
"Otoritas didapatkan," seru Arselan melaporkan.
"Wow, itu benar-benar bisa dilakukan," Magister Snoug terkagum melihat droid di bangsal dapat bergerak dengan sendirinya, "Hai, katakan padaku. Kamu mengendalikannya dengan pikiran, kan?"
"Eh," Ats sedikit terkejut. Ia pun menjawab, "Iya."
"Hebat," puji Magister Snoug takjub, "Kudengar, sistem itu sangat membebani otak, tapi kamu bisa menahannya. Aku benar-benar salut padamu, Ats."
"Kata profesor, itu karena saya memiliki kemampuan inteligensi yang kuat. Kami sedang mencari spesifikasi yang akurat untuk driver. Jika spesifikasi itu telah berhasil ditemukan, sistem mungkin aman digunakan oleh orang lain juga," jelas Ats. Droid yang dikendalikannya sudah mendekat. Mereka pun berjalan ke tempat praktik dilaksanakan.
"Hm, sayang sekali. Kenapa kalian harus menghentikan penelitian itu?" Magister Snoug menyesalkan, "Pasti hebat jika penelitian itu berhasil direalisasikan."
"Haha, kondisi yang memaksa," Ats tertawa kecil, "Untuk saat ini pun, saya harus sangat berhati-hati menggunakan sistem. Salah sedikit saja, mungkin saya akan tumbang."
"Eh, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku tadi?" Magister Snoug tampak menyesal, "Aku tidak bisa memaksamu jika itu bisa membuatmu terluka."
"Saya baik-baik saja," ujar Ats tenang, "Ini juga berguna bagi saya untuk meningkatkan kemampuan inteligensi saya."
"Oh, begitu, ya," Magister Snoug pun tampak berpikir keras. Sejenak kemudian, wajahnya kembali seperti biasa. Mereka telah sampai di spot yang ditentukan.
"Tidak banyak yang harus kamu lakukan," jelas Magister Snoug sebelum praktik dimulai, "Cobalah untuk mengawasi domba-domba itu dengan baik. Saat waktunya tiba, kamu harus menggiring mereka ke tempat peristirahatan."
"Baiklah," Ats mengangguk paham.
"Oh, ya. Kawanan domba ini memiliki seorang pemimpin," Magister Snoug memberi bocoran, "Cobalah mencari pemimpinnya, maka tugasmu akan semakin mudah."
"Saya mengerti," Ats mengangguk pelan. Ia pun mengaktifkan fitur berbagi pandang dengan droid yang dikendalikannya. Sejanak kemudian, matanya mampu melihat padang luas yang ditangkap kamera droid.
Meski terdengar mudah, nyatanya praktik itu sangatlah sulit. Ats fokus mencari pemimpin kawanan di antara ribuan domba di bawah sana. Sayangnya, ternak-ternak berbulu putih itu terlihat sama semua sehingga tak sukar menemukannya.
__ADS_1
Menurut penjelasan Magister Snoug, pemimpin kawanannya adalah domba paling besar dan mencolok. Meski sudah diberi tahu begitu, pencariannya pun tetap tidak mudah. Pada akhirnya, Ats kehabisan waktu mencari pemimpin kawanan domba itu. Ia pun harus menggiring semua domba dari ketinggian yang pas dan teliti.
Sayangnya, penggiriangan domba ke tempat peristirahatan pun tidaklah mudah. Salah sedikit, domba-domba itu tak akan mau menurut. Ada banyak domba yang masih ingin merumput meskipun mentari hampir tenggalam. Karena tugas Ats tak kunjung selesai, Pak Tua Chung pun terpaksa mengambil alih.
Pak tua itu menggunakan droid yang berbeda. Entah bagaimana, ia mampu menggiring domba-domba itu dengan cepat. Ats pun jadi berpikir bahwa droid yang dipakainya kurang memadai.
"Hais ... dasar bocah amatir!" cecar Pak Tua Chung, "Aku sudah menggunakan droid yang kamu pakai itu selama belasan tahun. Bukan droidnya yang jadi masalah, tapi kamu yang tak becus menggunakannya."
"Ah, begitu, ya," Ats berucap lirih. Ia dipaksa merenung. Ditatapnya droid yang tadi dipakainya untuk mengembala itu. Besi itu tergeletak rapi di atas sebuah meja kayu antik.
"Nak, menjadi pemimpin itu bukan soal apa yang kamu gunakan," kata Pak Tua Chung mewejang, "Sama sekali bukan! Hais ...! Kukira, kau lebih baik dari bocah udik itu."
Magister Snoug yang sedang menikmati sebuah apel pun langsung menoleh. Ia reflek merespon ketika panggilan bocah udik itu diucapkan oleh Pak Tua Chung.
