
"Dia hilang!?" seru Zagan kaget. Ia benar-benar tak bisa merasakan keberadaan bocah Asir itu sama sekali.
"Apa!? Apa dia mati?" tanya Ulu panik.
"Hus! Mana mungkin?" Radu berusaha berpikir positif meskipun ia juga cemas, "Ini teknik zarahian tingkat tinggi. Tidak banyak praktisi bisa menguasainya di usia semuda itu."
"Hebat!" Ulu malah jadi takjub, "Dia memang pantas menjadi Tuan Muda Asir."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Zagan berusaha mencari solusi. Apa pun yang terjadi, mereka harus melindungi Ats. Misi mereka akan gagal kalau bocah itu benar-benar mati di jurang.
"Terjun," ucap Ulu dengan entengnya.
"Apa?" Zagan merasa pendengarannya sedikit bermasalah. Ulu pun mengulanginya sekali lagi dengan sebuah seringai usil di bibirnya. "Terjun!"
"Hai!" Zagan jatuh ke lembah tanpa kesiapan penuh. Ia pun menatap tajam pada Ulu yang melambaikan tangannya dengan santai, kemudian memalingkan badan. Sebelum ia benar-benar terjatuh ke tanah, pemuda itu mengaktifkan teknik zarahian.
Tubuhnya melebur di udara seketika. Karena massa yang rendah, partikel-partikelnya mendarat dengan mulus di dasar jurang. Ia pun kembali menyatu, tapi ia tetap tak merasakan keberadaan Ats sama sekali.
"Dia tak ada di dasar jurang," kata Zagan melaporkan pada kawan-kawannya dengan seperangkat komunikasi nirkabel. Pandangannya menyapu ke segala arah. Hanya ada dedaunan dan ranting pohon di sana.
"Hai, cari yang benar!" kata Ulu dari seberang perangkat komunikasi itu dengan enaknya.
"Kau!" Zagan tak terima diperintah-perintah begitu oleh orang yang sembarangan mendorongnya ke jurang, "Turun sini! Bantu aku mencarinya!"
"Dia sudah turun," Radu yang menjawab, "Aku mendorongnya barusan. Cobalah mencari tuan muda di bawah. Aku akan menghubungi yang lainnya."
"Eh?" Zagan mengedipkan matanya dua kali, "Terima kasih."
__ADS_1
"Aduh!" tubuh Ulu tiiba-tiba muncul tak jauh dari posisi Zagan. Ia pun merutuki Rudi yang mendorongnya barusan. Padahal, sebelumnya ia juga mendorong Zagan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ck, diamlah! Fokus cari bocah itu," kata Zagan meminta Ulu untuk serius.
"Hehe, aku tahu," Ulu malah menjawab sambil cengengesan. Mereka mencari Ats di lembah itu seharian. Sampai mentari terik di atas kepala, mereka tak kunjung juga menemukannya.
"Hais ...!" desis Ulu kesal, "Ke mana bocah itu?"
"Ulu, ini semua salahmu," Zagan pun juga sudah kesal. Mendengar itu, Ulu menoleh tak terima, "Apa maksudmu?"
"Kamu tak bisa membaca suasana," jawab Zagan blak-blakan, "Ats jelas terganggu dengan sikapmu."
"Aku—" Ulu tak bisa membantahnya. Ia pun beralasan, "Aku hanya mau dekat dengannya."
"Itulah yang membuat dia terganggu," tambah Zagan tegas.
Sementara Ulu dan Zagan mencarinya di lembah dengan susah payah, Ats malah sedang berjalan santai di bukit seberang. Ia beristirahat sebentar sebelum kembali berjalan tadi. Sesuai dugaannya, para pengungtit yang diutus oleh Iskandar itu tak mengikutinya lagi.
"Hah ... akhirnya tenang juga," Ats menghela napasnya ringan. Ia pun duduk di bawah sebuah pohon besar.
Pohon itu amat rimbun. Akarnya besar-besar sampai mencuat ke permukaan tanah. Saking besar, akar itu dapat digunakan untuk bersembunyi, bahkan berteduh saat hujan lebat. Tak hanya di bawah, akar atasnya pun juga tumbuh lebat menggantung di batang-batang rimbun yang kokoh. Ini adalah salah satu pohon tertua di Pulau Reda.
Ketika Ats tengah santai menikmati kesendiriannya, sebuah pesawat berukuran kecil tiba-tiba terbang cukup rendah di atasnya. Suaranya sangat berisik sampai membuat Ats merasa terganggu. Padahal, ia baru saja mau terlelap.
"Hais ...," keluh Ats dengan helaan berdesis di mulutnya, "Mereka sudah datang. Aku tak perlu pulang, kan?"
"Benar, aku tak punya kewajiban untuk menyambut mereka," kata Ats setelah berpikir sebentar, "Aku kan bukan Tuan Muda Asir."
__ADS_1
Ia pun kembali melanjutkan tidurnya. Di tempat ini, tak akan ada yang bisa menemukannya. Ia bisa beristirahat dengan santai di sini sepuasnya.
Yah, sepuasnya. Harusnya begitu. Namun, tiba-tiba Arselan memberinya peringatan.
"Entitas mencurigakan terdeteksi," lapor Arselan, "Izin melakukan tindakan."
"Tunggu!" Ats mencegah. Ia pun mengecek peta dua dimensi yang Arselan tunjukkan di matanya. Ada beberapa titik yang terlihat di sana. Dua titik biru yang terletak di lembah adalah Ulu dan Zagan. Mereka masih sengat jauh dari posisinya. Sementara ....
"Ats!" sebuah suara nyaring mengejutkan Ats yang sedang fokus, "Sudah kuduga, kamu memang di sini."
"Anasiya?" Ats memang sudah menduga, titik merah yang ada di peta dua dimensi itu adalah kawan masa kecilnya.
"Wah, kamu dah besar, ya," gadis yang dipanggil Anasiya itu kagum dengan penampilan Ats hari ini. Nama lengkapnya adalah Anasiya Zivana. Ia merupakan putri salah satu wali kota yang ada di Pulau Reda.
"Hm, kamu juga," Ats bangkit dari tempatnya, lalu mengusap pakaiannya yang berdebu. Meskipun terasa sebentar, sepertinya ia sudah tidur cukup lama.
"Aku dengar kalau kamu terjun ke jurang, makanya aku langsung tahu kalau kamu ke sini," kata Anasiya sambil berjalan mendekat ke arah Ats. Gadis berkerudung rapi itu melompat dari satu akar besar ke akar besar lainnya. Saat sampai di dekat Ats, ia pun menyunggingkan senyumnya yang ayu.
"Lama tak jumpa," kata gadis itu dengan suaranya yang lembut, "Kamu kelihatan makin ganteng aja."
"Haha," Ats membuang wajahnya. Ada semburat merah yang samar di wajahnya. "Gitu, ya."
Kecanggungan menyeruak seketika. Ats bingung bagaimana harus bersikap kepada Anasiya. Keduanya sudah lama tak bertemu. Terakhir kali adalah saat usia mereka sebelas atau dua belas tahun. Yang jelas, ia harus menjaga jarak darinya.
"Hm?" Anasiya menatap Ats dengan pandangan heran. Sekejap kemudian, senyum usil terlukis di bibirnya, "Kamu—"
"Ssht!" Ats meminta Anasiya untuk diam tiba-tiba. Mimik di wajah pemuda itu berubah 180°, terlihat amat serius mengawasi sekitar. Detik berikutnya, tubuh pemuda itu melebur, lalu hilang dari pandangan Anasiya begitu saja.
__ADS_1