
Ats berdecak kagum melihat logam-logam kecil yang telah dipenuhi oleh ukiran itu. Sebagai orang yang sudah belajar sedikit banyak tentang teknologi mutakhir, tentu ia tahu bahwa ukiran-ukiran itu bukanlah hiasan, tapi sirkuit yang memiliki fungsi tersendiri dalam sebuah gawai.
“Ini adalah karya dasar,” jelas Profesor Han sembari menunjukkan cip logam itu, “Para ilmuan yang sudah ahli akan mampu membuat droid-droid berukuran nano yang mampu berguna di berbagai bidang.”
“Seperti droid nano yang terkoneksi dengan Arselan di tubuhku?” tebak Ats. Droid yang ia maksud adalah droid yang mampu mempercepat pemulihan tubuhnya dari berbagai luka dan penyakit. Droid-droid itu akan tersimpan dalam cakram Arselan saat tidak terpakai. Mereka baru akan beraksi saat AI Arselan memberikan sinyal komando. Kalau mereka terus tinggal di tubuh Ats, itu justru akan membahayakannya.
“Tepat,” jawab Profesor Han membenarkan, “Kamu membutuhkan ketelitian dan keterampilan yang tinggi untuk menyusun droid-droid itu.”
“Apakah saya boleh mencobanya sekarang?” tanya Ats semangat. Kedua telapak tangannya dikepal. Sekejap kemudian, ia sudah mulai mengaktifkan teknik zaharian.
“Belum,” ucap Profesor Han tegas, “Kamu harus menstabilkan teknikmu lebih baik lagi. Akselerasi mungkin membantu. Namun, kamu tidak mungkin melakukan pelatihan berbahaya itu terus menerus, bukan?”
“Saya akan mencobanya,” Ats berkata dengan penuh keyakinan, “Anda tidak perlu risau sama sekali, Profesor.”
Semester kedua Ats yang sibuk pun berjalan semakin cepat. Ia belajar dan berlatih seolah tak ada habisnya. Namun, ia tentu tetap harus memperhatikan kesehatannya. Apalagi di bawah pengawasan Dokter Razana yang semakin ketat memperhatikannya.
__ADS_1
Di hulu kuartal ketiga atau pertengahan semester kedua, sebuah pernikahan besar diadakan. Pernikahan itu adalah pernikahan istana sekaligus akademi. Profesor Han ada perwakilan Keluarga Kekaisaran Altair, sedangkan Dokter Razana adalah perwakilan Keluarga Asir. Di samping itu, keduanya adalah ilmuwan di Akademi Altair yang sama-sama alumnus institusi pendidikan terkemuka itu.
Setelah pernikahan royal itu, pengawasan Dokter Razana terhadap Ats jadi semakin ketat lagi. Ats yang terus-terusan berlatih teknik zarahian pun harus melakukan pemeriksaan rutin setiap minggunya. Ia jadi terlihat seperti murid yang diperlakukan secara khusus di akademi, tapi pihak akademi tak mau menanggapi hal itu sama sekali. Lagi pula, ada pihak yang secara rahasia melindunginya dari berbagai intervensi publik maupun intelijen.
Melihat perkembangan Ats yang pesat, Solar tidak mau kalah. Ia meminta pelatihan tambahan pada Master Khaled yang bahkan sampai kewalahan menghadapi semangatnya. Jiwa persaingan suksesor dari Keluarga Efendi itu sangat besar saat dihadapkan dengan lawan yang lebih besar.
Di Komite Informasi, Arjuna lagi-lagi bertemu dengan Master Eden. Baru-baru ini, ia pun baru mengetahui bahwa Master Edenlah yang merekomendasikannya secara langsung agar dimasukkan ke komite itu, padahal Arjuna hanya iseng-iseng mencoba. Master Eden ingin melatihnya secara intensif di sana.
Tak hanya Master Eden, Instruktur Mus juga memperketat jadwal Kelas Menembaknya. Pemadatan itu dilakukan atas instruksi Iskandar. Sang pangeran ingin menyiapkan tim yang terbaik untuk menyokongnya. Ats dan Arjuna adalah dua nama yang masuk ke dalam sakunya. Karena itu, Arjuna pun jadi tak kalah sibuk dengan Ats dan Solar.
Semester kedua berjalan tanpa terasa. Berbagai event antarakademi terlaksana dengan semestinya. Setiap anak mendapat pelajaran yang berarti bagi dirinya, kecuali anak-anak yang tak mau mendapatkannya dan mendekam di pojok zona nyaman yang fana.
***
“Kita sudah sampai di penghujung semester,” ucap Iskandar dengan seulas senyum puas di wajahnya. Dari gawai yang ia bawa, dilihatnya laporan hasil perkembangan para murid tahun pertama di akademi. Itu adalah hasil yang lebih memuaskan dari tahun sebelumnya.
__ADS_1
“Saatnya menguji kemampuan mereka,” lanjut sang Pangeran Kedua, “Benar, kan, Instruktur Mus?”
“Tentu, Yang Mulia,” Instruktur Mus mengangguk pelan, “Festival Akademi akan segera dilaksanakan. Kami akan mengatur acara yang dapat menunjukkan potensi mereka dengan maksimal.”
“Kuserahkan padamu, Instruktur,” Iskandar menatap ke luar ruangan. Mentari sore akan segera tenggelam di sana. Semburat merah itu teramat indah dipandang. “Kita akan lihat sebaik apakah mereka berkembang di tahun pertama.”
“Baik, Yang Mulia,” Instruktur Mus menerima perintah itu. Ia pun memberi laporan selanjutnya terkait dengan pihak seberang. Menurut hasil pengamatannya, pihak mereka belum menunjukan kemajuan apa pun. Sama seperti pihak Pangeran Kedua sih sebenarnya.
“Dokter Razana mungkin sudah mendengarnya, ya?” tebak Iskandar. Tak hanya keluarga kekaisaran, keluarga besar seperti Keluarga Asir pun punya bayang-bayangnya sendiri. Apalagi keluarga itu adalah keluarga murni yang telah melahirkan banyak jenderal sejak ratusan tahun lalu.
“Itu sangat mungkin, Yang Mulia,” jawab Instruktur Mus, “Kami pun berasumsi bahwa pergerakan Pangeran Han dan Dokter Razana akhir-akhir ini berkaitan dengan perintah langsung Kepala Keluarga Asir.”
“Apa kalian tahu isi perintahnya?” Iskandar jadi penasaran.
“Kami belum bisa memastikannya,” Instruktur Mus sedikit mengalihkan pandangan, “Yang jelas, itu adalah perintah untuk menjaga anak-anak Keluarga Asir yang ada di ibu kota.”
__ADS_1
“Aku mengerti,” Iskandar pun mengulas senyum simpul, “Itu bukan masalah bagi kita. Keluarga Asir tidak akan menghalangi kita selama masih sejalan dengan mereka. Tinggal bagaimana cara kita merekrutnya saja.”