
Ats menatap surat digital resmi yang dikirim oleh Sauka. Master zarahian dari Perguruan Awan Putih itu belum juga menyerah untuk mengundangnya. Ia sampai bingung mau menanggapinya dengan cara apa.
"Hai, apa itu?" tanya Ulu yang tiba-tiba muncul di belakang Ats. Ats sampai tersentak karenanya. Bocah Asir itu sungguh kesal dengan tingkah supel pemuda dari Akademi Neo-Altair ini.
"Surat," jawab Ats datar.
"Apa dari paman besar yang menyebalkan itu?" tebak Ulu dengan nada bicaranya yang khas.
"Menyebalkan?" Ats mengerutkan keningnya. Ia memang setuju dengan pendapat itu. Namun, ia tak menyangka bahwa kata-kata itu akan keluar dari mulut Ulu yang mampu berinteraksi dengan siapa saja. "Apa terjadi sesuatu di antara kalian?"
"Hampir," jawab Ulu sambil mengingat kejadian tempo hari, "Kalau saja Nona Anasiya tidak datang, kami pasti berada dalam masalah."
"Kalian hampir menantang seorang master?" Ats nyaris tak percaya. Andai Ulu dan kawan-kawannya bukan dari Akademi Neo-Altair, ia pasti menyangka bahwa mereka sudah gila.
"Begitulah," kata Ulu dengan entengnya, "Kami curiga dengan tindak-tunduknya. Dia terus berusaha untuk bertemu denganmu meskipun kamu selalu menolaknya. Menurut dugaan kami, dia adalah utusan dari kubu seberang."
"Mau coba menyelidikinya dari dekat?" Ats mendapat ide yang bagus. Ia bisa memanfaatkan tim Ulu untuk menjalankan rencananya ini.
"Kami sudah melakukannya selama dia ada di sini," Ulu merasa hal itu tak diperlukan, "Tak ada bukti yang mengidentifikasikan bahwa dia utusan 'mereka' meskipun kami sangat yakin."
"Cobalah jadi utusanku secara resmi," kata Ats menawarkan, "Lalu, coba cari tahu apa yang dia inginkan dariku."
"Kamu menyuruh kami?" Ulu tampak tak senang.
__ADS_1
"Bukan," Ats menggeleng dengan senyuman tipis di wajahnya, "Aku mengajak kalian untuk bekerja sama. Andai kalian bisa menemukan 'tersangka', nilai kalian pasti bertambah. Lagi pula, aku menjadi penjamin kalian di sini. Kalian datang secara resmi kepada mereka. Tidak mungkin kalian dicurigai."
"Hm, menarik," Ulu merasa itu ide yang bagus. Sebelum ia berpikir lebih jauh, Ats berkata padanya, "Baiklah kalau begitu. Sudah diputuskan bahwa kalian akan pergi ke Perguruan Awan Putih untuk mewakiliku."
"Hai! Aku belum menyetujuinya," protes Ulu.
"Eh? Aku sudah mengirim balasannya," kata Ats dengan wajah tanpa dosa, "Kalian harus mau jadi perwakilan ke sana. Kalaupun bukan kamu, setidaknya salah atau dari kalian harus berangkat untuk memeriksa Master Sauka dan Perguruan Awan Putih."
"Biar aku saja yang berangkat," Zagan yang kebetulan mendengarnya menawarkan diri.
"Oke, aku akan mengurus semua keperluan untuk keberangkatan kalian," kata Ats kemudian, "Tunggulah kabar dariku."
Sorenya, Ats memberikan token resmi kepada Zagan dan Arie. Kedua agen dari Akademi Neo-Altair itu pun berangkat ke Perguruan Awan Putih sebagai utusan resmi Ats yang menerima undangan dari Master Sauka. Begitu mereka pergi, Ats menghela napas lega karena sudah mengenyahkan beberapa benalu yang mungkin mengganggu liburannya.
