Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 072: Area Virtual


__ADS_3

Ats berdiri menatap puluhan gedung pencakar langit yang berdiri dengan gagahnya. Setiap gedung itu memiliki bentuk yang berbeda-beda, menunjukkan betapa maju ilmu arsitekturnya. Jalanannya besar-besar. Lampunya terang-terang. Itu adalah salah satu area yang diambil dari pemetaan kota di luar konstelasi.


"Ini hanya dunia virtual yang menyalin bentuk dunia nyata, tapi tetap saja membuatku kagum," gumam Ats sembari memperhatikan sekitar, "Semua fasilitas di sini berfungsi dengan baik. Transportasi berjalan lancar. Kota ini sangat ideal untuk ditempati, bahkan tak kalah dari ibu kota. Akan lebih baik kalau ada orang yang menjalankannya. Rasanya jadi mirip kota hantu karena tak ada orang yang menghuninya."


"Arselan, tampilkan konfigurasi 3D!" titah Ats, kemudian memberikan titik koordinat yang ingin ia tuju. Sekejap kemudian, ia melihat petunjuk arah yang seolah datang dari dalam tanah. Ats tinggal mengikuti petunjuk itu untuk sampai ke tujuannya.


"Ini dia," Ats berhenti di sebuah peron stasiun kereta bawah tanah. Kebetulan terdapat sebuah kereta yang baru sampai saat itu. Dengan bantuan Arselan, ia bisa mengambil akses masuk dengan mudah ke sana.


"Sendirian," gumam Ats lagi. Kini ia terduduk di salah satu kursi terdepan kereta cepat. Di gerbong itu hanya ada ia sendiri. "Rasanya tenang dan sepi."


Selama perjalanan itu, Ats menyalakan peta areanya. Ia pun melihat sebuah bangunan yang memanjang bagai sebuah benteng nan tinggi dan megah. Benteng itu berdiri di antara lautan padang pasir dan lautan air asin.


Ah, bukan. Itu bukanlah benteng, tapi sebuah kota yang dipadatkan dalam satu wilayah memanjang. Orang-orang di luar konstelasi menyebutnya Kota Garis. 


"Ini area yang sangat panjang," pikir Ats sembari mencermati peta itu, "Akan sangat sulit mengambil bendera lawan apabila markas masing-masing kubu ada di setiap ujung peta."


"Ting!"

__ADS_1


Suara dentingan terdengar, pertanda bahwa Ats telah sampai di salah stasiun pemberhentian. Ia pun turun dan mengecek peta dari Arselan. Tampak sebuah titik merah yang menyala di tengah peta. Titik itu adalah dirinya sendiri.


"Ini Moderat," gumam Ats di peron stasiun tempatnya turun. Ia pun mendaki tangga dan naik ke lantai dasar. Begitu sampai di sana, sebuah pemandangan urban yang cantik menyambut kedatangannya.


Gedung-gedung tinggi menjulang di sana sini. Kedai-kedai makanan jalanan berdiri di kanan dan kiri. Lampu-lampu berwarna-warni menyala dengan indahnya. Sekali lagi, Ats menggumamkan hal yang sama, "Akan lebih bagus kalau di kota ini ada penghuninya."


Ia berkeliling sebentar di sekitar sana, lalu menatap ke gedung-gedung yang tinggi. Bangunan-bangunan pencakar langit itu cocok untuk dijadikan tempat sembunyi para sniper. Dengan penempatan yang tepat, tim Ats akan mampu memblokir pergerakan lawan dengan baik saat lomba nanti.


Begitu selesai mengamati area tengah, Ats kembali ke stasiun bawah tanah. Ia naik kereta sampai ke ujung kota. Di sana, ia menginspeksi tempat-tempat bercelah yang memungkinkannya untuk menyusup dan bersembunyi.


"Aku sudah selesai dengan area ini," ucap Ats begitu menyelesaikan safarinya,, "Arselan, berapa banyak lagi waktu yang kupunya?"


"Kita masih punya waktu tersisa," kata Ats sembari menatap layar interface yang muncul di hadapannya, "Mari kita ke area selanjutnya. Arselan, pindahkan aku ke area ini."


"Mengganti ruang virtual …," lapor Arselan. 


Pemandangan di sekitar Ats pun langsung berubah. Gedung-gedung, kedai, dan jalanan seolah melebur di udara. Kurang dari setengah menit, Ats sudah sampai di sebuah basis pertahanan padang pasir.

__ADS_1


"Kali ini benteng sungguhan, ya?" pikir Ats dalam hati. Dilihatnya samudra padang pasir yang luas. Hanya ada debu dan pasir kekuningan yang terlihat sejauh mata memandang. Adapun tempatnya berdiri adalah sebuah bangunan yang tertanam di dalam pasir. Bentuknya oktagon dengan jendela besar di setiap sisinya.


"Kalau tidak salah, benda itu ada di sekitar sini," pandangan Ats menyapu seisi benteng. Ia mencari sebuah senjata yang biasanya ada di sekitar sini, "Ini dia!"


Ats mengambil sepucuk senapan serbu dari dalam kotak. Ia pun tersenyum tipis, lalu bergumam, "Saat pertama kali mencobanya, senjata-senjata ini hanyalah aksesoris yang bahkan tak dapat disentuh. Saran dari direktur Perusahaan Salamun itu memang hebat."


"Ini senjata yang digunakan militer ratusan tahun lalu," Ats mengamati senjata di tangannya itu. Saat perang antar klan terjadi, kebanyakan klan menggunakan senjata api dan bom untuk mempertahankan diri atau menjajah musuhnya. Meski mereka memiliki karakteristik kemampuan tertentu, biasanya tidak banyak yang bisa menggunakannya. Hanya pasukan paling elit dari para elit yang dilatih khusus untuk menggunakan karakteristik kemampuan itu untuk bertarung, sama seperti Klan Zarah sendiri.


"Seberapa jauh benteng yang paling dekat dari sini?" tanya Ats sambil menatap ke padang pasir yang luas.


"12 mil ke arah utara," jawab Arselan.


"12 mil?" Ats pun menoleh ke samping. Ada sebuah jip di sana. "Itu terlalu jauh jika menggunakan teknik perpindahan zarah. Tampaknya, kita harus menaiki kendaran itu dulu."


Ats menarik selembar kain yang menutup mobil itu. Ia pun tertegun sejenak. Penampilan kabin mobil ini jauh berbeda dengan bentuk yang kenal.


"Wow, apa mau diharap? Ini kan model dari ratusan tahun yang lalu," gumam Ats pelan, "Setidaknya, kendaraan ini dapat berfungsi dengan baik."

__ADS_1


Arselan menunjukkan cara pengoperasian mobil jip itu pada Ats. Bukannya Ats tidak bisa menyetir mobil. Hanya saja, mobil ini jauh berbeda dari yang biasanya ia pakai.


"Katamu 12 mil, kan?" tanya Ats begitu berhasil menyalakan mobilnya, "Kita akan sampai di sana kurang dari satu jam."


__ADS_2