
"Kelas tambahan tuh fleksibel, kan?" tanya Arjuna di ruang makan saat sedang sarapan, "Dari awal pendaftaran, Kelas Menambak nggak ngasih tahu sama sekali daftar anggotanya yang lulus."
"Iya sih, kayaknya," jawab Putu setelah menelan sisa makanan di mulutnya, "Aku pernah dengar kalau di kelas semacam Kelas Menambak itu sistemnya kayak seleksi alam. Jadi, kamu nggak bakal diakui sebagai anggotanya sampai benar-benar lulus dari akademi. Kalau kamu bisa bertahan sampai kelulusan, kamu bisa dapat keuntungan yang besar di bidang militer. Kalau nyerah di tengah jalan ... yah, berarti segitu aja kemampuannya."
"Oh, pantesan senior di sana cuman sedikit," Arjuna manggut-manggut, lalu melahap lagi serapannya.
"Katanya, senior Kelas Menambak hebat-hebat, ya?" tanya Ats penasaran. Ia pernah dengar dari Fang bahwa kawan-kawannya yang bertahan sampai saat ini sangat luar biasa. Mereka bisa membidik beberapa objek bergerak dalam waktu kurang dari semenit. Kabarnya, mereka juga sering melakukan latih tanding di tempat khusus, bahkan melakukan perburuan di spot yang disediakan oleh pemerintah.
"Ya, maklum sih. Instrukturnya galak banget," Arjuna mengingat saat-saat ia dan murid-murid baru lainnya dibentak kemarin, "Eh, tapi ada loh senior yang belum jago. Hebatnya, dia nggak nyerah sama sekali, padahal sering dimarahi sama instruktur."
"Tekadnya kuat," puji Solar datar.
"Hm," Arjuna mengangguk setuju, "Namanya siapa, ya? Salim-kah? Atau Salman?"
"Salam," Putu meluruskan, "Dia kan memang orang yang populer. Meskipun bakatnya kurang, dia nggak pernah nyerah sama sekali."
"Oh, yang itu toh," Ats ingat ceritanya, "Murid yang dapat peringkat terakhir terus, kan?"
"Ya," Putu mengangguk, "Padahal dia rajin banget."
"Hmph! Berarti kerjanya nggak efektif," Solar memberi penilaian yang berbeda dari teman-temannya terkait murid payah itu, "Nggak ada orang yang bodoh di dunia ini. Dia pasti bisa lebih baik. Harusnya, dia nggak cuman kerja keras, tapi kerja cerdas."
"Hm?" Ats dan lainnya serentak menoleh, "Yah, nggak salah sih, tapi senior itu juga nggak salah. Pasti ada yang dia dapat setelah berusaha sebanyak itu."
"Atau," Arjuna memikirkan sesuatu lain yang berbeda pula, "Mungkin saja dia cuma pura-pura bodoh buat kamuflase."
"...!?"
Saat Arjuna mengatakan itu, seorang pemuda di belakangnya tersentak, tapi tak ada yang menyadarinya. Ia diam-diam mengingat suara Arjuna. Itu mungkin akan berguna untuknya kelak.
"Oh, mungkin aja," Ats menimpali. Ia terbawa kata-kata Arjuna yang memang suka hal-hal berbau misteri dan mata-mata sejak kecil. "Maksudmu, dia ada misi tertentu yang mengharuskan dia begitu, kan?"
"Nah, iya!" Arjuna membenarkan. Itu membuat pemuda di belakangnya nyaris menoleh. Ia jadi penasaran dengan wajah anak-anak baru yang membicarakan anak payah nan terkenal itu.
__ADS_1
"Hais ... nggak baik nuduh sembarangan," Putu mengingatkan, "Walaupun dia payah begitu, dia itu inspirasi banyak orang, tahu."
"Masa? Menurut biasa aja sih," sanggah Solar yang kemudian menyeruput minumannya, "Daripada sosok inspiratif, dia lebih kayak pelajaran buat orang-orang yang kritis."
"Brak!"
Kursi di belakang Arjuna bergeser lumayan kencang. Itu membuat mereka serentak menoleh dan mendapati seorang pemuda yang berjalan menjauh dari mereka di antara banyak murid lainnya. Arjuna pun mengerutkan kening. Ia kenal gestur tubuh yang kurus kerempeng itu.
"Eh, jangan-jangan dia Kak Salam," bisik Arjuna ke kawan-kawannya. Ia masih belum yakin. "Dari tadi, dia di belakang kita loh."
"Hah? Masa? Dia dengar semua dong," Ats merasa tak enak.
"Kayaknya, dia merajuk gara-gara kamu, Jun," Solar asal menuduh. Arjuna pun tidak terima, "Hus! Sembarangan! Kamu yang paling banyak ngeremehin sama ngejek dia, tahu."
"Kamu nuduh dia mata-mata," balas Solar datar, "Hais ... emang parah sih."
"Aku cuman bercanda," Arjuna membela diri. Mana ia tahu kalau orang di belakangnya adalah senior yang sedang mereka bicarakan. "Nggak mungkin dia ngambek gara-gara itu, kan?"
