Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 009: Jatuh Lagi


__ADS_3

"Aku sudah mengirimkan koordianatnya padamu. Carilah tentang Departemen Jasus di sana," pesan Profesor Han beberapa hari setelah Ats kembali bersekolah, "Coba gunakan kemampuan Arselan untuk memindai informasi terkait departemen itu. Ah, kamu perlu ingat. Jangan sembarangan menggunakan konfigurasi 3D. Itu mungkin masih terlalu berat dan berbahaya buatmu."


"Saya mengerti, Profesor," Ats mengangguk, lantas memeriksa gawainya. Sebuah pesan baru muncul di sana. Ia pun langsung meminta Arselan untuk memindai koordinat itu. Selain guna mencari informasi terkait Departemen Jasus, kunjungannya ke Perpustakaan Ilmiah ini untuk melatih dan mengembangkan inteligensinya. Setelah diajari secara langsung oleh Profesor Han selama beberapa hari ini, ia mulai mengerti beberapa hal tetang sistem.


Awalnya, itu mudah dan baik-baik saja. Yah, sangat mudah karena Ats tinggal mencari dan membaca buku. Ia sudah terbiasa membaca, bahkan buku-buku asli yang antik seperti di perpustakaan besar itu. Ia sudah pernah membacanya di Perpustakaan Pusaka milik Keluarga Asir di masa kecil dulu. Namun, semuanya jadi kacau sejak benda "itu" muncul.


"Arselan, apa dia masih mengikutiku?" tanya Ats sambil berlari di antara rak-rak raksasa yang penuh dengan buku. Napasnya tersengal-sengal. Peluh keringat mengucur di dahinya. Ia harus kabur dari droid misterius yang tiba-tiba muncul itu.


"Perangkat PP-147 berada dalam radius 10 meter pada angka 7 arah jarum jam," lapor Arselan. Ia pun menunjukkan peta digital 2D di mata Ats. Ada sebuah titik merah bernama PP-147 tak jauh dari pusatnya. Titik merah itu bergerak lurus melewati panel-panel persegi panjang yang tak lain adalah rak-rak raksasa di perpustakaan.


"Ck! Droid itu curang," keluh Ats, "Dia bisa terbang di atas rak."


"Penyusup ditemukan! Penyusup ditemukan!" suara berisik itu mengagetkan Ats. Semilir angin berhembus dari atas kepalanya diikuti dengan suara desingan halus mesin terbang. Saat ia menoleh, dilihat sebuah droid mengambang tak jauh di atasnya.


"Perangkat PP-147," Arselan mengidentifikasikan droid itu, "Merupakan perangkat keamanan dasar dalam ruangan generasi ke-2. Ia memiliki beberapa senjata kecil guna menangkap penyusup yang tak dikehendaki ...."


"Ck! Droid itu hampir merusak buku yang baru kubaca. Aku akan kesulitan mengganti rugi kalau sampai merusak inventaris di tempat ini," gerutu Ats begitu melihat sebuah moncong senapan yang muncul di bawah badan PP-147. Matanya mengamati arah tembakan moncong itu lekat-lekat. Saat sebuah tembakan diluncurkan, ia menghindarinya dengan lihai.


"Benda itu lagi! Hai, bisakah kita bicara sebentar?" Ats menatap sepucuk peluru yang berhasil dihindarinya dan tertancap sempurna di lantai. Perpustakaan ini sangat kuno. Jarum seperti itu sudah tidak digunakan lagi sejak bertahun-tahun silam. Arselan pun langsung mengidentifikasikan peluru itu tanpa menunggu perintah.


"Peluru bius teridentifikasi," jelas Arselan, "Peluru itu merupakan senjata pelumpuh tingkat dasar. Target yang tersengat olehnya tidak akan bisa bergerak untuk beberapa saat. Meskipun cairannya tidak berbahaya bagi tubuh, ia bisa menyebabkan kelumpuhan sementara, nyeri otot, dan pusing."

__ADS_1


"Gawat!" Ats menggertakkan gigi karena permintaannya tak direspon. PP-147 kembali sewot menyebutnya penyusup. Ia sangat muak dengan suaranya yang kaku dan terkesan kuno untuk droid keamanan semacam PP-147 itu.


"Penyusup ditemukan! Penyusup ditemukan!" PP-147 tak henti-hentinya meraung. Ia kembali menembakkan beberapa peluru bius. Ats menghindari semuanya dan terus berlari sambil mencari jalan keluar. Andai ia tak memiliki Arselan, ia pasti akan tersesat sekarang. Perpustakaan Ilmiah yang kuno itu sangat besar. Apalagi, ini kunjungan pertamanya.


Suara desingan droid itu terdengar semakin dekat. Dalam peta 2D yang Arselan tunjukkan, PP-147 hanya berjarak lima meter dari Ats. Itu adalah jarak yang sangat pendek. Jika robot kuno itu kembali menembak, Ats pasti akan sangat kesulitan.


