
Nama: Ulubad Hasn
Usia: 19 tahun
Status: Zarahian Ahli (puncak)
Afiliasi: Akademi Neo-Altair, (***)
Level Ancaman: Berbahaya
"Keluarga saya memang selalu harmonis," jawab Ats dengan nada datarnya yang tak berubah. Ia pun bertanya, "Siapa Anda?"
"Ah, aku belum berkenalan, ya?" pria itu jadi sedikit kikuk, "Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat karena bertemu dengan murid dari Akademi Altair."
"Bohong," batin Ats. Selain murid-murid dari Akademi Altair, tidak mungkin orang lain dapat masuk ke Akademi Neo-Altair. Itu adalah akademi yang lebih elit dari Akademi Altair sendiri. Hanya orang paling berbakat saja yang bisa masuk ke sana di pergantian tahun keempat atau kelima.
"Namaku Ulubad," kata pria itu memperkenalkan diri, "Orang-orang biasa memanggilku Ulu. Kamu pun bisa memanggilku demikian."
"Hm, begitu, ya?" Ats tak tahu mau bicara apa. Tampaknya, pria itu tak berbohong tentang namanya.
"Ya, nama lengkapku Ulubad Fouli," lanjut Ulubad dengan entengnya.
"Ah, ternyata ia penipu tulen," Ats berdecak kesal. Ia pun melirik kursi sampingnya yang kosong. Harusnya, seseorang memakai tempat itu menimbang ini adalah kereta kelas ekonomi. Namun, sepertinya ada yang telah mengatur hal ini sehingga Ats duduk sendirian.
"Kenapa Anda terlalu banyak berbasa-basi begitu?" tanya Ats dingin. Ia bisa menebak siapa yang sudah merencanakan semua ini.
"Hm? Apa maksudmu?" Ulu tertingkah seolah tak mengerti. Dia masih ingin menyembunyikan identitasnya.
"Anda tak perlu berbelit-belit lagi," ucap Ats yang semakin dingin, "Katakan saja tujuan Anda mengatur semua ini."
Orang-orang di sekitar Ats diam-diam melirik. Arselan sudah memindai mereka semua. Hanya dengan melihat hasil penyelidikan sistemnya itu, Ats sudah tahu bahwa mereka semua satu tim dari Akademi Neo-Altair.
__ADS_1
"..."
Ulu terdiam. Senyum riang di wajahnya seketika menghilang digantikan tatapan penuh tanda tanya. Siapa sangka misinya akan ketahuan secepat ini?
"Hais, sudahlah," seorang pemuda di bangku seberang menyahut, "Master pun ketahuan olehnya. Kita tak perlu berpura-pura lagi."
"Ck," Ats berdecak kesal. Ia pun mengecek pesannya kepada Iskandar. Ternyata, pesan itu belum dibuka sama sekali oleh sang pangeran. Ia pun menggerutu dalam hati, "Aku akan menggugat pangeran itu nanti."
"Hai, hai," pria di bangku seberang bangkit dan duduk di samping Ulu. Namanya adalah Zagan Rumi, "Jangan kesal begitu. Kami hanya menjalankan misi untuk memastikan keselamatanmu."
"Katakan pada pangeran, aku tak butuh semua itu," balas Ats sebal. Ia pun menghela napas dan membuang muka. Sikap itu membuat dua orang di depannya saling pandang dengan ekspresi tak mengerti.
"Terserahmu, kami hanya menjalankan tugas," ucap Zagan kemudian, "Ah, ya. Kawanku ini memang cerewet. Mohon maaf jika ia mengganggumu."
"Hm," Ats hanya mengangguk kecil dan kembali menatap ke luar jendela. Pemandangan langit terlihat di atas dan bawahnya. Itu adalah pemandangan yang lazim ia lihat setiap kali menaiki kereta antarpulau ini. Panorama biru berawan itu menjadi ciri khas pemandangan di luar kereta.
Ats menoleh sebentar ke Ulu dan Zagan. Kedua pemuda itu sedang berdebat sekarang. Mereka berdua sama-sama cerewet. Amat mengganggu perjalanan Ats.
"Apa kalian akan terus mengikutiku seperti itu?" Ats benar-benar kesal sekarang. Ia tak ingin diikuti oleh orang-orang dari Akademi Neo-Altair itu lagi, tapi mereka sungguh tak mau melepaskannya sama sekali.
"Mau bagaimana lagi?" Zagan mengangkat bahu, "Kamu sudah tahu indentitas kami, jadi kami tak perlu repot-repot menyamar. Lagi pula, kalau kami gagal melindungimu, nilai kami akan berkurang."
