Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 025: Praktisi Ahli


__ADS_3

Inti dari teknik zarahian adalah pengendalian diri dan konsentrasi. Setiap praktisi dituntut untuk dapat berkepala dingin di situasi apa pun. Jika mereka terlampau panik atau gelisah karena suatu hal, teknik mereka tak akan bisa digunakan dengan sempurna.


Namun, ada juga yang namanya insting perlindungan diri. Insting itu memaksa teknik zarahian untuk aktif di saat-saat genting. Masalahnya, teknik yang ditarik paksa oleh insting itu sangat sulit dikendalikan dan cenderung abstrak. Pada dasarnya, itu adalah mekanisme perlindungan diri yang menjadi ciri khas orang-orang dari Klan Zarah.


Dulu, jauh sebelum teknik zarahian terbentuk, insting ini menjadi andalan bagi Klan Zarah yang untuk bertahan hidup di dunia yang luas. Saat itu, merupakan klan minoritas di antara Kaum Aklali. Mereka pun terus berkembang dan belajar dari pengalaman sampai terbentuklah konsep teknik zarahian.


"Pertahankan lebih lama lagi," ujar Master Khaled tegas. Sebenarnya, instruksi itu malah mengganggu dan cenderung memutus konsentrasi Ats dan murid-murid tahap ahli yang lain. Namun, itu juga merupakan pelatihan agar mereka bisa mempertahankan fokusnya lebih baik lagi dalam kondisi yang sulit sekalipun.


"Musuh tak akan menberimu kesempatan untuk berisirahat dan mengulang teknik lagi," kata Master Khaled dengan suara yang lebih keras dan tegas, "Sekali kamu gagal, kamu akan mati atau tertangkap!"


"Ck! Aku tahu, Master. Tolong jangan berteriak dan mengganggu kami," batin murid-murid yang mulai kehilangan konsentrasinya. Partikel zarah pada tubuh mereka mulai tidak stabil. Wajah mereka terlihat mengeras karena menahan beban dari teknik yang berat itu.


"Argh!" beberapa dari mereka pun kehilangan bentuk zarahnya. Partikel-partikel tubuh mereka langsung menyatu. Mereka pun berusaha mengatur napas yang ngos-ngosan begitu penyatuan itu sempurna. Tak sampai setengah menit kemudian, peluh kerinat mulai mengucur di dahi mereka. Tubuh mereka memancarkan hawa panas yang menekan dan sesak.


"Nak, kamu sudah lihat itu," kata Master Khaled pada Solar yang mengamati pelatihan sejak tadi "Apa kamu sudah siap untuk mencobanya?"


Solar pun menatap Ats yang masih bisa mempertahankan teknik zarahiannya, berbeda dengan kebanyakan murid lain yang sudah menyerah. Seperti kata Arka, Keluarga Asir memang paling hebat dalam teknik zarahian. Tentu Solar tak mau kalah.


"Saya siap, Master," Solar mengangguk. Saat ia hendak berkonsentrasi dan memulai teknik, tiba-tiba Master Khaled menghentikannya. "Tunggu! Aku punya ide lain sebelum kamu mulai."


"Hm?" Solar menoleh heran.


"Kamu punya kekuatan yang besar, Nak," ujar Master Khaled dengan seulas seringai di bibirnya, "Karena itulah aku menerima rekomendasi dari Ats. Mumpung dia masih mampu bertahan sampai sekarang, coba kamu serang dia dengan kekuatan penuhmu. Mari kita lihat sehebat apa kemampuan zarahnya"

__ADS_1


"Eh? Apa itu tidak masalah, Master?" Solar tak begitu mengerti maksud Master Khaled, tapi ia sudah siap menyerang Ats dengan tangannya yang mengepal.


"Ck, teknik ini adalah teknik pertahanan diri," Master Khaled berdecak datar, "Tentu itu tidak masalah."


"Oh, tentu," seringai senang muncul di bibir Solar. Ia merasa ini kesempatan yang bagus untuk membalas kecuekan Ats tadi. Dengan kekuatan penuhnya, ia melesat maju menyerang tubuh Ats yang samar-samar transparan.


"Ssh—"


"!?" Solar tertegun di tempat ketika lengannya memukul udara kosong. Tenaganya jadi terbuang sia-sia. Padahal, sudah jelas ia melihat tubuh Ats di posisi ini tadi.


Namun, tiba-tiba tubuh transparan pemuda dari Keluarga Asir itu menghilang. Partikel-partikel zarahnya menyebar ke seluruh ruangan sehingga tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sejenak kemudian, Ats muncul di belakang Solar dan melancarkan serangan balik.


"Aduh!" Solar tak dapat menangkis serangan dari titik buta itu. Ia meringis kesal dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Ats. Untung saja fisiknya kuat sehingga ia tak langsung terjatuh.


