Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 019: Tekad Sang Ilmuwan


__ADS_3

"Bagaimana pelajaran pertamamu dengan Magister Snoug?" tanya Profesor Han ketika Ats mampir ke kediamannya di siang hari. Seperti janjinya pada Kaisar Altair, ia akan mengawasi bocah itu sebaik mungkin. Apabila ada tanda-tanda yang tidak baik pada Ats, ia akan segera memurnikannya.


"Enak," jawab Ats singkat.


"Ya, kan?" Profesor Han terlihat lega, "Dia memang pengajar yang hebat. Apa saja yang kamu pelajari darinya?"


"Bentuk-bentuk pemerintahan di kekaisaran," Ats kembali menjawab dengan singkat, "Itu keahlian beliau, kan?"


"Yah, memang," Profesor Han pun meminta Ats untuk masuk ke laboratorium komputer. Ada berbagai gawai canggih dan belasan droid yang terletak di sana-sini tak beraturan sama sekali.


"Aku sedang menyiapkan alat simulasi alam untuk para murid di akademi," ucap Profesor Han sembari memamerkan gawai yang sedang diprosesnya, "Perusahaan Salamun turut berkontribusi dalam pembuatannya."


"Simulasi alam?" Ats tak begitu mengerti. Profesor Han pun menunjukkan berbagai foto di layar gawai lebarnya. Ada berbagai panorama di sana. Mulai dari hutan, sabana, padang pasir, sampai pulau terpencil, bahkan area batuan asing yang gelap dan lautan luas yang ganas.


"Ini adalah wilayah-wilayah yang sudah pernah dijelajahi oleh Divisi Observasi," jelas Profesor Han, "Di antara program umum akademi terdapat pelajaran alam. Ini akan menjadi penjelajahan seru saat teknologinya selesai digarap nanti."


"Ah, latihan penelitian alam, ya," Ats mulai paham.


"Tak hanya itu," lanjut Profesor Han, "Simulasi ini juga akan digunakan oleh anak-anak dari kelas-kelas di bawah Departemen Jasus. Mereka akan ditunjukkan bagaimana cara bertahan hidup di luar. Selain itu, mereka juga akan dituntut untuk mempelajari strategi menjalankan misi di alam terbuka."


"Itu hebat," Ats membayangkannya. Sepertinya memang seru. "Lalu, kenapa Anda menunjukkannya pada saya sekarang?"


"Aku mau kamu mencoba perangkatnya bersama Arselan," jawab Profesor Han, "Ke marilah!"


Ats pun mendekat. Ia mendapatkan notifikasi di matanya sesaat kemudian. Pesan itu meminta izinnya untuk menginstal suatu program pada Arselan. Tentu saja, Ats mengizinkannya.


"Ini akan berjalan sedikit lama," kata Profesor Han tampak puas begitu melihat instalasi di gawainya berjalan. "Mari kita menguji Arselan dengan droid lagi."


"Menautkan perangkatnya?" Ats menebak.

__ADS_1


Profesor Han pun mengangguk, lalu menunjukkan sebuah droid mini yang mirip dengan kupu-kupu. Keempat sayapnya berwarna biru laut. Saat diaktifkan, drone itu dapat terbang layaknya kupu-kupu sungguhan.


"Ini mirip dengan salah satu tipe droid yang umum dipakai sebagai mainan oleh anak-anak," jelas Profesor Han bangga, "Bedanya, droid ini dilengkapi dengan kamera pengintai dan alat penyadap. Pada dasarnya, droid-droid ini adalah drone patroli yang sengaja disebar oleh pemerintah untuk mengawasi publik. Tentu bukan untuk hal yang buruk."


"Saya mengerti," Ats mengangguk pelan. Di zaman dulu, pemerintah atau pihak tertentu menggunakan alat yang namanya cctv. Yah, alat seperti itu memang masih digunakan sih, tapi sudah punya fitur yanng lebih canggih.


"Coba tautkan sekarang!" pinta Profesor Han.


Ats pun menatap droid itu. Tak lama kemudian, muncul layar interface di atasnya. Itu layar yang sama dengan yang Ats lihat saat pertama kali ia menggunakan Arselan.


"Perangkat KP_473 teridentifikasi!" kata Arselan, "Pentautan dapat dilakukan."


"Tautkan sekarang!" titah Ats dalam hati.


"Menghubungkan perangkat ...


Sinkronisasi dijalankan ...


Otoritasi selesai."


"Oke, mari kita cek seberapa jauh batas pengendaliannya," ujar Profesor Han kemudian, "Keluarkan droid itu lewat jendela. Oh, ya. Kamu bisa berbagi pandang dengan droid itu. Cobalah untuk melakukannya."


"Hm," Ats mengangguk. Ia sudah mendapat tawaran fitur itu dari Arselan. Ia pun langsung mencobanya.