"Hm," balas kawan-kawannya. Mereka pun bergegas menghabiskan sarapan yang tersisa dan kembali ke kamar. Ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum gerbang ditutup.
"Pengumpulan informasi selesai," kata Arselan di dalam benak Ats. Ia pun muncul dalam bentuk kucing detektifnya. Yah, tapi hanya Ats saja yang bisa melihatnya.
Nama: Salam Eden
Usia: 18
Status: Murid
Afiliasi: Akademi Altair
Level Ancaman: Lemah
Catatan: Data kependudukan tidak lengkap. Ditemukan kejanggalan pada biodatanya. Salam Eden (Tercatat telah wafat tanggal 01/04/123 Kelender Pascaskema).
__ADS_1
"Sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu?" gumam Ats bingung, "Kamu yakin data ini valid?"
"Kevalidan informasi telah terkonfirmasi," tegas Arselan. Tubuh kucingnya mengetuk-ngetuk layar interface tempat Ats membaca informasi itu sampai bergelombang seperti air kolam yang disentuh dengan tangan. Sistem itu seolah tak terima diremehkan.
"Barangkali ada nama Salam Eden lainnya di kekaisaran," Ats mencoba memikirkan kemungkinan lain, "Nggak mungkin dia masuk ke akademi tanpa identitas asli."
"Data identitas terkait Salam Eden hanya terdapat pada kolom identitasnya di akademi," tegas Arselan. Ia kembali mengetuk-ngetuk layar interface di mata Ats, "Adapun data kependudukan resminya di kekaisaran tidak ditemukan sama sekali kecuali orang yang telah meninggal itu."
"Itu aneh. Apa mungkin akademi kecolongan?" Ats merenung heran, tak percaya akan hal seperti itu, "Akademi memiliki seleksi berkas yang ketat. Mana mungkin orang tanpa identitas resmi itu bisa masuk ... kecuali!?"
"Hai, Ats," seru Arjuna hingga membuat Ats tersadar dari perenungannya, "Ngapain melamun pagi-pagi gini? Udah mau masuk nih. Gerbangnya bentar lagi ditutup loh."
"Eh!? Iya," Ats pun bergegas mengemas barangnya yang tersisa, lalu menggendong tas kecilnya di pundak. Mereka pun berangkat dan sampai ke kompleks sekolah lima menit sebelum tenggat waktu yang ditentukan.
***
"Arselan menemukan murid tanpa identitas resmi?" tanya Profesor Han memastikan pendengarannya tidak salah. Ia pun memilin janggut. Di antara fungsi sekunder sistem memang ada yang berguna untuk mencari tahu biodata resmi seseorang dan mendeteksi kejanggalan data. Yah, walaupun itu data privasi, pemerintah dan orang-orang tertentu bisa saja membukanya, sedangkan Ats adalah kasus khusus di mana ia berperan sebagai pemilik sistem. "Siapa murid itu?"
"Salam Eden," jawab Ats yang kini menunjukkan foto profil Salam dari laman media sosialnya, "Dia murid tahun ketiga yang terkenal payah, padahal usahanya sangat keras."
"Murid tahun ketiga? Pantas saja aku tak mengenalnya," Profesor Han memperhatikan wajah Salam yang asing baginya, "Aku masih di laboratorium pusat saat dia masuk ke akademi."
"Apakah akademi memang bisa menerima murid seperti itu?" Ats menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya bingung. Profesor Han pun menggeleng, "Itu tidak mungkin bisa. Kalaupun ia memang tak memiliki identitas sejak lahir, ia pasti akan diarahkan untuk membuat identitas dulu di Badan Kependudukan Kekaisaran untuk melengkapi berkasnya."
"Ah, ya!" Ats mengingat sesuatu yang paling janggal, "Nama Salam Eden miliknya memang ada di data kependudukan resmi, tapi ia tercatat sudah meninggal sejak sepuluh tahun yang lalu."
"Sudah meninggal!?" seru Profesor Han tak percaya, "Ini jelas sangat aneh. Pasti itu memang bukan identitas aslinya. Keberadaan sudah menjelaskan banyak hal."
Yah, keberadaan Salam Eden yang misterius menandakan banyak hal. Pertama, ada pihak yang sengaja memata-matai akademi. Kedua, ada orang dalam di akademi yang memanipulasi data untuk anak itu, kemungkinan komplotannya. Ketiga, ini menandakan bahwa akademi telah kecolongan sejak lama.
"Aku tak bisa tinggal diam terkait masalah ini," ucap Profesor Han yang kemudian mengizinkan Ats untuk pulang lebih awal, "Beristirahatlah untuk saat ini. Aku akan coba menyelidiki anak itu."
"Baik, Profesor," Ats pun pamit undur diri. Sebelum keluar dari kediaman sang profesor, ia menatap kembali gurunya itu sebentar. Sejujurnya, ia ingin ikut membantu. Namun, ia merasa tidak memiliki hak dan kewenangan terkait hal itu sekarang. Untuk saat ini, ia hanya perlu menunggu.
__ADS_1