Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 021: Tugas Keseharian


__ADS_3

"Hai, Ats!" panggil Solar pagi itu, "Udah kamu bilangin ke Master Khaled, belum?"


"Udah, temui aja beliau nanti siang," jawab Ats datar. Ada sisa lelah yang belum hilang di wajahnya. Pelatihan dengan Master Khaled kemarin sore sangat keras seperti biasa. Benar-benar menguras tenaganya.


"Beneran boleh?" Solar terlihat girang, tapi tetap berusaha untuk menahannya karena gengsi. Sebagai salah satu calon pewaris di keluarganya, tentu ia diajari untuk mengendalikan emosi demi menjaga martabatnya. "Tinggal ketemu habis pulang sekolah aja, kan?"


"Yah, paling langsung diuji juga," tegas Ats yang masih saja berwajah datar, bahkan terkesan lesu, "Semangat, ya. Kamu harus bisa lulus ujian dari beliau."


"Pasti," ucap Solar optimis. Ada semangat yang terpancar darinya. Itu membuat Ats tertawa kecil melihatnya.


Arjuna dan Putu yang ada di dekat keduanya pun menggeleng miris. Mereka tahu betapa menderitanya Ats di bawah bimbingan Master Khaled. Master Zaharian itu sungguh kejam terhadap murid didiknya. Karena itulah mereka menolak ajakan Ats.


"Laporanmu sudah selesai, Jun?" tanya Ats begitu mengingat tugas-tugas ilmiahnya yang hampir masuk tenggat waktunya. Pemuda bercelak yang ia tanyai itu pun menggeleng, lantas menjawab singkat, "Tinggal sedikit lagi. Banyak banget nih tugas dari akademi."


"Kamu sendiri, Ats," tanya Putu menyahut, "Kamu ikut Kelas Penelitian Ilmiah, kan? Emangnya nggak ada tugas-tugas laporan gitu?"


"Ada dong," Ats mengangguk, "Tapi tenggat waktunya masih lama buat yang itu. Peranku di sana juga nggak banyak kok. Kakak seniorku pingin aku lebih fokus ke penelitianku yang sama Profesor Han aja."


"Eh, Profesor Han bukannya pengampu Kelas Penelitian Ilmiah, ya?" Putu kembali bertanya, "Beliau guru senior, kan?"


"Yah, beliau memang pengampu Kelas Penelitian Ilmiah," jawab Ats, "Tapi tingkat sarjana ke atas."

__ADS_1


"Lah, kamu?" Solar merasa janggal.


"Yah, gitu deh," Ats menjawabnya asal-asalan dan mengingat momen pertamanya mendapatkan Arselan, "Gara-gara satu-dua hal. Mungkin aku beruntung."


"Tapi juga sial," ejek Arjuna menimbang betapa menderitanya Ats di bawah tekanan Master Khaled. Ats hanya tertawa hambar mendengar itu. Dia tidak perlu menanggapinya dengan serius.


Hari ini, pelajaran Sejarah Dunia kembali diadakan. Mereka akan bertemu lagi dengan Profesor Surya, guru kejam yang selalu memberi setumpuk tugas berat kepada murid-muridnya. Dia tak akan segan menahan muridnya satu semester kalau nilai mereka kurang satu poin saja di bawah rata-rata. Namun, bila dibandingkan dengan Master Khaled, dia masihlah ramah.


"Pertama," ucap Profesor Surya setelah berbasa-basi sejenak, "Saya ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah mampu menyelesaikan resumenya tepat waktu. Meskipun masih banyak yang kurang dan harus dikoreksi, kalian sudah bekerja dengan baik untuk murid tahun pertama."


Kelas menjadi hening ketika Profesor Surya menjeda ucapannya untuk menatap seluruh murid. Ia sudah mengenal semua muridnya dengan baik meskipun jarang berinteraksi langsung dengan mereka. Baginya cukup dengan melihat foto profil resmi dari akademi untuk dapat menghafal wajah mereka semua. Mungkin dia punya kemampuan memori fotografi.


"Dan, kalian yang belum belajar dengan serius," lanjut Profesor Surya dengan suaranya yang terkesan dingin dan mengintimidasi, "Camkan peringatan ini! Aku tidak akan segan mengulang kelas kalian meskipun itu untuk kedua atau ketiga kalinya. Jika sampai kalian tak lulus juga setelah itu, lebih baik kalian enyah dari akademi ini."


"Buka halaman 476!" ucap Profesor Surya kemudian, "Kita akan menguraikan dampak hilangnya Benua Altair dari muka bumi."


Para murid langsung menyalakan gawainya dan membuka halaman yang Profesor Surya minta. Ada foto sebuah daratan yang hancur di sana. Bentuknya amat mengenaskan. Sebagian besar wilayahnya sudah tergenang oleh lautan yang tercemar.


