
"Selamat pagi, Tuan Putri," suara seorang gadis yang asing terdengar di telinga Ayya. Putri kecil itu pun menoleh dan mendapati seorang gadis berkerudung rapi yang tersenyum menyambutnya dengan senyuman nan tulus.
"Siapa?" tanya Ayya bingung.
"Perkenalkan, saya Anasiya Zivana," jawab gadis itu, "Teman Tuan Muda Ats. Panggil saja aku Ana."
"Kakak? Di mana dia?" Ayya menoleh ke kanan dan kiri, tapi hanya menemukan Anasiya di kamarnya.
"Dia sedang serapan bersama yang lainnya," Anasiya pun membantu Ayya yang hendak duduk, "Sebentar lagi, dia pasti datang."
"Hm," Ayya tertunduk. Tubuhnya masih lemas sekarang. Ia pun menghela napas pelan.
"Apa Anda haus?" Anasiya menyodorkan segelas air putih pada Ayya. Diperhatikannya putri kecil itu baik-baik. Wajahnya amat mirip dengan Ats versi gadisnya.
"Terima kasih," Ayya menerima gelas itu dengan senang hati. Ia memang sedang haus sekarang. Setelah meminum seteguk air, ia bertanya, "Apa Kak Ana teman dekatnya kakakku?"
"Tidak terlalu dekat sih," jawab Anasiya jujur. Sejak mereka dewasa, jarak hubungan keduanya memang merenggang, tapi bukan berarti menjadi buruk. "Tapi, kami memang akrab saat masih kecil dulu. Dia bahkan pernah mengajakku ke markas rahasianya."
"Markas rahasia?" Ayya tidak begitu mengerti.
"Hm! Itu—" Anasiya sadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. "Itu cuman tempat bermain yang spesial. Tempatnya sangat jauh dan tinggi. Melelahkan pergi ke sana."
"Apa aku juga boleh ke sana?" tanya Ayya tertarik. Ada bara semangat yang samar-samar terlihat matanya. Karena terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan terpaksa, ia selalu ingin pergi ke luar dengan bebas.
__ADS_1
"Kamu harus sehat dan mampu menggunakan teknik zarahian untuk bisa ke sana," jawab Anasiya dengan senyuman yang tak luntur sama sekali dari wajahnya. Senyuman itu memberi motivasi yang besar kepada Ayya.
"Hm, aku pasti sehat dan bisa menguasai teknik zarahian," kata Ayya bertekad, "Aku pasti bisa ke sana."
"Kamu mau ke mana?" suara Ats terdengar begitu pintu kamar terbuka. Pemuda itu pun muncul dengan sepaket sarapan di tangannya. Ia juga langsung berterima kasih pada Anasiya karena sudah menjaga adiknya.
"Ke markas rahasia Kakak," jawab Ayya dengan polosnya.
"Hah?" Ats mengerutkan kening, "Markas rahasia?"
"Hm," Ayya mengangguk antusias, "Aku pasti sehat dan bisa menguasai teknik zarahian untuk ke sana."
Ats pun menatap Anasiya sebelum menanggapi ucapan adiknya itu, sedangkan Anasiya memalingkan wajah untuk menghindari tatapan tajam sahabatnya. Gadis itu memang tak sengaja mengungkapkannya, tapi tetap saja ia bersalah. Bisa jadi Ayya celaka saat hendak ke sana.
"Itu memang tempat yang bagus, tapi berbahaya," kata Ats setelah menghela napas pelan. Tak ada gunanya memarahi Anasiya karena Ayya sudah mendengarnya. Lagi pula, dia memang ingin—
"Kalau kamu mau, kamu bisa ke sana kok," kata Ats dengan senyum tipis di wajahnya. "Kalau naik mobil terbang, kita bisa ke sana tanpa teknik zarahian sama sekali."
"Beneran?" wajah Ayya kembali senang.
"Eh?" Anasiya tak menyangka bahwa Ats tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Bocah itu malah mau membawa adiknya yang lemah ke sana. "Emangnya ada tempat parkirnya?"
"Ada lahan luas kok di sekitar sana," jawab Ats enteng, "Biar aku yang sopirin mobilnya nanti."
__ADS_1
"Wah—" Anasiya tertarik untuk ikut, tapi Ats malah mengatakan sesuatu yang hampir meruntuhkan semangatnya.
"Bukannya kalian bakal balik hari ini?" begitulah pertanyaan Ats.
"Em ...," Anasiya berpikir sebentar. Ia sedikit menggigit bibirnya. Detik kemudian, ia menjawab, "Rombongannya emang bakal balik nanti sore, tapi aku sudah dapat izin dari ayah untuk menetap di sini karena masih ada urusan."
"Oh," Ats tak menanyakannya lebih jauh. Tak lama kemudian, datanglah Dokter Razana, Putri Elnara, dan Hafiza. Ats pun menceritakan rencananya pada mereka.
Awalnya, Putri Elnara tak setuju karena khawatir dengan kesehatan dan keselamatan Ayya. Hafiza pun juga khawatir, tapi juga ingin pergi ke tempat yang diceritakan oleh Ats karena penasaran. Ia bimbang sampai akhirnya Dokter Razana memberikan izin dan berjanji untuk menjaga Ayya.
Maka, diputuskan bahwa mereka akan berangkat minggu depan. Kemungkinan, kondisi Ayya sudah lebih membaik saat itu. Urusan keluarga yang berkaitan dengan Profesor Han dan Dokter Razana pun pasti sudah selesai.
***
"Apa dia benar-benar pria yang baik Ats?" tanya Master Aruj meminta konfirmasi. Ia sudah dengar bahwa Profesor Han adalah guru dari cucunya ini. Penilaian Ats akan mempengaruhi keputusannya yang berkaitan dengan Dokter Razana.
"Dia baik kok," jawab Ats santai. Ia sudah berjanji pada gurunya itu bahwa ia akan membantu. Lagi pula, apa yang ia katakan adalah kejujuran.
"Hm, baguslah kalau begitu," Master Aruj menghela napas lega, "Aku bisa tenang melepaskan bibimu dengan begini. Lagi pula, dia kan saudara kembar ibumu."
"Eh? Apa?" Ats cukup terkejut mendengarnya, "Saudara kembarnya bunda?"
"Ya, apa kamu juga baru tahu?" Master Aruj mengerutkan keningnya. Ia sungguh tak menyangka bahwa cucunya ini tak mengerti benar bibi dan pamannya dari pihak ibu.
__ADS_1
Yah, wajar sih. Keluarga Kekaisaran Altair memang sangat banyak. Ats juga jarang bertemu dengan mereka. Selama ini, ia banyak menghabiskan masa kecilnya di Pulau Reda, wilayah kekuasaannya Keluarga Asir.
"Kalian berdua menunjukkan ekspresi yang sama hari ini," lanjut Master Aruj kemudian, "Pamanmu yang satu itu sempat membuatku ragu karena ia hampir melupakan saudari kembarnya. Ia bahkan baru ingat bahwa kamu keponakan dekatnya. Hais ... setidaknya, dia memang pria yang baik."