia masih bisa digunakan. Tak jauh darinya, ada sebuah titik hitam yang menandakan bahwa pos di sana sudah musnah atau runtuh. Itu adalah pos yang Arjuna dan Ain tempati tadi.


"Hm," Ali mengangguk, "Pos meriam itu adalah yang paling dekat dengan tempat Tim Mata 1. Aku sangat yakin bahwa serangan datang dari sana."


"Itu pos yang cukup jauh dari jangkauan wilayah basis komando kita," Ats memicingkan mata, "Tapi, kita bisa dapat informasi bahwa musuh ada di Basis Komando C atau sudah menguasainya. Bagaimana dengan pos meriam di sisi kita?"


"Kedua pos meriam sudah dikuasai," lapor Siver dari tempatnya, "Mereka dalam kondisi siaga."


"Bagus," Ats menyeringai tipis, "Siapkan serangan pertama."


"Ha? Baiklah," meskipun Siver sedikit heran, ia tetap melaksanakan perintah itu. Bagaimanapun juga, meriam-meriam mereka harus dalam kondisi siap siaga.


"Melaporkan kegiatan user lain," Arselan muncul di samping Ats dengan wujud kucing militernya, "Menandai kawan dan lawan."


"Siver, hancurkan pos menara D!" titah Ats setelah Arselan melaporkan keberadaan orang di sana, "Mari balas serangan mereka."


"Kamu yakin di sana ada orang?" Ali mengerutkan keningnya. Peluru artileri mereka sangatlah terbatas. Tak baik menyia-nyiakan peluru hanya untuk menghancurkan pos menara kosong.


"Ada," jawab Ats tanpa ragu.

__ADS_1


"Oke," Siver pun melaksanakan perintahnya. Jari-jemarinya bergerak dengan cepat di depan gawai lebar tempatnya mengoperasikan sistem pertahan. Ia menyelesaikan persiapannya kurang dari satu menit. "Misil siap diluncurkan."


"Tahan sebentar," Ats mendapat laporan bahwa datang dua kendaraan kavaleri ringan di pos menara yang diincarnya. Setelah kedua kendaraan itu sampai di radius ledakan misil, ia pun berseru, "Tembak!"


Siver menekan sebuah tombol di meja operasinya. Dalam sekejap, sinyal perintah penembakan dikirimkan ke sebuah pos meriam artileri jarak jauh. Meriam yang sudah melongo ke langit di pos itu pun memuntahkan misilnya.


"Target berhasil dimusnahkan," lapor Siver begitu misil menghancurkan sasarannya. Ats pun kembali memintanya untuk menyiapkan serangan artileri medan. Tanpa banyak protes, operator meriam itu melaksanakannya dengan cepat.


"Belati 1, rebut pos pertahanan A-2 di sisi utara wilayah 3, ambil pos meriam C-2! Bergeraklah lurus ke timur,” ucap Ats memberi arahan, “Mata 2, bergeraklah secepat mungkin ke bukit terdepan di bagian tenggara. Mata 3, ambil alih bukit bagian paling utara dan awasi pergerakan dari basis komando A di sana. Belati 3, Belati 4, bersiap untuk mengambil alih basis komando A.”


Ali memperhatikan instruksi Ats dengan seksama. Ia berperan sebagai operator yang bertanggung jawab atas komunikasi dan data pertempuran. Dilihatnya daftar orang-orang yang telah tereliminasi dari kedua belah pihak.


Dua orang telah tereliminasi dari Regu Yildirim. Mereka adalah Arjuna dan Ain yang ditembak meriam di awal permainan. Adapun Regu Asman, mereka kehilangan tujuh orang barusan. Itu adalah kerugian yang cukup besar.


"Positif," lapor Tim Mata 3, "Dua kendaraan musuh mendekat."


"Belati 3, Belati 4," panggil Ats melalui gawai telekomunikasinya, "Musnahkan musuh. Kepung mereka dari dua sisi!"


"Dimengerti!" jawab Tim Belati 3 dan Tim Belati 4 serempak. Mereka pun mengikuti arah yang Ats tunjukkan. Begitu musuh terlihat, mereka langsung melancarkan serangan.


"Lima orang tereliminasi," Ali melaporkan, "Apa kita masih perlu mengambil basis komando A? Musuh sudah menderita banyak kerugian."


"Aku tahu," Ats mengangguk pelan, "Tapi kita tetap membutuhkannya untuk menambahkan poin."


"Positif!" seru Tim Mata 2, "Musuh bergerak memutar jauh ke selatan. Ada sekitar dua tim di sana."

__ADS_1


"Itu berarti, basis komando mereka sudah sangat lemah," komentar Siver, "Ayo kita hancurkan mereka secepatnya."


"Yah, benar," Ats setuju dengan usulan itu, "Tapi kita harus menyiapkan pos meriam di sisi selatan untuk menghancurkan mereka. Siapkan pertahanan!"


"Kita sudah siap sejak tadi, Bung," Siver menyeringai tipis, "Aku sudah mengunci wilayah selatan dengan artileri medan. Mereka akan langsung masuk ke jarak tembak meriam jika menghindari serangan itu."


"Bagus," Ats senang mendengarnya, "Musnahkan mereka pada waktunya."


"Belati 4, bertahanlah di Basis Komando A. Mata 2, ambil alih Basis Komando C," seru Ats semangat, "Belati 1, Belati 2, Belati 3, bersiap untuk menyerbu markas musuh."


"Akhirnya," Solar berseru senang.


"Jangan lupa untuk menyabotase meriam-meriam musuh dahulu," Ali mengingatkan. Solar pun membalas, "Kami sudah membasmi mereka. Tinggal sedikit lagi."


"Tim penyerang musuh memasuki wilayah," Siver pun meminta izin untuk menembakkan artileri. Begitu Ats menurunkan izinnya, ia langsung menekan tombol di mejanya. "Mereka menghindar. Bagus, mereka masuk ke jarak tembak meriam."


"Musnahkan!" titah Ats lugas.


Meriam di wilayah selatan langsung menembakkan pelurunya. Ali pun segera melaporkan jumlah musuh yang tereliminasi dengan semangat. Ini adalah perkembangan yang sangat signifikan.


“Berapa jumlah musuh tersisa?” tanya Ats kemudian.


“Tiga orang di basis komando, Ats,” jawab Ali dengan senangnya, “Kita sudah berhasil mengeliminasi semua pasukan penyerang dan pertahanan mereka.”


“Bagus, saatnya penghabisan!” Ats pun memerintahkan seluruh Tim Belati untuk maju. Kemenangan mereka jelas di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2