Itu adalah lempeng Benua Altair. Tak ada yang bisa hidup di sana selama puluhan tahun sejak hujan hulu ledak nuklir kecuali makhluk-makhluk mikroskopis ekstrim. Itu karena tragedi terbesar di awal masa perang dunia.


"Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya," Profesor Han menunjukkan foto sekelompok tentara di era itu pada papan elektronik di kelas, "Klan-klan dari Kaum Aklali sangat marah dengan perbuatan Klan Vyro. Mereka ikut merasa terancam karena perbuatan sembrono itu. Sejak itu, Klan Vyro pun menjadi musuh seluruh dunia."

__ADS_1


Namun, dengan persenjataannya yang kuat dan mutakhir, Klan Vyro masih dapat mempertahankan kedigdayaannya di muka dunia. Apalagi setelah mereka berhasil memusnahkan satu benua yang pernah menjadi tempat bagi sebuah kekaisaran terkuat masa itu. Tentu itu membuat klan-klan lainnya tak bertindak gegabah meskipun terang-terangan menunjukkan permusuhannya.


Klan Saval, Alian, Nord, dan Ilan adalah klan besar yang tersisa dari Kaum Aklali setelah Klan Zarah dimusnahkan. Mereka mendominasi dunia bagian selatan secara utuh. Dengan aliansi yang kuat, mereka mengecam setiap tindakan Klan Vyro agar mereka segera menghentikan invasi.


Di sisi utara, Klan Vyro terus melancarkan invasinya. Berawal dari pencaplokan sebagian besar wilayah Klan Hydro di timur, lalu mulai ke tengah tempat Klan Aero berada. Invasi-invasi itu berjalan sangat cepat bagai kilat yang menyambar di langit.


Tahun kelima pascaskema, setengah bagian Klan Aero sudah direbut. Mereka pun menuntut bantuan dari Klan Geo. Andai Klan Geo tak segara maju dan membangun pertahanan yang kuat di sisa wilayah Klan Aero, pasti Klan Vyro akan melaju lebih cepat dan menaklukkan Klan Aero sebagaimana Klan Hydro.


"Setelah tertahan di wilayah tengah Klan Aero, Klan Vyro memutuskan untuk melanjutkan invasinya ke Selatan," Profesor Surya menunjuk arah invasi Klan Vyro yang tercatat di peta. Ada banyak sekali warna di sana. Setiap warna mewakili klan yang berbeda. "Seperti yang kalian lihat, Klan Vyro berhadapan langsung dengan dua klan di sini. Itu adalah tindakan paling gegabah kedua yang mereka lakukan."


Klan Saval dan Klan Alian yang diserang oleh Klan Vyro tentu tak tinggal diam. Mereka melakukan segala upaya untuk melawan keganasan Klan Vyro yang semakin menggila. Perang itu berlangsung sangat lama. Mereka terus saling berebut wilayah selama beberapa tahun lamanya.


Di sisi selatan bagian timur, Klan Ilan yang menguasai kepulauan matahari terbit ikut membantu menyerang. Mereka memulainya dengan membebaskan wilayah-wilayah Klan Hydro yang dijajah. Hal itu membuat konsentrasi Klan Vyro terpecah.


Saat ketiga klan dari Kaum Aklali lainnya sedang berjuang melawan Klan Vyro, Klan Nord yang merupakan klan besar terkecil fokus pada pekerjaannya di benua paling mungil di selatan. Mereka bertanggung jawab atas suplai persenjataan sehingga klan-klan lainnya dapat bertahan.


"Dengan aliansi sebesar itu," pandangan Profesor Surya menyapu ke seluruh ruangan, memanfaatkan tak ada satu pun muridnya yang tertidur, "Apa menurut kalian Klan Vyro akan takluk begitu saja?"


Sebagian murid serentak menggeleng. Klan Vyro terkenal sangat gigih. Mereka bahkan sempat merebut negeri-negeri penting dari Klan Saval dan Klan Alian. Kalau saja mereka punya armada laut yang kuat, tentu Klan Ilan pun akan kehilangan pulau-pulaunya.


Bertahun-tahun perang terus terjadi. Keadaan di bumi jadi semakin kacau. Apalagi ketika klan-klan kecil dari Kaum Elemental mulai memihak pada Klan Vyro. Itu membuat aliansi dari Kaum Aklali kesulitan, juga aliansi Klan Aero dan Geo.

__ADS_1


"Profesor," seorang murid berkacamata mengangkat tangan, "Apa yang akan terjadi seandainya Klan Zarah tidak melancarkan Skema Menghilang dari Muka Bumi?"


__ADS_2