Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 027: Perasaan Gundah Dalam Hati


__ADS_3

"Benar," gumam Ats setelah beberapa saat terdiam, "Aku memang punya adik, tapi aku bahkan tak pernah mengenalnya sama sekali. Kenapa aku malah memikirkannya sekarang?"


Ats ingin mengingat suara itu sekali lagi, tapi ia ingatan itu malah sudah meredup sekarang. Padahal, suara itu sangat mengusik tidurnya tadi. Sampai-sampai, seolah gadis itu ada tepat di sampingnya. Ia pun hanya dapat menggeleng pelan. Tak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kondisinya sekarang.


"Pemeriksaan selesai!" lapor Arselan kemudian. Ia kembali muncul dengan wujud kucing dokternya. Sistem itu pun melanjutkan, "Driver dalam kondisi normal. Tak masalah apa pun."


"Kamu serius? Hai, aku merasa pusing saat bangun tidur tadi," balas Ats datar. Ia memang sudah tidak pusing lagi. Tubuhnya pun terasa lebih bugar sampai ia merasa tak mau kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.


"Tubuh Anda dalam keadaan terbaik," ucap Arselan tegas. Sistem itu membusungkan dada dengan tubuh kucingnya. Ada ekspresi percaya diri kuadrat di wajahnya. Ia yakin diagnosisnya tidak salah sama sekali.


"Hais ... aku mengerti, aku mengerti," Ats menghela napas panjang, "Singkirkan wajah menyebalkan itu. Aku sedang tak ingin melihatnya."


"!?" Arselan buru-buru mengganti tampangnya. Ia menggunakan wajah kucing dengan senyuman paling imut untuk menghibur Ats. Ini lebih baik untuk kebaikan tuannya itu.


"Masih pukul tiga pagi," gumam Ats ketika melihat jam di ponsel pintarnya. Matanya menyapu seantero akademi yang remang dan sunyi. Hanya ada beberapa lampu penerangan yang hidup di pinggir-pinggir jalan.


"Manfaatkan waktu Anda dengan baik, Tuan," sahut Arselan yang ini muncul di atas kepala Ats, "Saya rekomendasikan untuk tidak tidur kembali."


"Haha ... kamu benar kali ini," Ats tersenyum simpul. Ia pun kembali ke kamarnya, lantas mengambil air untuk bersuci. Setelah tubuhnya menjadi lebih segar dari sebelumnya, ia melaksanakan sembahyang pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hidup ini, tak ada yang lebih menenangkan selain bersandar kepada Yang Mahakuasa.


***


"Ayya, kamu nggak tidur?" tanya Hafiza yang berjalan ke balkon kamar sambil mengucek matanya. Masih ada sisa kantuk di wajahnya. Namun, Ayya yang berdiri termangu sendirian lebih menarik perhatiannya.


"Hafiza?" Ayya menoleh pelan. Ada rona sedih di wajahnya. Sepertinya, ia baru saja menangis.


"Kenapa kamu berdiri di situ?" Nanti sakit loh," ucap Hafiza khawatir. Angin malam berhembus lebih kencang malam ini. Ayya yang lemah bisa masuk angin jika terus berdiri di sana seperti itu.


"Nggak kok, Za," Ayya menggeleng pelan, "Aku kan putri yang kuat."

__ADS_1


"Kamu harus pakai kemul. Emangnya nggak kedinginan?" Hafiza membagi selimut yang dibawanya. Ayya pun menerima selimut itu sambil tertawa kecil dan berterima kasih. Akhirnya, mereka berdiri bersama di balkon kamar sembari menatap pemandangan kota yang indah di malam hari.


"Kenapa nggak tidur?" tanya Hafiza. Ada sisa kecemasan di mukanya yang sudah tidak mengantuk.


"Aku mau ketemu kakak," jawab Ayya lirih. Putri kecil itu pun menekuk wajahnya sedikit. Di tatapnya taman istana yang cantik di bawah sana. Ia tahu bahwa harapannya itu tak akan terwujud sampai beberapa waktu lagi.


"Sabar, Ayya," Hafiza tersenyum manis dan mengelus kepala Ayya dengan lembut, "Cuman tinggal satu setengah bulan lagi kok. Sebentar lagi, akademi bakal libur panjang."


"Hm," Ayya mengangguk pelan. Putri kecil itu memang harus bersabar. Selama hidupnya, ia baru melihat kakak kandungnya sekali. Itu pun saat sang kakak sedang terbaring tak sadarkan diri di ranjang putih rumah sakit.


"Kamu benar, Hafiza," Ayya pun tersenyum simpul, lantas berkata dengan penuh ketulusan, "Aku pasti akan bersabar."