"Kamu nggak suka sama pamanku, ya?" Anasiya menanyakan soal yang selama ini dipendamnya. Dia benar-benar tinggal di Perguruan Zarahian Asir sampai akhir liburan Ats.
"Itu beneran, ya?" Anasiya tampak sedih dan kecewa mendengarnya. Gadis itu merasa bersalah. Ia pun menunduk di hadapan Ats. "Perguruan Awan Putih tidak tahu-menahu tentang hal itu. Aku mewakili mereka untuk memohon maaf padamu."
"Kamu bukan orang yang seharusnya melakukan itu," Ats tak menerima permintaan maafnya. " Berdirilah! Kami tahu mereka tidak memiliki hubungan dengan Perguruan Awan Putih secara resmi sama sekali. Aku cuman bisa mengingatkan agar kamu berhati-hati dengan orang yang kamu panggil 'paman' itu."
Anasiya menatap punggung Ats yang kini telah berpaling meninggalkannya. Ada kecemasan yang muncul di hatinya. Perasaan itu membuatnya tak bisa tenang akhir-akhir ini.
"Kak Ana," panggil Ayya dengan suara manisnya. Anasiya pun menoleh. Dilihatnya Ayya dan Hafiza yang datang kepadanya.
__ADS_1
"Ada, Tuan Putri?" tanya Anasiya heran.
"Kenapa Kak Ana minta maaf pada kakakku?" tanya Ayya penasaran, "Apa Kakak habis bertengkar?"
"Bukan," Anasiya menggeleng, lalu tersenyum pada putri kecil yang ceria itu. "Kami tidak bertengkar sama sekali. Itu ... hanya masalah kecil yang akan segera selesai."
"Begitukah?" Ayya menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi polos, "Baguslah kalau begitu."
"Ayya, Ayya," panggil Hafiza kemudian. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga Ayya. Mendengar itu, Ayya berkata, "Pasti begitu! Coba aku tanya pada Kak Ats besok."
"Ada apa?" Anasiya ingin tahu apa yang dibicarakan oleh kedua gadis kecil itu. Sayangnya, Hafiza langsung menggeleng kuat, menolak untuk memberi tahu sambil cengar-cengir iseng. Begitupun Ayya. Mereka langsung kabur dari hadapan Anasiya sekejap kemudian.
***
"Jadi, ini tempat kamu sembunyi setiap kali merajuk dulu?" tanya Dokter Razana begitu turun dari mobilnya. Ats pun tersenyum simpul, lantas membalas, "Bukan, tempatnya ada di atas sana."
"Kakak, Kakak," panggil Ayya yang duduk di gendongan punggung Ats. "Kakak suka merajuk dulu?"
"Hm?" Ats menoleh sedikit, lalu menjawab dengan jujur, "Ya."
"Kamu lebih baik daripada Kakakmu," Dokter Razana mengelus kepala Ayya gemas, "Kakakmu sangat merepotkan kalau sedang merajuk. Dia menghilang seharian dan baru kembali sore harinya. Kami tak akan bisa menemukannya kalau dia tak pulang sendiri. Nenekmu sampai sangat khawatir kalau-kalau dia diculik orang."
"Ternyata Kakak lebih nakal dari Ayya," komentar Ayya. Ats pun terkekeh mendengarnya. Ia tak menyangkal hal itu sama sekali.
__ADS_1
Setelah berjalan sebentar, mereka pun sampai di puncak bukit berpohon tua. Rombongan yang Ats bawa cukup terpana melihat pemandangan di sana, bahkan Nenek Amina yang ikut karena mengkhawatirkan Ayya juga.
"Ini tempatnya," kata Ats dengan senang hati. Meskipun tempatnya sudah tidak rahasia sekarang, ia tetap senang karena bisa ke mari bersama keluarga besarnya. Jika ia mau, ia mungkin bisa menjadikannya destinasi wisata besar suatu saat nanti.