Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 011: Keegoisan Sang Pangeran


__ADS_3

"Bagaimana kondisimu?" tanya Iskandar yang datang ke ruang rawat inap Ats sore harinya. Ia menyimpan sedikit rasa khawatir, tapi tak ditunjukkannya kepada Ats. Menurut laporan dari Zaganosh, kondisi pemuda itu sudah lebih mendingan.


"Saya sudah membaik. Terima kasih atas bantuan Anda, Pangeran," jawab Ats lugas. Ia ingin segera menanyakan motif pangeran muda itu memperlakukannya dengan baik, bahkan memberinya fasilitas kesehatan yang terbaik. Anak dari Keluarga Asir itu merasa harus waspada. Seperti kata orang-orang, "Tak ada makan siang gratis."


"Santai aja. Panggil aku kayak biasa," ujar Iskandar yang kemudian terlihat mempertimbangkan sesuatu, "Ah, kupikir usia kita nggak beda jauh. Kamu bisa panggil aku 'Is' aja kalau baru ada di lingkungan privat."


"Mana mungkin saya melakukannya?" Ats tersenyum getir, curiga dengan tingkah Iskandar yang terlampau 'baik' baginya itu. Matanya menatap selidik, berusaha membaca pikiran sang pangeran dari mimik wajahnya. Sayangnya, ekspresi Pangeran Kedua itu terlalu santai dan sulit untuk dibaca. Yah, lagian Ats memang buka pembaca pikiran sih.


"Mungkin saja," balas Iskandar enteng, "Karena aku yang menyuruhmu."


"...," Ats tak dapat berkata-kata melihat perilaku pangeran yang seenaknya itu. Pemuda ini merasa benar-benar diseret paksa ke fraksi Pangeran Kedua walau dengan cara yang terkesan lembut sekarang. Ia tak suka dengan itu.


"Aku juga mau minta maaf," lanjut Iskandar membuat Ats kebingungan, "Aku terlalu ceroboh dan buru-buru. Harusnya, aku tak menyabut 'sistem' itu secara paksa darimu. Ini adalah kesalahanku. Sekali lagi, aku minta maaf."


"Ah, begitu, ya," Ats mengurungkan niatnya untuk mempertanyakan motif sang pangeran. Kalau kondisinya sekarang ini karena Arselan yang diambil paksa darinya, mungkin Pangeran Kedua pun memberi fasilitas kesehatan terbaik semata-mata karena rasa tanggung jawabnya. Namun, ...


"Mengapa Anda mengambil Arselan dari saya?" tanya Ats was-was, "Apa ini kehendak pemerintah? Mungkinkah izin penelitian kami juga sudah dicabut?"


"Arselan? Oh, jadi nama sistemnya itu," Iskandar manggut-manggut, baru kemudian menjawab pertanyaan beruntun Ats, "Tidak, pemerintah tidak mencabut izin penelitian itu, setidaknya belum karena tampaknya kamu dapat bertahan dengan baik dan koordinatif sampai saat ini. Juga, ini adalah murni keegoisanku. Aku terlalu ikut campur karena tidak mau sistem itu jadi memberatkanmu sampai pingsan terus-menerus saat memakainya. Kalau kamu sampai sakit lebih parah, dia pasti akan sedih."


"...."


Ats tak memperhatikan kata-kata Iskandar sampai habis. Ia larut dalam lamunannya. Pikirannya terlalu fokus pada berbagai praduga yang runtuh satu per satu. Yah, intinya, dia bersyukur karena masih bisa melanjutkan penelitiannya bersama Profesor Han. Jiwa cendekiawan yang mengalir dari ibunya pun semakin deras semangatnya.


"Kamu yakin masih mau melanjutkan penelitian ini? Kamu sudah tumbang dua kali," tanya Iskandar kemudian, menyadarkan Ats dari lamunannya. Pemuda itu pun menjawab sambil tersenyum penuh optimisme, "Ini bukan apa-apa. Baru dua kali. Saya pasti bisa berkembang lebih jauh lagi dalam mengendalikan sistem. Lagi pula, Profesor Han pasti akan memperbarui Arselan jadi lebih ringan lagi."

__ADS_1


"Kok kamu bisa optimis gitu sih?" Iskandar menatap Ats seperti menatap makhluk asing yang sulit dipahami. Yah, ia juga memandang pamannya seperti itu meskipun sudah sangat dekat dengannya sejak kecil. Hidupnya jadi terasa seperti dikelilingi oleh orang-orang asing dari luar konstelasi pulau.


"Karena jiwa yang mengalir dari ibu saya," jawab Ats setengah bercanda. Iskandar pun tertegun. Pangeran itu tak berkata apa-apa lagi dan hanya mengangguk-angguk kecil. Ia pun pamit tak lama kemudian.


Malamnya, Profesor Han yang datang. Ia membawakan lencana Arselan yang sudah diperbarui. Pria itu mengubah wadah sistemnya dari sebuah gelang menjadi cakram mini seukuran lencana aslinya.


Cakram itu tak menempel pada tubuh Ats, tapi mengambang di sekitarnya dan mengikuti ke mana pun drivernya pergi. Ats bisa memposisikannya di mana saja. Selain itu, cakram juga memiliki fungsi otomatis yang tak akan mempengaruhi neuran zarah drivernya. Ketika sang driver dalam keadaan tak sadar, cakram itu akan menjadi piranti keamanan AI tercanggih yang menjaga drivernya sampai tersadar kembali.


