Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 048: Janji


__ADS_3

"Kakak," sapa Ayya di balik layar gawai Nenek Amina—sampai selesai mandi, ponsel Ats tak juga ditemukan. Gadis kecil itu melambaikan tangannya dengan riang, "Gimana kabarnya? Sehat, kan?"


"Sehat kok," Ats menyungging senyum. Ini pertama kalinya ia melihat langsung wajah adiknya meskipun secara daring, "Ayya sendiri sehat, kan?"


"Iya," jawab Ayya dengan senyum yang sama, "Kakak kok nggak ikut perjamuan?"


"Maaf, ya. Kakak nggak begitu betah di acara begituan. Kakak baru tahu kalau Ayya mau datang sewaktu dah di kereta. Kalau kakak tahu lebih awal, kakak pasti juga datang," ucap Ats dengan rasa bersalah di hatinya. Meskipun Ayya tersenyum padanya, ia masih bisa melihat kekecewaan samar di wajah adik kecilnya itu.


Mereka berdua belum pernah bertemu langsung sejak kecil karena perbedaan hak asuh antara Keluarga Asir dan Keluarga Kekaisaran. Selain itu, Ayya juga sering sakit-sakitan karena tubuhnya yang lemah. Karena itu, hubungan keduanya jadi terhambat.


"Kalau gitu, nanti Kakak balik ke ibu kota lebih awal, ya," pinta Ayya dengan senyum yang lebih tipis. Ada harapan besar yang tersampaikan dari kata-katanya. Ia meminta pada Ats dengan sungguh-sungguh.


"Akan kakak usahakan," janji Ats. Ia pun mengingat sesuatu, "Oiya, apa kamu nggak mau ikut Bibi Razana pulang ke mari?"


"Em?" mata Ayya melebar, tampak tertarik dengan hal. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sesuatu, lalu berkata dengan semangat, "Mau! Aku mau ikut Bibi Razana ke rumah Kakak. Aku bilang ke bibi nanti. Kakak juga bilangin, ya. Biar Bibi Elnara mau kasih izin."


"Ya," Ats mengangguk kecil. Ia sempat tersentak kecil saat Ayya menyebut "Rumah Kakak". Itu menunjukkan betapa jauhnya hubungan mereka selama ini, padahal mereka adalah saudara kandung.


"Janji, ya," Ayya memastikan, "Nanti kita ke ibu kota bareng setelah itu."

__ADS_1


"Janji," ucap Ats sungguh-sungguh, "Bibi pasti suka pulang sama kamu."


"Hm," Ayya mengangguk setuju. Dokter Razana pasti memang senang, tapi entah dengan Putri Elnara. Mereka pun mengobrolkan beberapa topik yang acak. Ayyalah yang lebih banyak berbicara. Ia menceritakan kesehariannya dengan riang. Ats sangat senang meski hanya mendengarkannya. Mereka baru berhenti sebelum mentari tenggelam.


Ats menjalankan aktivitas ibadahnya seperti biasa setelah itu. Setelah semua kegiatannya usai, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke asrama para tamid atau murid di perguruan kakeknya. Kebanyakan mereka adalah generasi muda Keluarga Asir, tapi banyak juga yang berasal dari luar. Dulu, Ats pun sempat tinggal di asrama itu.


"Peringatan! Penguntit terdeteksi!" Arselan melaporkan. Ats pun berhenti di tempatnya. Posisinya saat ini sudah dekat dengan asrama tamid. Saat ia sampai di asrama itu, harusnya sudah lebih aman daripada sendirian.


Dalam sekejap kemudian, Ats mengaktifkan teknik zarahiannya. Tubuhnya pun melebur menjadi partikel-partikel kecil yang kemudian terbang dengan cepat ke gerbang asrama.


"Siapa itu!?" penjaga gerbang asrama terkejut. Ia reflek memasang kuda-kuda. Matanya awas menatap sosok yang tubuhnya mulai terlihat.


"Tu-Tuan Muda?" penjaga gerbang semakin terkejut melihat sosok pemuda yang datang. Ia pun mengganti kuda-kudanya dengan sikap hormat.


"Mungkin bukan di Keluarga Asir," balas penjaga yang tetap dalam posisi sikap hormat itu, "Tapi Anda tetap tuan muda di perguruan ini."


"Angkatlah kepalamu," pinta Ats kemudian, "Aku tidak suka yang formal-formal begitu. Lagi pula, aku juga tamid di perguruan ini."


"Lama tak berjumpa, Tuan Muda," penjaga itu mengangkat kepalannya. Ia adalah seorang pria paruh baya yang kekar. Menurut penilaian Arselan, ia praktisi tingkat ahli puncak, sedikit lagi sebelum menjadi seorang master tahap awal.

__ADS_1


"Ini baru enam bulan, Pak Dani," Ats merasa itu belum lama, "Saya baru pergi selama satu semester."


"Ah, begitu, ya," Pak Dani menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil terkekeh, "Mungkin saya terlalu lama menanti kedatangan And—"


Pak Dani melirik ke luar gerbang. Ia pun merentangkan tangannya untuk menjaga Ats dari kemungkinan bahaya. Tubuhnya reflek melakukan hal itu.


"Tuan Muda," panggil Pak Dani, "Ada yang menyusup ke mari. Mohon Anda masuk terlebih dulu, biar saya yang—"


"Akh ...!!!"


Bruk!


"Kamu lagi," Ats menatap tajam seorang pria berkumis tebal yang yang tergeletak jatuh tak jauh dari gerbang asrama. Pria itu tampak tertekan oleh sesuatu. Tangannya menutup telinga kuat-kuat seolah mendengar suara yang sangat memekak.


"A—ampun, Tu—Tuan Muda," kata pria itu dengan terbata-bata. Ini kedua kalinya ia mengalami kesakitan seperih ini hari ini. "S—saya ti—tidak berniat ja—jahat sama sekali."


"Siapa kamu?" Pak Dani menghunuskan pedang yang sejak tadi tersembunyi di balik pinggangnya. Ia menatap pria berkumis tebal itu dengan dingin.


"Katakan sejujurnya! Kamu bukan dari Perguruan Awan Putih, kan?" Ats ingat bahwa sore tadi pria itu memperkenalkan diri sebagai utusan dari Perguruan Awan Putih, tapi Arselan mendeteksi bahwa itu adalah kebohongan.

__ADS_1


"Saya memang bukan anggota resmi," jawab si kumis tebal beralasan. Ats telah menghentikan pancaran gelombang kepadanya, jadi ia bisa berbicara dengan lebih lancar sekarang, "Tapi saya sungguh utusan dari sana. Anda akan mengetahuinya besok pagi."


"Apa maksudmu?" Ats menatap curiga.


__ADS_2