Droid KP_473 terbang ke luar jendela. Terbangnya sangat mulus layaknya kupu-kupu asli. Jika dilihat dari jauh, pasti orang tak akan mengira bahwa itu adalah sebuah droid.


"Wow, rasanya kayak jadi kupu-kupu beneran," gumam Ats kagum. Ia melihat melalui kamera yang terpasang pada KP_473. Tak hanya itu, ia bahkan bisa mendengar rekaman suara yang tertangkap olehnya.


"Fang, berikan dokumen ini kepada Master Khaled," ucap seorang pemuda berwajah datar. Ia memberikan selembar gawai tipis pada Fang. "Ini daftar anak-anak baru yang lolos di Kelas Zarah."

__ADS_1


"Dikit banget, Pak Pres," Fang tampak melihat-lihat gawai itu dulu sebelum pergi. "Bukannya yang daftar kemarin cukup banyak, ya?"


"Entahlah," pemuda yang dipanggil Pak Pres itu mengangkat bahu. Ia adalah Presiden OSIS masa bakti tahun ini. Namanya Amer. "Ada banyak yang mengundurkan diri sebelum tes kemarin."


"Hah? Mengundurkan diri? Kenapa?" Fang menoleh terheran. Amer pun menjawab asal, "Mungkin karena Master Khaled kasih demonstrasi waktu itu."


"Oh! Gara-gara beliau sama si Ats toh," Fang manggut-manggut.


Ats mendengarkan semua percakapan itu lewat droid kupu-kupunya. Jujur saja, ia cukup kesal karena Fang asal menyalahkannya. Andai saja Droid KP_473 ini punya fitur pelumpuh seperti droid kuno di perpustakaan, ia mungkin akan menembakkannya pada Fang.


"Ini sudah cukup jauh," suara Profesor Han menyadarkan Ats, "Apa ada masalah pada koneksinya dengan Arselan?"


"Tidak, semuanya baik-baik saja, Profesor," jawab Ats. Rekaman pandang di matanya masih berjalan dengan baik. Suara yang terdengar pun sangat jelas meskipun droid itu sudah sangat jauh darinya.


"Hm, coba kamu arahkan droid itu sampai pintu gerbang," pinta Profesor Han yang terus fokus pada gawai di tangannya. Ada berbagai data yang otomatis tercatat di sana.


"Oke," Ats mengangguk semangat. Droid yang dikendalikannya pun terbang stabil sampai ke tempat yang ditentukan. Ia lantas melapor, "Sudah sampai tanpa kendala apa pun, Profesor."


"Hm, ini memang belum sampai ambang batasnya," Profesor Han menatap teliti data-data yang tercatat pada gawainya, "Sayangnya, kita tak bisa membawa droid ini keluar dari tabir pelindung akademi."


"Kita kan bisa lewat jalur angkasa yang biasanya dibuka saat ada mobil yang lewat," Ats menyarankan. Namun, Profesor Han langsung menggeleng dan menolak ide itu. "Jangan. Itu tidak baik. Lagian, kalau tiba-tiba droid itu mati, kita sendiri yang repot. Bawa kembali ia ke mari."


"Hm," Ats menurut. Perjalanan droid kupu-kupu itu cukup lama. Dengan tubuhnya yang kecil, dibutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kembali ke kediaman Profesor Han. Meski begitu, Ats menikmati fitur berbagi pandangnya dengan kupu-kupu itu. Untung saja ini tak memberatkan neuron zarahnya.


"Kita cukupkan uji coba hari ini," ujar Profesor Han ketika Droid KP_473 sampai di kediamannya, "Kita akan mengujinya lagi lain kali. Instalasi program baru juga sudah selesai, tapi kita akan mengujinya besok. Hari sudah sore. Kamu bisa kembali ke asrama sekarang."


"Terima kasih, Profesor," Ats memberi hormat, lalu pamit undur diri. Saat punggung pemuda itu hilang di balik pintu, Profesor Han menghela napas lega. Pria itu pun menatap lagi ke gawainya yang masih menampilkan hasil penelitian hari ini.


"Syukurlah tak ada masalah padanya," gumam Profesor Han senang, "Ini adalah kemajuan terbaik sejauh ini. Semoga saja ia bisa bertahan sampai akhir."

__ADS_1


Profesor Han pun terdiam dan menatap ke langit sore yang indah. Ia tersenyum simpul mengingat seseorang yang sangat dekat dengannya dulu. Orang yang lahir bersamanya dan selalu dekat dengannya. Tak hanya itu, orang itu juga orang yang paling sering mengejek kebujangannya. Ia pun kembali bergumam pelan, "Hanna, aku sudah punya seorang murid yang hebat. Ia pasti akan mewarisi tekadku ke depannya."


__ADS_2