"Peringatan!" Arselan memberi notifikasi sampai mengejukkan Ats, "Objek tak dikenal terdeteksi. Melakukan identifikasi otomatis."


"Ck! Jangan mengagetkanku," gerutu Ats. Ia mendengar suara samar yang sepertinya merupakan tanda bahwa PP-147 sudah siap untuk kembali menembak. Ia pun memerintahkan, "Cari saja jalan ke luar tercepat dan teraman. Jangan sampai kita tertangkap droid-droid itu."


"Baik, Tuan," Arselan menerima perintahnya. Ia pun meminta izin untuk mengaktifkan konfigurasi 3D. Karena tak punya banyak pilihan, Ats pun menyetujuinya. Ini lebih efisien daripada menggunakan peta 2D yang rumit. Ia tak akan punya banyak waktu untuk mencari jalan keluar melalui peta 2D.


Ats mengikuti setiap arah yang Arselan tunjukkan. Anehnya, sistem itu mengarahkannya ke objek-objek tak dikenal yang tadi sempat terdeteksi. Sayangnya, ia tak bisa ragu karena PP-147 terus mengejarnya.


Ats terus berlari sambil menghindari tembakan gelombang ketiga. Napasnya semakin memburu. Untung saja droid-droid berkode awal "MC" itu tak menghiraukannya. Sepertinya, mereka adalah perangkat-perangkat yang merawat perpustakaan. Pantas saja perpustakaan ini sangat bersih.


"Sedikit lagi!" Ats berbelok di persimpangan. Ia pun melihat pintu kayu besi raksasa yang dibukanya tadi. Pintu itu masih terbuka sedikit, tak berubah sedikit pun dari awal.


"Argh!?"


Kepala Ats tiba-tiba terasa sakit seperti tersengat listrik. Ia pun langsung meminta Arselan untuk mematikan konfigurasi 3D. Toh, pintu ke luar sudah terlihat di depan mata.

__ADS_1


Malangnya, rasa sakit itu tak serta merta ikut menghilang ketika konfigurasi 3D dimatikan. Rasanya bahkan semakin menyengat setiap detiknya. Padahal, Ats harus segera keluar sebelum PP-147 menangkapnya.


"Penyusp ditemukan! Penyusup ditemukan!" raungan PP-147 membuat kepala Ats jadi semakin sakit. Entah mengapa, ia merasa pintu ke luar semakin menjauh, padahal ia terus berlari mendekatinya.


"Argh ...!?"


Sebuah peluru menusuk tepat di kaki kiri Ats. Pemuda itu pun langsung tersungkur. Ia tak bisa merasakan kakinya lagi. Kepalanya sangat pusing, sedangkan napasnya tak karuan. Pandangan matanya perlahan memburam. Samar-samar, ia melihat PP-147 mendekkat padanya.


***


"Paman, kamu menyuruhnya masuk ke Perpustakaan Ilmiah, tapi lupa memberinya kartu identitas khusus?" Iskandar menepuk dahinya, heran dengan kecerobohan pamannya yang sangat cerdas itu. "Bagaimana kondisinya sekarang? Dia tumbang lagi, kan?"


"Yah, kondisinya sudah membaik. Tak ada masalah pada kakinya," jelas Profesor Han sambil menatap layar di gawai tipisnya, "Neuron zarahnya juga normal. Semuanya tetap berfungsi dengan baik dan lancar. Kita hanya tinggal menunggu dia siuman. Hah ... mudah-mudahan ia baik-baik saja."


"Aku baru tahu kalau di perpustakaan itu ada droid keamanannya. Droid kuno lagi," Iskandar pun melirik juga ke layar gawai di tangannya. Ada katalog droid-droid generasi kedua di sana."Bukankah harusnya semua droid generasi kedua sudah dimusnahkan kecuali yang ada di museum? Kalau Perpustakaan Ilmiah menggunakan droid generasi terbaru, Ats tidak akan terluka sampai seperti ini."


"Entahlah?" Profesor Han mengangkat kedua bahunya, "Itu adalah kehendak kepala akademi sebelumnya. Jadi, kami tidak menggantinya sama sekali. Lagi pula, perpustakaan itu sudah jarang dikunjungi."


"Bohong," tampik Iskandar, "Aku tahu kalau 'itu' ada di sana. Mana mungkin perpustakaan itu jarang dikunjungi."


"Pepustakaan dan 'itu' adalah dua hal yang berbeda," Profesor Han tersenyum simpul, "Kami pun sudah lama tak menggunakan perpustakaan untuk masuk ke sana."

__ADS_1


"Ck," decak Iskandar sebal dengan sanggahan paman cerobohnya, "Pokoknya, pastikan bocah Asir itu selamat."


"Anda tak perlu risau, Pangeran," Profesor Han sengaja menggunakan bahasa formal untuk mengusik keponakannya itu. Lucu sekali melihat pemuda itu emosi. Sang profesor pun menyimpulkan seulas senyum khas saat melihat Iskandar keluar dari ruangannya sambil mengerutu tak karuan.


__ADS_2