
Nyeri yang amat tajam menusuk kepala Ats begitu kesadarannya kembali lagi. Ia pun meringis perih. Matanya terpejam erat meskipun sebenarnya ia ingin membukanya.
"Kamu sudah bangun?" sebuah suara asing merambat di telinga Ats. Itu suara yang mirip dengan suara yang didengarnya tadi. "Jangan memaksakan diri. Kamu pasti sangat lelah setelah menerima beban yang berlebihan dari sistem."
Suara itu terdiam sejenak, lalu kembali berkata, "Cobalah untuk merelakskan pikiranmu. Jangan terlalu memaksanya untuk berpikir berat. Tarik napasmu sedikit demi sedikit, lalu hembuskan."
Ats mengikuti instruksi itu. Wajahnya yang tegang perlahan mengendur. Matanya pun mulai dapat terbuka. Cahaya yang silau langsung menyerang pandangannya.
"Namamu Ats, kan?" tanya pemilik suara itu begitu melihat wajah Ats yang membaik. Nada suaranya datar, bahkan terkesan dingin.
"I–iya," jawab Ats yang berusaha untuk bangkit duduk, tapi dihalangi oleh orang yang membimbingnya itu. Tangan orrang itu menekan dada Ats dan memintanya untuk kembali berbaring.
"Bukankah sudah kubilang? Jangan terlalu memaksakan tubuhmu. Kamu masih sangat lemah," ujar pemilik suara itu terdengar sebal, "Ck! Kenapa kamu mau menerima tawaran paman? Padahal, kamu sudah diberi tahu bahwa sistem itu berbahaya."
Ketika pandangan Ats sudah benar-benar jernih, ia melihat seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya. Pemuda itu punya mata merah seelok Ruby, rambut hitam legam dengan ujung-ujungnya yang kemerahan, dan wajah tampan yang terlihat sedang kesal. Dalam sekali lihat, Ats dapat tahu bahwa pemuda itu adalah bagian dari Keluarga Kekaisaran Altair yang memimpin seluruh Klan Zarah sejak zaman dahulu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" meski mengetahuinya, Ats masih belum dapat percaya dengan matanya. Bisa jadi, penglihatannya itu telah menipu dirinya. "Mengapa seorang pangeran datang kepadaku?"
"Namaku Iskandar. Kita masih di akademi sekarang, jadi tidak perlu terlalu kaku begitu," Iskandar pun menghela napasnya. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu sedang apa ia di sini. "Panggil saja aku Is."
"Pangeran Is, suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda," Ats menunjukkan tata kramanya. Sebagai anak dari Keluarga Asir, tentu ia telah belajar berbagai etiket dari keluarganya, termasuk etika memberi salam pada keluarga kekaisaran. Sayangnya, kondisinya tidak memungkinkan untuk memberi salam dengan benar.
"Ck! Sudah kubilang, jangan terlalu kaku," Iskandar terlihat semakin sebal, "Kita ada di akademi. Kita sama-sama murid di sini. Aku hanya satu tingkat di atasmu. Jadi, kamu cukup memanggilku seperti senior-senior yang lainnya."
__ADS_1
Ats tidak membalasnya lagi. Ia memilih untuk mendengarkan gerutuan Iskandar yang tampaknya ditujukan kepada Profesor Han. Pangeraan muda itu juga berceloteh tentang penelitian-penelitian pamannya yang aneh-aneh dan berbahaya. Dari semua celotehan itu, Ats dapat mengerti bahwa Iskandar sangat dekat dengan Profesor Han.
"Karena itu, sebaiknya kamu melepaskan proyek sistem yang berbahaya itu," bujuk Iskandar. Ia tak setuju dengan penelitian pamannya yang "mungkin" akan gagal lagi. Karena itu, ia meminta Ats sendiri untuk memutuskannya. "Kamu hampir mati, tahu? Kalau nggak ada temanmu di sana, kamu mungkin nggak bakal ditemuin sampai besok."
"Saya mengerti kekhawatiran Senior Is. Terimaa kasih atas perhatian Anda," Ats sudah menggannti panggilannya terhadap Iskandar, tapi tetap menggunakan bahasa formal mengingat status mulia pangeran itu, "Namun, itu sudah risiko yang harus saya tanggung. Saya akan tetap mencobanya."
"Hais ... bagaimana paman bisa mencuci otakmu? Sikap kalian bahkan sangat mirip," Iskandar menggeleng heran sambil meremas kepalanya, "Bocah Asir, kamu pasti sangat kesakitan waktu menerima beban sistem, kan? Jangan sia-siakan hidupmu dan bersekolahlah dengan tenang."
"Saya bukan orang yang mudah menyerah seperti itu, Senior," Ats tersenyum tipis, "Sejak dulu, saya memang begini. Mirip dengan ibunda saya yang seorang peneliti ulet."
