
"Kita sudah berjalan di arah yang benar, kan?" Ats mengemudi sambil melirik kompas digital versi lama yang ada di dalam jip. Arselan yang senantiasa membersamainya pun menjawab, "Anda di jalur tercepat yang tepat, Tuan."
"Oh, itu dia!" Ats melihat sebuah bungker raksasa yang ia tuju. Bungker itu tampak kosong dan berdebu seolah sudah lama ditinggalkan. Ada sebuah gerbang berkunci digital di salah satu sisinya.
"Arselan," panggil Ats diikuti dengan sebuah perintah dalam hati.
Dalam sekejap, Arselan mengusik sistem keamanan pada bungker ini. Aturannya, Ats harus mencari dulu kuncinya untuk bisa masuk ke sana. Yah, lagi pula, ini kan hanya untuk observasi persiapan lomba.
"Oh, kita memang tidak boleh melihat buku dari sampulnya saja," gumam Ats begitu sampai di dalam bungker. Interior dalam bangunan pertahanan itu tidaklah sederhana, bahkan bisa dibilang canggih untuk teknologi ratusan tahun yang lalu. Sepertinya, bungker ini pun bisa dijadikan sebagai pos komando di sekitar markas.
Ats memeriksa semua isi bungker itu dengan seksama. Ada barang-barang yang memang bisa disentuh sebagai item, ada juga yang hanya sekadar penghias. Para pengembang dunia virtual pasti sudah bekerja keras untuk membangunnya. Namun, perlu diingat bahwa dunia virtual itu tetaplah hanya sekadar tiruan semata yang dicetak berdasarkan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dunia semacam itu pasti akan mengalami bug dan berbagai masalah lainnya. Dengan kata, buatan makhluk itu tak akan pernah bisa sempurna.
Ats langsung pergi dari dunia virtual setelah puas menjelajahi isi bungker. Lagi pula, waktunya tidak akan cukup untuk sampai ke bungker pertahanan lainnya. Dunia di sekitarnya pun menjadi gelap. Sekejap kemudian, ia kembali merasakan tubuhnya. Begitu matanya terbuka, ia mendapati Darwis yang baru saja mau membangunkannya.
"Ayo berangkat," kata pemuda yang paling aktif di Kelas Penelitian Ilmiah itu. Ats pun mengecek jam di gawai. Ah, ini memang sudah waktunya bersiap-siap.
***
__ADS_1
Hari demi hari berlalu. Ats tidak bisa setiap hari melakukan inspeksi rahasia seperti hari itu. Ia hanya melakukannya sesekali saat luang untuk mengumpulkan data. Masa ujian yang panjang pun selesai tanpa terasa. Tak berselang lama, Festival Akademi diadakan.
Festival itu mengandung beberapa acara. Ada yang berkaitan dengan bisnis, akademi, militer, budaya, dan lain sebagainya. Karena banyaknya agenda di sana, festival itu berlangsung cukup lama. Pengunjungnya pun tak hanya para penduduk akademi semata, tapi juga masyarakat dari seantero kekaisaran. Mereka sangat antusias untuk menyaksikan talenta baru yang kelak akan berpengaruh di seluruh Klan Zarah.
"Semangat, Teman-teman," seru Solar di depan seluruh kawan seangkatannya, "Mari kita tunjukkan betapa hebatnya anak-anak tahun pertama. Yildirim!"
"Cadas!" balas anak-anak tahun pertama. Itu adalah yel-yel yang telah mereka sepakati untuk menunjukkan identitas mereka. Yildirim berarti kilat. Kilat itu partikel tercepat di dunia. Mereka ingin menunjukkan bahwa anak-anak tahun pertama memiliki pertumbuhan dan performa yang tak terduga.
Anak-anak pun menyebar ke seluruh penjuru. Mereka menuju ke posisinya masing-masing. Ada melaksanakan lomba-lomba, ada yang memberi semangat dan dukungan. Ada yang mengatur penjualan, ada yang jalan-jalan menikmati kondisi pasar. Mereka semua melakukan perannya masing-masing sebagai peserta festival.
"Mech akan dilaksanakan mulai hari ini," ucap Solar di hadapan regunya. Mereka terdiri dari tiga peleton. Masing-masing peleton terdiri dari sepuluh orang. Jadi, totalnya sama dengan jumlah murid satu kelas di Akademi Altair. "Ingat untuk menjalankan perannya masing-masing. Mengerti?"
Ats bertanggung jawab atas strategi umum dan pertahanan wilayah. Ia dan empat orang lainnya akan menjadi operator di basis komando. Perannya mungkin terlihat mudah, tapi sebenarnya tidak sesederhana yang dikira.
Arjuna bertanggung jawab atas unit pengintai dan penembak jitu. Ia mengomando tujuh orang lainnya. Unitnya dibagi dalam empat tim. Setiap tim terdiri dari dua orang. Mereka akan disebarkan ke spot-spot strategis yang ada.
Sisanya ada unit pelindung, penyerang, dan penyokong. Unit penyerang dipimpin langsung oleh Solar. Unit pelindung dipimpin oleh seorang praktisi zarah yang terampil untuk orang-orang selevelnya–yah, meski tak sehebat Solar dan Ats. Unit penyokong dipimpin oleh seorang murid yang jenius dalam pengobatan zarah.
__ADS_1
Ketiga unit itu digabungkan dalam tiga tim yang seimbang dengan lima atau enam orang di dalamnya. Setiap unit harus saling bahu-membahu. Dalam mech ini, kerja sama masuk ke dalam salah satu penilaian utama.
"Siapa lawan pertama kita?" tanya Ats pada Solar yang merupakan pemimpin seluruh regu.
"Anak tahun kedua," jawab Solar singkat.
Semester lalu, mereka babak belur oleh kakak tingkatnya itu bahkan saat awal-awal mech dimulai. Sebenarnya, kekuatan tempur mereka tidaklah berbeda jauh. Hanya saja, pengalaman yang berbeda telah membuat lubang yang jauh di antara mereka.
"Regu Yildirim dan Regu Zehin dipersilakan untuk memasuki ruangan," seru pembawa acara mengarahkan.
Ats dan teman-temannya pun masuk ke sebuah ruangan khusus. Terdapat puluhan kapsul di ruangan itu. Kapsul itulah yang akan memindahkan kesadaran ke dunia virtual–yah, walaupun Ats bisa melakukannya sendiri dengan bantuan Arselan.
"Ingat, Teman-teman," ucap Solar sebelum mereka masuk ke dalam kapsul masing-masing, "Kita tidak boleh kalah kali ini. Tunjukkan hasil latihan kita selama ini. Yildirim!!!"
"Cadas!!!" jawab anak-anak regu. Acara pun dimulai. Mech akan berjalan dalam waktu kurang dari satu menit.
"Melakukan sinkronisasi sistem," ucap Arselan begitu Ats menyalakan kapsul. Sebenarnya, ia merasa tak enak dengan regu musuhnya. Bisa dibilang, ia telah melakukan kecurangan dengan membawa sistem eksternal bersamanya. Namun, Profesor Han bilang bahwa itu bukanlah masalah. Lagi pula, dalam peraturan baru telah dicantumkan bahwa setiap peserta boleh membawa persiapan dari luar.
__ADS_1
"Arena," seru pembawa acara, "Dimulai!"