"Yah, setidaknya kamu lebih tenang dari dia," Pak Tua Chung menggeleng-gelengkan kepalanya miris mengingat bagaimana tingkah Magister Snoug dahulu. "Pokoknya, jangan sampai kamu jadi seperti dia."
"Eh, lalu—" Ats ingin menanyakan sesuatu, tapi pak tua itu tiba-tiba pergi begitu saja. Magister Snoug pun menghampiri Ats dan menepuk pundaknya.
"Hm," Ats mengangguk.
"Hai, Pak Tua!" seru Magister Snoug keras sambil melambaikan tangannya, "Kami pamit dulu."
"Heh, pergilah, Bocah udik!" Pak Tua Chung membalas seruan itu dengan sarkastis. Wajahnya terlihat sangat galak. Kalau saja ada anak kecil yang melihat, mereka pasti langsung lari terbirit-birit karena takut.
"Apa Anda berasal dari peternakan ini, Magister?" tanya Ats begitu naik di mobil. Melihat bagaimana akrabnya Magister Snoug dan Pak Tua Chung seharian ini, ia jadi mengira bahwa gurunya itu punya cerita di sini.
"Aku pernah bekerja di sini saat masih kecil. Itu adalah saat-saat yang penuh suka dan duka," jawab Magister Snoug dengan senyum simpulnya yang biasa. Namun, ada secarik nostalgia di sana. Ia merasa cukup terhibur setelah sekian lama tak berkunjung kemari.
"Kamu akan sering kemari ke depannya," lanjut Magister Snoug kemudian. Mobilnya telah meluncur di langit-langit peternakan. Mereka harus segera sampai di akademi. "Paling sedikit, dua kali dalam sebulan."
__ADS_1
"Eh, bukannya semester satu tinggal sebulan saja?" Ats mengerutkan keningnya.
"Tentu, kamu kan masih bisa melanjutkannya di semester genap," kata Magister Snoug enteng. Ia seolah mengajak Ats untuk bekerja di peternakan itu seterusnya. "Tenang saja. Ini akan jadi pengalaman yang bagus untukmu ke dapannya."
***
"Bukannya sudah kubilang?" Dokter Razana berkacak pinggang di hadapan Ats dengan wajah yang tak senang sekaligus cemas, "Kamu harus hati-hati menggunakan kemampuanmu. Meskipun kamu punya afinitas tinggi, kamu tetap harus tahu batasanmu."
"Aku nggak berlebihan kok," Ats berkata jujur. Entah mengapa, Magister Snoug tiba-tiba mengantarkannya ke Pusat Kesehatan, lalu langsung meninggalkannya begitu saja seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ck! Pasti pria paruh baya itu tak ingin diceramahi panjang lebar oleh Dokter Razana.
Tuk!
"Bocah ini!" Dokter Razana menyentil kening Ats cukup keras. Jelas ia menemukan kejanggalan pada kepala ponakannya itu, tapi Ats tetap saja menyangkal.
"Kamu habis ngapain sih?" tanya Dokter Razana heran.
"Mengembala," jawab Ats singkat.
"Apa?" Dokter Razana merapsa pendengarannya salah.
"Aku habis mengembala di Pusat Peternakan Kota," jawab Ats lebih detail. "Anu ... lebih tepatnya, latihan peningkatan fokus sih."
"Hais ... kamu sudah kusuruh buat istirahat sementara ini," Dokter Razana tak habis pikir. Ia merasa tak mampu mengerti pola pikir almarhum kakaknya dan keponakannya ini. Para praktisi zarahian memang sedikit aneh.
"Kalau aku kelamaan istirahat, malah percuma dong akselerasi—" Ats belum selesai mengatakan kalimatnya, tapi Dokter Razana sudah keburu mencubit pipinya gemas.
"Bwibwi, swakiwt," protes Ats.
"Hah ... kamu memang keras kapala. Persis seperti kakak," keluh Dokter Razana begitu melepas cubitannya. Ada semburat kerinduan di matanya.
__ADS_1
"Eh, tapi kata nenek, aku lebih mirip bunda loh," bantah Ats tanpa peduli dengan keluhan itu sama sekali. Dokter Razana pun membalas, "Kalian bertiga memang keras kepala! Cuman Ayya yang bersikap tenang."
"Em—" Ats ingin bilang bahwa Pak Tua Chung dari Pusat Peternakan Kota pun berkata bahwa ia tenang, tapi urung karena melihat gelagat di tangan bibinya. Jari-jemari Dokter Razana itu mungkin akan mencubitnya lagi kalau ia bercakap lebih banyak.