Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 043: Penolakan


__ADS_3

"Mohon maaf, Master," ucap Ats dengan tanpa mengurangi rasa hormatnya, "Saya menolak."


"Hm? Kenapa?" Master Eden mengerutkan keningnya. Ia yakin sudah menceritakan keuntungan terbaik yang akan Ats dapatkan setelah menerima tawarannya nanti.


"Saya harus fokus pada bidang yang saya tekuni sekarang," jawab Ats sambil memikirkan hari-harinya yang selalu penuh dengan kesibukan. Andai kelasnya ditambah lagi, ia akan sangat keteteran. "Sayangnya, kelas yang Anda tawarkan berbeda cabang dengan bidang saya."


"Tidak sama sekali," bantah Master Eden, "Kelasku justru akan sangat membantumu semakin berkembang. Coba pikirkan lagi."


"..."


Ats terdiam. Bukannya memikirkan ulang tawaran Master Eden, ia malah mencari-cari alasan lain untuk menolaknya. Pada akhirnya, ia pun tetap menggeleng.


"Saya tetap tidak bisa," ucap Ats sambil mengharapkan pengertian, "Anda pasti bisa menemukan orang lain yang lebih pantas daripada saya."


"Kamu yakin?" tanya Master Eden menguji.


Ats mengangguk tanpa keraguan sedikit pun. Ia benar-benar tak berniat untuk ikut dengan Kelas Reserse sama sekali. Terlalu banyak kelas akan membuat kesehariannya berat. Kalau ia terlalu berlebihan memaksakan diri, ia mungkin akan jatuh lagi, kemudian mendengar omelan bibinya yang sangat cerewet.


"Hais ... baiklah kalau kamu memang tak mau," Master Eden menghela napas kecewa, "Aku tak akan memaksamu."


"Terima kasih atas pengertian Anda, Master," balas Ats sopan.


"Hai, Master Eden," Master Khaled mendekat dengan wajah yang penuh curiga, tapi ada senyum santai di sana, "Aku sempat mendengar hal yang menarik barusan. Apa yang kamu katakan padanya tadi?"


"Bukan apa-apa," jawab Master Eden dengan senyum yang serupa dengan senyuman Master Khaled, "Kamu tak perlu risau. Lagi pula, ia sudah menolak proposalku."


Master Eden pun segera berlalu pergi bersama Arjuna. Tampaknya, ia sudah selesai mengamati pelatihan para murid. Ada hal lain yang harus ia kerjakan.


"Hais ...," Master Khaled menghela napasnya, entah lega, entah sebal, "Jujur saja, aku mengakui kemampuannya. Bisa dibilang, ia tak kalah hebat denganku, bahkan mungkin lebih baik menimbang banyaknya pengalaman yang ia punya. Kenapa kamu tidak mau menerima tawarannya?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa," Ats menggeleng pelan, "Bibi saya akan sangat marah kalau saya menjadi murid beliau."


"Kamu serius?" Master Khaled mengerutkan kening sembari mengamati mimik wajah Ats yang tak berubah sama sekali.


"Dua rius," jawab Ats bercanda. Ia pun menyungging secarik senyum kecil dan menggeleng, lalu memberi penjelasan sesungguhnya, "Untuk beberapa alasan, saya tidak bisa bergabung bersama beliau."


"Hm, apa karena keluargamu?" tebak Master Khaled.


"Bisa jadi," Ats mengangkat bahu, "Mengikuti kelas beliau pasti memiliki beberapa konsekuensi. Meskipun banyak manfaat yang bisa saya terima, tapi tetap saja tak sebanding dengan akibatnya."


"Oh, aku mengerti," Master Khaled tersenyum puas, "Kamu anak yang berbakti Ats. Keluargamu pasti bangga."


"Hm," Ats tersenyum simpul. Ada secarik kerinduan di matanya. Saat mengingat keluarga, memorinya selalu berjalan ke tempat ayah dan ibunya yang sudah tiada. Ia masih belum tahu banyak tentang adiknya, bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya. Andai ia memiliki memori dengannya, apa yang akan ia rasakan di hatinya?


***


"Begitu, ya?" Iskandar menatap sosok Ats yang tengah berjalan dari salah satu gedung di sekitar jalan utama, "Dia tetap menolaknya bahkan setelah bertemu beliau."