"Ck! Iya, iya. Aku mengerti," Iskandar kembali menghela napas. Ia pun bergumam pelan sampai Ats tak dapat mengerti apa yang ia katakan, "Paman dan bibi yang kembar itu tak ada bedanya. Sama-sama keras kepala, kutu buku, gila belajar. Eh, beda dikit sih. Bedanya, paman nggak beruntung karena masih membunjang sampai sekarang."
"Senior, sudah berapa lama saya pingsan?" tanya Ats begitu mengingat memori terakhirnya di tangga sekolah. Iskandar pun menoleh. Pangeran yang cerewet itu mengerutkan keningnya sebentar, baru kemudian menjawab, "Sekitar 7 sampai 8 jam. Kamu diantar ke mari sejak siang tadi."
"Pukul sepuluh malam lebih. Cepat tidur lagi sana! Aku juga mau balik ke kamar sebentar lagi," Iskandar menunjukkan jam di gawainya. Ats pun mengangguk. Ia kembali memejamkan matanya guna mengistirahatkan tubuh yang masih terasa sakit.
Iskandar menatap Ats dengan dingin. Ia pun mendengus pelan sebelum beranjak pergi dari kamarnya. Di lorong Gedung Kesehatan, ia bergumam pelan sambari mengingat wajah gadis kecil yang merepotkan. Ia pun menggerutu, "Amel, kakakmu juga merepotkan!"
***
"Bunda," panggil Ats kecil sambil menarik-narik gaun ibundanya, "Bunda mau pergi ke mana?"
"Ke tempat yang penuh dengan kemilau," jawab seorang wanita yang kelihatannya sedang hamil besar, "Tempat para ilmuan belajar dan meneliti."
__ADS_1
"Aku juga mau ke sana!" pinta Ats semangat.
"Kamu harus semangat belajar kalau begitu," ibunda Ats tersenyum manis, "Kalau kamu sudah jadi ilmuan yang hebat, kamu pasti bisa masuk ke sana."
"Hm, aku pasti bisa," Ats mengangguk optimis. Ia tersenyum senang membalas senyuman ibundanya. Anak yang polos itu sudah dilatih untuk mandiri dan mudah sekali dibujuk untuk tidak menangis.
"Dadah, Bunda," Ats melambai-lambaikan tangannya kepada sebuah kendaraan terbang yang bersiap untuk berangkat. Jendela kendaraan itu masih terbuka. Ibunda Ats membalas lambai tangan putranya dengan senyum yang merekah indah.
"Ats, ayo masuk," seorang wanita tua menggandeng Ats pergi begitu kendaraan terbang itu menghilang. Mereka pun masuk ke sebuah lorong gelap. Di sana, Ats melihat seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu kebingungan.
"Bunda! Mana Bunda? Bunda!" teriak bocah itu, sementara seorang nenek tua berusaha menenangkannya meskipun ia juga meneteskan air mata.
Melihatnya, air mata Ats menetes tanpa sengaja. Ia mengerti makna tangis bocah itu. Ia tahu bagaimana bocah itu meraung sedih dalam kebingungannya. Ia bisa merasakan kemalangannya karena sejatinya mereka adalah orng yang sama.
Sepucuk surat tiba-tiba jatuh ke tangan Ats. Surat itu terbuka dengan sendirinya. Itu adalah piranti modern yang terbentuk dalam layar digital.
Selaman berita besar terpanpang heboh di sana. Berita itu memberikan kabar musnahnya kapal induk Armada Ketiga di dekat area observasi sumber daya. Penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti sampai sekarang.
Ada yang bilang bahwa itu adalah kecelakaan fatal yang tak terduga karena kesalahan kecil seorang awak di dalamnya. Ada juga yang bilang bahwa itu serangan perompak tak dikenal. Bahkan ada yang bilang bahwa kecelakaan itu adalah konspirasi dari keluarga kekaisaran untuk menyingkirkan sang laksamana agung karena mengkritiknya. Tentu saja kaisar membantah omong kosong itu. Tak ada gunanya ia menyingkir seorang laksama yang berbakat.
Beberapa hari kemudian, utusan dari istana mendatangi Keluarga Asir. Mereka membawa kabar duka atas meninggalnya ibunda Ats sekaligus berniat mengambil Ats kecil untuk ikut dengan mereka ke istana. Namun, Keluarga Asir menolaknya dan menahan Ats tetap di sana. Karena itulah Ats kecil menangis tersedu-sedu dalam kebingungannya.
"Itu adalah keputusan terbaik," gumam Ats sembari berpaling dari pemandangan yang menyedihkan itu. Ia pun membuka mata. Begitu ia sadar, diliharnya Arjuna yang datang menjenguknya bersama beberapa teman.
__ADS_1