"..."


Tubuh Ats kembali melebur ketika sebuah tangan besar hendak menepuk pundaknya dengan kuat. Ia pun muncul kembali sedikit jauh dari sana. Didapatinya Master Khaled yang tersenyum puas.


"Bagus, kamu semakin lihai mengendalikan teknikmu," puji Master Khaled ang kini *******-***** genggaman tangannya sendiri. Di pelatihan pertama kemarin, ia membuat tangan Ats hampir "putus" hanya karena menepuk pundaknya. Setelah itu, Ats jadi merasakan nyeri yang bertahan sangat lama.


"Hah—" Ats menghela napasnya, lalu menunduk hormat, "Terima kasih, Master."


Ia langsung tersungkur duduk kemudian. Peluh keringat mulai merembes di tubuhnya yang lelah. Tenaganya terserap banyak saat menyingkir dari serangan Solar tadi. Andai ia terkena serangan itu, punggungnya pasti akan sangat sakit sekarang, apalagi kalau ia tak bisa menghindari tepukan Master Khalid.

__ADS_1


"Solar, sekarang giliranmu," ujar Master Khaled, kemudian menyuruh murid lain yang sudah selesai beristirahat untuk kembali latihan. "Hai, Kalian! Cepat bangun. Aku tidak ingin melatih pemalas di kelas ini."


"Baik, Master," jawab para murid dengan suara lesu. Mereka akan mendapat hukuman yang lebih menyakitkan bila tidak segera bangkit. Itu menjadi pengalaman pahit mereka di awal-awal jadi praktisi tahap ahli dulu.


"Sudah kuduga, kamu memang pantas," Arka muncul tiba-tiba di samping Ats seperti ia yang muncul tiba-tiba di belakang Solar tadi. Itu adalah salah satu teknik zarahian yang umumnya dikuasai para praktisi ahli tingkat menengah, Teknik Perpindahan Pendek. Tidak mudah untuk mengusai teknik itu. Biasanya, para praktisi ahli tingkat awal hanya dapat menghilang dan muncul kembali di tempatnya setelah diserang.


"Senior juga," balas Ats datar.


Respon yang terkesan cuek itu membuat Arka yang supel merasa canggung. Ia tertarik kepada Ats sejak melihatnya bertanding dengan Master Khalid. Namun, bocah itu tak semudah yang ia kira.


"Hai, ayo bertanding denganku," Arka kembali mengajak Ats untuk sparing. Berbeda dengan bocah Asir itu, tubuhnya masih sangat bugar dan penuh semangat meskipun sudah banyak menggunakan tenaga zarah. Yah, dia kan memang praktisi ahli tingkat menengah yang berbakat.


"Nggak mau," Ats kembali menolak. Ia pun bangkit dari duduknya, berniat untuk melanjutkan latihan, "Senior Arka minta duel aja sama Master Khaled."


"Ha? Nggak mau, lah," gantian Arka yang menolak ide itu. Ia dan Master Khaled sangat jauh berbeda. Tidak mungkin ia bisa menang dengan praktisi tahap master yang terkenal itu.


"Hm, ya udah," Ats langsung kembali ke tengah lapangan dan memulai tekniknya. Ia bisa berkonsentrasi dengan cepat. Dalam waktu singkat, partikel-partikel zarahnya mulai berpisah. Tubuhnya pun terlihat transparan. Tak berhenti sampai di situ, ia mulai menghilang dari tempatnya tak lama kemudian.


Para murid yanng sempat melihatnya melakukan teknik berdecak kagum. Ada juga yang tersenyum pahit, bahkan merasa iri. Ats adalah murid tahun pertama, sedangkan mereka rata-rata murid tahun kelima atau keenam. Paling muda pun murid tahun keempat yang jumlahnya tak banyak. Meskipun bisa dibilang berbakat, tapi mereka seolah tak ada apa-apanya dengan Ats yang sudah menjadi prektisi tahap ahli di usia yang semuda itu.


"..."


Tubuh Ats muncul kembali tanpa suara tak lama kemudian. Partekel zarahnya menyatu secepat kilat menyambar. Ia pun menghela napas panjang. Rasanya seperti muncul ke permukaan setelah menyelam cukup lama di dalam air.

__ADS_1


Solar yang berdiri di sampingnya menatap tanpa ekspresi. Bocah dari Keluaga Efendi itu memperhatikan Ats dengan seksama. Meskipun ia juga merasa iri dengan kemampuan Ats, tapi ia juga bersyukur karena sudah mendapat rival yang cocok. Untuk bisa berkembang lebih jauh, tentu ia butuh rival atau mentor yang lebih kuat.


__ADS_2