
“Kita nggak boleh sampai kalah di festival kali ini," seru Solar di hadapan kawan-kawan seangkatannya, "Paling tidak, kita jangan sampai jatuh di peringkat terakhir."
"Itu nggak bakal mudah," seorang kawannya merespon, "Kakak-kakak tingkat kita sudah jauh lebih berpengalaman dibandingkan dengan kita. Mereka sulit dikalahkan."
"Aku nggak pernah bilang ini gampang," balas Solar tegas. Tatapannya menyapu seisi ruangan tempat anak-anak tahun pertama berkumpul. Selama menjadi anggota Komite Kedisiplinan, ia telah dikenal oleh semua orang. Wibawanya pun paling besar di antara murid lainnya sehingga ia dipasrahi untuk memimpin rapat angkatan. "Karena itu, kita harus serius berlatih. Jangan sampai kita lupa. Semester lalu, kita nggak bisa berkutik sama sekali. Kita nggak ada kompaknya sama sekali. Makanya itu kita kalah."
"Di sini, kita akan menyusun tim-tim terbaik yang akan kita utus untuk memenangkan setiap perlombaan," lanjut Solar. Ia pun membacakan daftar lomba yang dibagikan oleh OSIS. Pemuda itu memberi kesempatan pada setiap orang untuk mengajukan diri. Jika ada suatu lomba yang kekurangan orang, mereka akan memusyawarahkannya. Setiap nama yang keluar dari musyawarah itu wajib menerima perannya.
Ats tidak memilih satu pun lomba yang ada. Namun, ia ditunjuk untuk mengikuti Lomba Tempur antarangkatan. Itu adalah lomba yang diadakan untuk melatih murid-murid yang berpotensi dalam bidang militer. Biasanya, anggotanya berisikan anak-anak dari kelas-kelas lapangan seperti Kelas Zarah.
"Kabarnya, Lomba Tempur di festival kali ini bakal lebih seru dari biasanya," Arjuna yang juga dimasukkan ke dalam tim lomba itu memberi kabar yang sebenarnya sudah didengar oleh semua orang. Mereka dalam perjalanan pulang sekolah. Solar pun membalasnya dengan datar, "Iya, kita juga tau kok, Pak Pos."
Entah bagaimana, Arjuna mendapatkan julukan itu di tengah pengabdiannya sebagai anggota Komite Informasi. Di komite itu, ia yang paling dekat dengan Master Eden, pembina Komite Informasi. Setiap informasi yang tersebar di akademi pasti akan melewati dirinya dulu untuk difilter.
"Hm, makanya itu, kita harus segera bahas strateginya di setiap peta," desak Arjuna. Dulu, saat ia pertama kali mendengar julukan itu, ia pasti langsung protes. Namun, setelah terbiasa, ia memutuskan untuk menerimanya saja. "Kita bakal bertempur di area digital yang diproyeksikan dari dunia di luar konstelasi. Kita memang sudah sering mempelajarinnya di kelas, tapi fakta lapangan itu biasanya jauh berbeda dari teori yang kita bayangkan."
"Kamu sudah tahu info-info petanya, belum?" tanya Ats selidik. Arjuna pun menggeleng. Untuk informasi yang seputar dengan festival ini, penyebarannya terbatas hanya pada panitia, sedangkan tidak semua anggota OSIS adalah panitia festival itu. Kebanyakan kursi panitia diisi oleh BEA.
"Hais … sayang banget," Ats mengeluhkan, "Biasanya kan kamu yang punya kemampuan buat cari informasi begituan."
__ADS_1
"Yah, mau gimana lagi?" Arjuna menanggapinya enteng. Tak peduli sama sekali.
"Kamu curi informasinya aja dong," Solar mengusulkan, "Kamu kan dah diajari yang begituan sama Master Eden."
"Em …," Arjuna tampak berpikir bahwa itu benar, "Iya juga sih."
"Sembarangan!" balas Ats dan Putu serempak. Sebenarnya, Ats sendiri sudah mencoba semua peta yang ada. Lagi pula, dia juga ikut mengembangkan teknologi digital itu. Penelitiannya berjalan mulus walaupun mengalami beberapa kegagalan kecil. Di ruang proyeksi itu, para praktisi zarah sudah dipastikan aman menggunakan tekniknya.
"Dasar!" tambah Putu, "Kalian kok jadi begini sih habis gabung ke OSIS?"
"Ih, bercanda kali," Arjuna beralasan seperti biasanya, "Kamunya aja yang apa-apa diseriusin."
"Sst! Diam!" bisik Arjuna dengan wajah serius, "Itu rahasia, tahu!"
"Tuh, kan?" Putu kembali mencecar Arjuna, "Kamu emang ngelakuin itu."
"Haha," Arjuna pun tertawa hambar, tak mau membalas lagi. Di persimpangan jalan, mereka berpisah. Arjuna dan Solar melangkah ke asrama anak-anak OSIS, sedangkan Ats dan Putu balik langsung ke asramanya sendiri.
"Buat apa kamu tanya kayak gitu tadi?" tanya Putu setelah mereka berpisah, "Kamu kan sudah tahu semuanya."
__ADS_1
Meskipun Putu tidak ikut mengembangkan teknologi virtual itu, perusahaan keluarganya ikut terlibat di dalam proyek. Ia bisa mendapat satu dua informasi dari sana, termasuk keterlibatan Ats dalam pengembangannya. Sejak itu, keduanya jadi sering mendiskusikan teknologi itu.
"Nggak ada alasan tertentu sih," Ats menggeleng pelan, "Aku cuman iseng tanya aja."
"Oh," Putu manggut-manggut percaya, "Kalian sudah nentuin peran masing-masing, kan? Kamu ambil peran apa?"
"Em …," Ats menimbang-nimbang dulu. Formasi tim itu bukan suatu yang bisa dibeberkan sembarangan begitu saja, bahkan pada teman seangkatan. Bisa jadi, ada upaya spionase yang dilakukan oleh kakak-kakak tingkat mereka. Itulah yang terjadi pada mereka semester lalu. Mereka kalah di babak pertama dengan mudahnya karena salah seorang anggota tim membeberkan formasi pada kakak tingkat yang iseng bertanya.
"Aku relatif sih," Ats tak mau memberi jawaban yang lugas, "Lihat situasi sama kondisinya aja dulu entar."
"Arselan," panggil Ats dalam hatinya, "Siapkan ruang virtual."
"Baik, Tuan," jawab Arselan tanggap.
Ats sudah jelas punya peran tertentu dalam timnya di Lomba Tempur nanti. Ia ditugaskan untuk melindungi bendera wilayah dari sergapan musuh. Selain itu, ia juga berperan sebagai pemberi arahan yang mengatur dari dalam ruang basis tempur. Saat lomba nanti, keputusannya adalah yang paling mempengaruhi kinerja kawan-kawannya.
Waktu pergantian dari siang ke sore masih cukup lama. Ats memiliki banyak waktu sampai kegiatan di sore hari nanti. Ia pun memutuskan untuk mereviu kembali peta-peta latihan virtualnya.
"Arselan," panggil Ats ketika ia sudah terbaring sendirian di ranjangnya, "Aktifkan dunia virtual!"
__ADS_1
"Mengaktifkan dunia virtual," ucap Arselan memproses perintahnya, "Dunia virtual dibuka. Memasuki dunia …."