
"Kamu menangkap si kumis itu semalam?" tanya Master Aruj di sela sarapannya bersama keluarga.
"Iya," jawab Ats jujur setelah selesai mengunyah makanan di mulutnya, "Itu karena dia terus membuntutiku. Aku juga yakin kalau dia bukan utusan dari Perguruan Awan Putih. Tindak-tunduknya terlalu mencurigakan untuk dibilang sebagai utusan."
"Benar," Master Aruj setuju, "Tapi, senior dari Perguruan Awan Putih menghubungiku semalam. Mereka memang mau berkunjung ke mari selama beberapa hari."
"Untuk apa?" tanya Ats penasaran. Ia ingat si kumis tebal itu mengatakan bahwa kepala utusan akan memberinya sebuah penawaran.
"Hanya kunjungan persahabatan biasa sekaligus meminta maaf padamu," jawab Master Aruj, "Tapi, aku yakin pasti bukan hanya itu."
"Si kumis itu bilang mau menawarkan sesuatu padaku," Ats memberi petunjuk pada kakeknya. Ia memang tak terlalu yakin dengan dugaan yang ia punya. Ada kemungkinan, penawaran mereka berkaitan dengan Arselan.
"Kamu menerimanya?" Master Aruj mengerutkan kening. Ada gelagak curiga di wajahnya yang lapuk oleh usia itu.
"Aku belum mendengarnya," Ats menggeleng. Ia tak akan mau menerima sesuatu yang tidak jelas, apalagi sangat mencurigakan. "Lagi pula, aku tak berniat menerimanya sama sekali."
"Begitu, ya," Master Aruj tersenyum kecil, "Kamu mirip dengan ayahmu. Dia juga orang yang sangat waspada dengan seki—"
Master Aruj berhenti bicara lantaran Nenek Amina menyikutnya. Dilihatnya wajah Ats yang tertunduk, sedangkan senyum kecil yang mengekspresikan kerinduan tersungging di sana. Ia pun berdehem, lalu kembali bicara, "Yah, keputusanmu sudah bagus. Kamu harus hati-hati dengan orang mencurigakan seperti mereka. Saat ini, kamu berada dalam usia yang rentan. Apa yang kamu pelajari hari ini akan sangat berpengaruh dengan masa depanmu."
"Aku tahu," Ats mengangguk, "Aku akan berhati-hati."
Sarapan pun dilanjutkan dengan suasana yang canggung. Ats lekas pergi setelah makanannya habis. Ia pun pamit untuk berjalan-jalan ke bukit belakang.
"Yo, Ats," sapa Ulu dengan wajah riangnya yang khas. Ia datang bersama dua kawannya yang lain.
__ADS_1
"Entah apa yang akan mereka lakukan hari ini, semoga saja tidak mengganggu aktivitasku," batin Ats di balik senyum simpulnya. Ia sedang ingin sendirian sekarang. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke bukit belakang.
"Mau ke mana?" tanya Ulu yang disambut dengan firasat buruk oleh Ats.
"Ke—" Ats enggan menjawab, tapi tak enak juga mengabaikannya, "Bukit belakang."
"Wah, bukit belakang, ya," dengan gaya supelnya, Ulu menunjukkan tanda-tanda ingin ikut, "Boleh ik—"
"Maaf, aku mau sendiri," jawab Ats tegas sebelum Ulu menyelesaikan kata-katanya, "Kak Ulu dan lainnya silakan bermain di tempat lain."
"Eh!" Ulu masih tak terbiasa dengan sikap dingin yang ditunjukkan oleh bocah dari Keluarga Asir itu. Begitu pula Ats tak terbiasa dengan sikap Ulu yang sok akrab itu.
"Ehem," Radu, kawan Ulu yang sejak kemarin lebih banyak memperhatikan berdehem. Ia pun mengambil alih percakapan dari kawannnya yang kelewat supel itu. "Maaf, Tuan Muda. Sikap kami mungkin sedikit lancang, tapi kami tak bermaksud buruk sama sekali."
"Aku bukan 'tuan muda'," Ats mengingatkan.
"..."
Ats terdiam mendengar alasan itu. Ia pun berpaling tanpa menjawabnya lagi. Meski surat protesnya sudah dibaca oleh Iskandar, sepertinya Pangeran Kedua itu tak peduli sama sekali. Lagi pula, ia sudah mengirim satu tim elit dari Akademi Neo-Altair ke mari. Pasti akan sia-sia jika dibatalkan begitu saja.
"Hai, apa kamu marah?" Ulu merasa tak mengerti sama sekali. Biasanya, ia mampu bergaul dengan mudah pada siapa saja. Namun tampaknya, bocah dari Keluarga Asir ini bukan orang yang mudah.
"Nggak," Ats menggeleng dengan wajah datar. Ia memang tidak marah, hanya kesal saja. Lagi pula, mereka tidak akan pergi bagaimana pun ia mengusirnya. Kepatuhan meraka adalah pada pihak yang memerintahnya.
"Hai, Ats," Zagan berjalan menyesuaikan kecepatannya dengan bocah itu, "Kudengar, kemarin ada orang yang mengikutimu lagi, ya."
__ADS_1
"Itu kalian," sindir Ats.
"Bukan," sangkal Ulu, "Kami nggak ngikutin kamu lagi kok. Mereka pasti dari kubu seberang, kan?"
"Kubu seberang?" Ats menoleh sesaat dan tetap melanjutkan perjalanannya. Ia terus memanjat ke puncak bukit tanpa istirahat sama sekali.
"Apa mereka belum unjuk diri?" Ulu terheran. Menurut informasi yang didapatkannya, ada seorang penyusup yang tertangkap semalam.
"Mereka mengaku sebagai utusan dari Perguruan Awan Putih," Radu yang menjawab, "Sepertinya, mereka sudah menyusupkan orang-orangnya ke sana."
"Hm, begitulah," Ats mengangguk. Kata kakeknya, utusan resmi dari Perguruan Awan Putih itu baru akan datang siang ini.
"Kalau mereka datang, aku mungkin akan bertemu dengannya lagi," kata Ats dalam hatinya. Ia sudah mendaki cukup tinggi. Di hadapannya sekarang, sebuah lembah menganga lebar nan dalam. Jika seseorang jatuh ke sana, mereka pasti akan mati atau minimal terluka berat.
"Kalian cukup mengikuti sampai sini," kata Ats yang kemudian berbalik. Kata-katanya itu membuat Ulu, Zagan, dan Radu terkejut.
"Tuan Muda, apa yang mau Anda lakukan?" Radu merasakan firasat buruk.
Ats hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia pun kembali berpaling dan menatap ujung bukit yang ada di kejauhan sana.
"Eh? Jangan bilang—" Zagan juga merasakan firasat buruk yang sama dengan Radu. "Ats—!"
Bocah Asir itu benar-benar melompat ke lembah. Ia tak peduli sama sekali dengan tiga orang yang terus mengikutinya itu. Sejak awal, tujuannya ke bukit hanyalah untuk bermain-main seperti saat ia kecil dulu.
Senyum lebar tersungging di bibir Ats saat ia terjun dengan bebas ke dasar lembah. Perasaan nostalgia mengalir di sekujur tubuhnya. Ia amat senang bisa melakukan permainan ini lagi setelah sekian lama.
__ADS_1
Belasan meter sebelum mencapai dasar lembah, bocah Asir itu mangaktifkan teknik zarahian sehingga tubuhnya melebur menjadi partikel-partikel kecil yang amat ringan. Tubuhnya pun menghilang di udara. Saat itu juga, keberadaannya menghilang dari radar orang-orang yang terus mengikutinya.