"Nilai kalian sudah berkurang sejak ketahuan olehku. Kalian terlalu mencolok," ejek Ats yang kemudian meminta mereka untuk segera pergi. Ia ingin pulang sendiri tanpa diikuti oleh sekelompok orang yang menyebalkan seperti mereka.
"Hai, anggaplah kami seperti temanmu sendiri," Ulu angkat bicara, "Bukankah begitu lebih baik?"
"Ck! Tolong segera pergi!" Ats berdecak kesal. Pandangannya pun menatap ke sekitar. Ada sebuah kedai yang ingin dikunjunginya. Tak lama kemudian, ia mendapati kedai itu.
"Pak Ade," sapa Ats begitu masuk ke kedai itu.
"Hm? Weh!? Ini Ats, toh?" seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan masakannya menoleh, "Udah pulang kamu, Le? Nggak sama Den Arjuna?"
__ADS_1
"Arjunanya masih ada urusan di ibu kota, Pak," jawab Ats yang kemudian memesan makanan favoritnya. Pria yang dipanggil Pak Ade itu pun mengacungkan jempolnya, lalu segera melanjutkan masakannya.
"Kamu merakyat, ya?" Ulu tiba-tiba duduk dan ikut memesan makanan yang Ats pesan. Begitu pula Zagan dan timnya yang lain. Mereka semua duduk semeja dengan Ats.
"Apa pula maksudnya itu?" Ats membalas tanpa menoleh dari gawainya. Orang-orang itu sungguh mengganggu. Mereka terlalu dekat sampai membuat Ats merasa risih.
"Bukannya kamu tuan muda dari Keluarga Asir?" tanya Ulu bermaksud memperjelas maksud pertanyaannya sebelumnya.
"Siapa bilang?" Ats kali ini menoleh, lalu membantah, "Aku bukan suksesor Keluarga Asir."
"Oh, gitu. Berarti informasimu cacat, Lu," seorang pria berambut pirang yang duduk di samping Zagan berkomentar. Ia adalah Rober Keynan.
"Eh, biasanya master manggil dia Tuan Muda Asir loh," Ulu tampak tak percaya pada sangkalan Ars, "Bukannya tuan muda itu cuman dipakai sama suksesor."
"Emang," Ats mengangguk. Ia menggunakan bahasa informal karena orang-orang yang terus mengikutinya pun tak pernah berbahasa formal, "Cuman suksesor yang dapat panggilan tuan muda."
"Makanan siap," Pak Ade datang dan menaruh semua makanan yang dipesan oleh meja Ats. Ucapan singkatnya itu membuat meja jadi tenang. Bau masakannya yang sedap nan semerbak seolah menyihir pelanggan-pelanggannya. Ia pun menyunggingkan seulas senyum ramah. Ada kebahagian yang terpancar dari sana. "Weh, kalian temen-temen Ats, toh?"
"Iya, Pak," Ulu langsung menjawab. Pemuda sok akrab itu menerima mangkuk mie ayamnya dengan senang hati. Ia menyapa Pak Ade dan memperkenalkan teman-teman timnya dengan luwes.
***
"Orang-orang itu terus mengikuti Tuan Muda Asir," ucap seorang pria berkumis tebal yang duduk di kedai seberang, "Apa mereka adalah 'orang fraksi seberang'?"
"Kemungkinan begitu," jawab pria alis tebal di depannya, "Mereka mungkin sudah bersama dengan Tuan Muda Asir sejak di stasiun ibu kota. Kita kalah satu langkah."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya si kumis tebal tak sabar. Si alis tebal pun mengangkat bahu dan menjawab, "Entahlah, kita harus hati-hati untuk bertemu tuan muda. Barangkali mereka hanya teman perjalanannya. Kita tunggu saja sampai mereka semua berpisah. Saat ini—"
Si kumis tebal menajamkan pendengarannya baik-baik. Ia akan mengikuti semua rencana yang diarahkan oleh seniornya ini. Apa pun itu, ia pasti bisa melakukannya dengan baik.
"Kita habisi dulu makan siangnya," si alis tebal pun kembali menyeruput nasi kungkumnya yang sedap. Cara makannya yang lahap menunjukkan bahwa ia benar-benar menikmati makanan berkuah kaldu itu, sedangkan si kumis tebal di depannya terlihat jadi agak kecewa, tapi juga menikmati nasi kungkumnya kemudian.
__ADS_1