"Hm, lakukan saja seperti biasanya," Iskandar mengangguk maklum, "Dia memang keras kepala seperti ibunya. Kita malah akan semakin kerepotan bila terus memaksanya. Bagaimana dengan 'pihak' sana?"


"Sama seperti kita, mereka masih melakukan pengamatan," jawab pria muda itu, "Sudah dipastikan bahwa mereka juga mengincar 'sistem' dan Tuan Muda Asir. Namun, belum ada pergerakan berarti dari mereka."


"Lakukan pengawasan dengan lebih teliti," titah Iskandar lugas, "Pastikan mereka tak memiliki celah untuk mendekati Tuan Muda Asir itu."


"Baik, Yang Mulia," pria itu mengangguk. Ia pun berdiri dari duduknya, lalu kembali menjadi dirinya yang biasa. Ketika ia keluar dari ruangan tempatnya melaporkan pengawasan, seseorang tetiba memanggilnya.


"Instruktur Mus," panggil seorang pria beralis tebal, "Kebetulan sekali, saya sedang mencari Anda."


"Sarjana Lee?" pria yang dipanggil Instruktur Mus itu menoleh.

__ADS_1


"Saya ingin meminta pendapat Anda terkait anak ini," Sarjana Lee menunjukkan sebuah data diri digital yang tersimpan dalam gawainya, "Jika Anda berkenan, mari kita pergi ke kantin."


"Anak ini—" Instruktur Mus mengerutkan kening begitu melihat foto anak muda yang Sarjana Lee tunjukkan itu.


"Dia salah satu murid Anda di Kelas Menambak," jelas Sarjana Lee, "Saya butuh sedikit informasi mengenai kemampuannya di bidang itu untuk pendataan."


"Hm, baiklah," Instruktur Mus mengangguk, "Mari."


***


Hari-hari Ats yang sibuk berjalan seperti biasa meskipun ia terkadang merasa risih dengan pengawasan yang dilakukan oleh berbagai pihak. Arselan rutin memberi laporan mengenai individu-individu mencurigakan yang terus mengikutinya. Itu sangat mengganggu, tapi ...


Yah, abaikanlah mereka semua selama tidak megusik dan menggali privasinya terlalu dalam. Semoga saja, mereka segera pergi dari sini.


Tanpa terasa, musim ujian pun dimulai. Di Akademi Altair, ujian dilakukan dalam tiga tahap selama sebulan yang meliputi ujian praktek, ujian lisan, dan ujian tulis. Ujian-ujian itu membuat para murid belajar lebih giat dari biasanya. Kelas tambahan pun ditiadakan selama musim ujian.


Setelah tiga minggu perjuangan panjang, festival akademi diadakan. Badan Eksekutif Akademi yang terdiri atas murid tahun keempat ke atas mengadakkan lomba-lomba seru dalam festival tersebut. Seperti biasa, angkatan-angkatan senior mendominasi kemenangan di hampir setiap lomba, sedangkan anak-anak tahun pertama yang persatuannya belum tumbuh hanya memenangkan beberapa lomba solo, itu pun tak ada yang juara 1.


"Sebentar lagi liburan," Arjuna asal mencomot topik tepat setelah pengumuman hasil lomba festival usai. Ia sudah tak sabar untuk bersua kembali dengan keluarganya. Itu adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid di akademi setelah berbulan-bulan tak pulang.


"Kalian mau pada ke mana?" tanyanya.


"Latihan," jawab Solar singkat.


"Kurang tahu sih," Putu berpikir sejenak, "Mungkin ke Altalimain kayak biasa."


"Hm, di sana emang banyak destinasi wisatanya sih," Arjuna mengangguk setuju dengan perkataan itu. Ia pun menatap Solar dengan hambar, lalu berkomentar, "Masa kamu cuman mau latihan aja waktu liburan. Kayak bukan hari libur aja."


"Terserah aku dong," jawab Solar cuek. Pandangannya pun tertuju pada Ats yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, "Kalau kamu, Ats. Liburan nanti mau ke mana?"

__ADS_1


"Nggak ke mana-mana sih. Di rumah aja," Ats juga berharap agar para pengganggu yang terus mengikutinya itu pergi. Ia akan menuliskan protes tertulis secara resmi kepada Iskandar nanti. Pokoknya, para penguntit itu tak boleh mengikutinya sampai ke Wilayah Keluarga Asir. Kalau tidak ...


"Awas saja mereka."


__ADS_2