"Aku menggunakan sistem keamanan AI berteknologi nano untuk mengembangkannya," jelas Profesor Han, "Dengan begitu, kasus yang sama tak akan terjadi lagi padamu kecuali serangan itu lebih kuat dari sistem keamanan."


"Teknologi nano, ya?" Ats tersenyum tipis, lalu bergumam pelan, "Aku pernah mendengarnya dari bunda."


"Walaupun aku sudah menambahkan fitur keamanan pada Arselan, bukan berarti kamu bisa bertindak ceroboh dan seenaknya," Profesor Han menambahkan, "Ingatlah bahwa piranti-piranti ini hanyalah sekadar alat. Ketika Tuhan berkehendak sesuatu atasmu, mereka tak akan berguna sebayak dan secanggih apa pun itu."


"Saya mengerti," Ats mengangguk. Dalam hal itu, ia tak akan pernah lupa karena sejak kecil, ia dididik sebagai pribadi yang cendekia nan religius. Keluarga Asir tempatnya berasal bisa dibilang sebagai keluarga yang sangat teguh menggenggam keimanannya.


"Hm," Ats mengangguk pelan dan membalas senyuman Profesor Han dengan senyuman serupa. Esok harinya, ia pun pulang ke akademi.


***


"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya gadis kecil berambut gelap itu sebal. Ia pun segera bangkit dari duduknya untuk bersiap pergi. Wajahnya sangat serius dan terburu-buru seolah akan segera terlambat menaiki pesawat yang sudah dipesannya hari itu. "Kak Hafiza, kita harus cepat."


"Ya," gadis yang dipanggil Hafiza pun ikut berdiri. Ia dua tahun lebih tua dari gadis kecil itu. Umurnya sekitar delapan sampai sembilan tahunan.


"Putri Hafiza, Putri Ayya," panggil seorang dayang yang bertugas untuk mereka berdua, "Tolong jangan berlarian di dalam ruangan seperti itu. Anda berdua bisa terjatuh."

__ADS_1


"Kami harus cepat," seru Ayya, gadis kecil berambut gelap itu, "Paman sopir, cepat siapkan mobil terbang sekarang."


"Eh!? Ba—baik, Tuan Putri," balas seorang pria berseragam rapi yang sepertinya baru saja sampai ke istana. Ia jadi harus kembali menyiapkan mobil untuk mengantar kedua tuan putri itu entah ke mana. Sebagai sopir yang bertanggung jawab di istana para putri, ia harus siap siaga kapan saja.


"Ke mana kita akan pergi?" tanya si sopir begitu kedua tuan putri masuk ke dalam mobil. Hafiza pun langsung menjawab, "Rumah Sakit Kekaisaran Altair. Cepat berangkat!"


"Ah, apa Anda berdua mau menjenguk Tuan Muda Asir lagi?" tanya paman sopir penasaran. Ayya dan Hafiza pun mengangguk kompak. Ketika sopir hendak menyalakan mobilnya, tiba-tiba terdengaar suara yang tak asing, "Tunggu!"


Dilihatnya seorang gadis muda yang usianya mungkin sekitar kepala dua. Gadis itu buru-buru membuka pintu mobil dan masuk ke sana. Ia menatap kedua putri dengan tajam.


"Kalian jangan sembarangan pergi ke luar sendiri," omel gadis itu, "Pak sopir, tolong ingat itu!"


"Ba—baik, Yang Mulia Putri Elnara," jawab si sopir gelagapan. Ia hampir lupa akan hal itu. Karena Rumah Sakit Kekiasaran Altair tak terlalu jauh, ia pikir para putri bisa pergi sendiri tanpa seorang wali. Yah, mungkin ini efek samping karena terlalu banyak bekerja dan kurang minum.


"Bibi Elnara juga mau ikut?" tanya Ayya dengan suaranya yang menggemaskan.


"Ya, aku harus ikut untuk menemani kalian. Aku juga penasaran dengan sosok Tuan Muda Asir itu," kata putri bernama Elnara itu. Ia adalah adik termuda kaisar saat ini. Usianya hanya terpaut empat sampai lima tahun dengan pangeran pertama. Ia gadis ceria yang menjadi penguasa Istana Tulip Emas, istana para putri saat ini.


Sesampainya di Rumah Sakit Kekaisaran Altair, Elnara langsung mengajak Ayya dan Hafiza ke resepsionis untuk mencari kamar Ats. Sebenarnya, Ayya sudah tahu di mana tempat itu, tapi ia tetap harus mengikuti prosedur penjengukan yang ada.


"Maaf, Putri Elnara," kata seorang gadis resepsionis dengan seulas senyum tipis yang formal, "Pasien atas nama Tuan Muda Atssuria Asir baru saja melapor untuk pulang dari rumah sakit."


"Apa!? Di mana dia sekarang?" tanya Ayya heboh sampai membuat resepsionis dan orang-orang di sekitarnya kaget.


"Karena laporan itu baru saja masuk, mungkin beliau masih ada di rumah sakit," jawab si gadis resepsionis. Ayya pun berseru, "Ayo cepat cari!"

__ADS_1


Saat Ayya dan para putri tengah sibuk mempertanyakan keberadaan Ats, pemuda itu sedang ada di belakang mereka. Ia bahkan ikut menoleh saat mendengar suara Ayya yang keras. Dilihatnya wajah sang putri yang sangat panik. Namun, ia segera berpaling kembali karena tidak mengenal putri kecil itu. Ia hanya merasa sedikit simpati.


"Anak-anak itu," gumamnya begitu melewati pintu rumah sakit yang otomatis terbuka, "Semoga keluarga mereka baik-baik saja."


__ADS_2