***


"Hai, kalian sudah dengar, belum?" tanya Arjuna di tengah sarapan. Ats dan yang lainnya pun menoleh. Mereka terlihat penasaran. "Apa?"


"Kak Salam," jawab Arjuna, "Dia nggak kelihatan sejak hari itu. Dengar-dengar, dia dipanggil ke Kantor Administrasi Akademi."


"Kenapa dia dipanggil ke Kantor Administrasi?" tanya Solar yang kemudian menebak, "Gara-gara nilainya jelek terus."


"Mungkin sih," Putu mengangguk setuju, "Tapi ada juga yang bilang kalau dia kena masalah."


"Masalah apaan?" tanya Solar lagi.


"Apa, ya?" Arjuna berusa mengingat-ingat.


"Manipulasi data," Putu yang akhirnya menjawab, "Tapi itu cuman suara angin. Kayaknya sih, lebih gara-gara nilainya. Akademi kan menuntut prestasi kepada seluruh muridnya."


"Hais ... aku kan sudah bilang?" Arjuna menyela, lantas menceletukkan imajinasinya, "Dia itu pura-pura lemah. Dia mungkin mata-mata yang dikirim sama organisasi rahasia buat suatu misi di akademi. Buktinya, dia berani memanipulasi data diri. Iya kan, Ats?"

__ADS_1


"Uhuk!?" Ats yang baru minum langsung tersedak. Itu membuat teman-temannya menahan tawa. Putu pun menepuk-nepuk pundaknnya sembari berkata, "Santai, Ats. Santai dulu. Habisin dulu minumannya."


"Arjun emang parah sih," komentar Solar.


"Apa sih?" Arjuna membalas ketus. Ia tak meminta tanggapan bocah dari Keluarga Efendi itu. "Sewot amat."


"Hais ... dasar. Aku nggak nyangkal deh. Kamu emang parah, Jun," Ats memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Arjuna dan membiarkan topik terus mengalir ke sisi lain. Sejujurnya, ia kagum dengan intuisi Arjuna yang nyaris tepat itu. Mereka hanya tinggal mengonfirmasikan tebakannya saja.


"Lah, kok jadi aku yang salah sih?" Arjuna tak terima. Meski begitu, pemuda yang sering bercelak itu tetap cengengesan bersama yang lain.


"Yah, emang kamu yang salah," Putu ikut-ikutan menyalahkan. Mereka terus berdebat sampai sarapan habis. Pada akhirnya, mereka melupakan topik tentang Salam yang tadinya mereka bahas.


"..."


Pagi itu, Ats berangkat ke sekolah mendahului kawan-kawannya. Ia termenung sendirian di kelas yang masih sepi. Pikirannya berhalu ke mana-mana. Entah mengapa, ia merasa ada banyak hal yang mengganggu batinnya sejak dini hari tadi.


"Mata-mata, ya? Apa Salam Eden memang mata-mata?" batin Ats sambil memandang ke luar jendela. Murid-murid akademi mulai terlihat berdatangan di halaman sekolah, termasuk Arjuna dan Putu.


"Arselan, bisa tolong tunjukkan profil kematian Salam Eden," pinta Ats yang kemudian langsung direspon oleh Arselan. Sistem itu memunculkan sebuah dokemen dengan tampang kucing pustakawannya. Ada kacamata bundar di matanya.


"Salam Eden—" Ats mulai membaca data kematian murid payah yang mencurigakan itu. Ia merasa ada yang familiar dengan tanggal dan tempat kematiannya yang tertera dalam dokumen. Itu seperti ....


"Tanggal ini!?" Ats tercengang begitu teringat satu hal, tapi ia masih ragu. ia pun meminta Arselan, "Tolong telusuri setiap berita dan riwayat mengenai tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya."


"Siap, Tuan," Arselan memberi hormat cendekiawan yang anggun. Ia pun menghilang sebentar, lalu muncul kembali dengan ribuan data di belakangnya.


Data-data itu pun menyatu. Mereka membentuk sebuah katalog yang rapi dalam satu layar hologram. Arselan pun menunjukkan layar itu kepada Ats.


"Tanggal 1, bulan 4, tahun 123 Pascaskema—" tangan Ats gemetar begitu membaca tanggal itu. Ia ingat sekarang. Itu adalah hari yang sangat mengguncang kekaisaran. Hari yang sangat kelam dan menyedihkan, apalagi bagi Ats dan Keluarga Asir. "Ini—"

__ADS_1


"Ats," Arjuna menepuk pundak Ats yang masih gemetaran. Ada kekhawatiran pada mimik pemuda bercelak itu. "Kamu kenapa?"


__ADS_2