Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 079: Kehebatan Solar


__ADS_3

“Wow, wow, wow!” ucap Ari dengan hebohnya, “Jemy, kamu lihat itu? Itu adalah serangan yang sangat menakjubkan dari Regu Yildirim.”


“Kamu benar, Ari,” Jemy mengangguk setuju, “Regu Yildirim mampu menghabisi Regu Asman yang ganas dengan serangan yang cepat. Mereka benar-benar cocok dengan namanya. Mereka adalah kilat yang menyambar musuh tanpa ragu.”


“Kamu lihat aksi pemimpin anak-anak tahun pertama tadi, kan?” Ari kembali bertanya semangat seolah-olah yang melakukan aksi tadi adalah dirinya sendiri, “Kudengar, dia adalah murid langsung dari Master Khaled. Dengan melihat aksinya tadi, kita bisa langsung tahu bahwa ia sudah sampai di tahap Zarahian Ahli.”


“Tentu, itu sangat menakjubkan untuk anak tahun pertama,” Jemy lagi-lagi mengangguk setuju, “Dari angkatan kita sekalipun, tidak banyak yang sudah mencapai tingkat itu, bukan? Dia sungguh bakat muda yang sangat hebat.”


Para penonton, guru-guru, dan pengamat dari luar pun juga membicarakan aksi Solar selama pertandingan tadi. Pemuda yang baru masuk ke ranah zarahian tahap ahli itu telah menunjukkan manuver yang menakjubkan dari seorang praktisi zarah. Dia mampu menyusup ke setiap pos meriam musuh dengan teknik zarahnya, lalu mengeliminasi penjaga di sana. Alhasil, Regu Yildirim dapat menguasai wilayah dari Regu Asman dengan cepat.


Pergerakan Solar sangat tajam. Ia bahkan bergerak lebih cepat dari kendaraan tempurnya. Tubuhnya lebur-timbul di udara, menunjukkan betapa hebatnya ia mengendalikan teknik zarah. Teknik bertarungnya pun tak kalah hebat. Ia selalu menghabisi lawannya dengan sekali serang. Seorang perwira militer yang ikut menonton festival itu jadi tertarik padanya.


“Apa Guru tidak berniat untuk merekrutnya juga?” tanya Arjuna yang kini telah duduk di aula bersama Master Eden. Ia langsung ditegur oleh pria itu begitu keluar dari ruang kapsul. Bocah dari Kelas Menembak itu tereliminasi terlalu cepat sampai tak dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya.


“Aku sudah mencobanya,” jawab Master Eden tanpa menoleh. Pandangannya memperhatikan profil Solar yang selama ini dilatih oleh Master Khaled. Ia cukup terkesan dengan perkembangan pesat pemuda itu. “Sama seperti Ats, ia menolak undanganku.”


“Apa Guru tidak berusaha untuk membujuknya lagi?” Arjuna merasa bahwa Solar akan menjadi partikel yang sangat baik bagi timnya. Karena itu, ia ingin sebisa mungkin mengajak kawannya itu bergabung dengannya.

__ADS_1


“Tidak perlu,” Master Eden menggeleng pelan, “Lagi pula, kami sudah menyiapkan skenario untuk anak-anak berbakat seperti kalian.”


“Akademi Neo-Altair?” tebak Arjuna. Tidak ada murid yang tidak tahu dengan Akademi Neo-Altair. Itu adalah akademi impian bagi anak-anak ambisius seperti ia dan Solar. Hanya anak-anak terbaik dari Akademi Altair yang akan diterima di tempat itu.


"Tepat," Master Eden mengangguk pelan, "Kamu akan butuh setidaknya rekomendasi dari tiga guru senior dari Akademi Altair untuk ke sana. Namun, khusus untuk orang berbakat seperti kalian akan langsung ditransfer ke sana begitu selesai tahun ketiga. Yah, tergantung rekam jejak kalian juga sih. Selama kalian tidak membuat masalah, kalian pasti akan ditarik ke sana."


"Bagaimana kalau ada yang menolak?" Arjuna iseng bertanya.


"Aku ragu ada yang mau menolaknya," Master Eden menoleh kali ini, "Akademi Neo-Altair adalah sekolah yang lebih baik dari Akademi Altair biasa. Sepanjang sejarah akademi, tidak banyak murid yang menolak sekolah di sana."


"Jadi, tidak akan ada paksaan untuk menolaknya?" Arjuna memastikan kesimpulannya.


"Oke, baiklah," Arjuna mengangguk patuh. Lagi pula, ia tak berniat melepaskan kesempatan besar seperti itu. Ia harus memastikan bahwa dirinya tetap terjamin untuk bisa masuk ke Akademi Neo-Altair tanpa syarat.


***


"Itu tadi hebat, Kawan," puji Ali di tengah kawan-kawan seregunya, "Kita memenangkan babak semifinal Arena kurang dari satu jam."

__ADS_1


"Aku sungguh tak menyangka bahwa kita bisa melakukan ini," Ain turut bangga, "Hais … harusnya aku tidak mati terlalu cepat."


"Tidak masalah, Ain," Siver menepuk pemuda dari Tim Mata 1 itu, "Pengorbanan kalian berdua merupakan faktor besar kemenangan kita."


"Yah, berkatmu, kita bisa langsung mengetahui letak basis komando musuh," Ats menimpali, "Jadi, kita bisa melakukan pengarahan dengan lebih baik."


"Oh, pantas saja kamu menyuruhku untuk menghancurkan pos-pos meriam di wilayah itu," Siver manggut-manggut kecil, baru mengerti maksud perintah Ats selama pertandingan tadi. "Kita bisa mengeliminasi musuh dengan mudah karena jumlah mereka sudah berkurang banyak sejak awal."


"Benar," Solar setuju, "Serangan pertamamu tepat mengenai para praktisi ahli mereka. Jadi, aku bisa melawan sisanya tanpa kesulitan."


"Yah, itu membantu," Bayu menambahkan, "Perebutan pos-pos itu jadi sangat mudah karena mereka semua sudah kosong begitu kami sampai di sana. Sungguh hebat, seperti yang diharapkan dari murid Master Khaled."


"Tidak, Ats lebih hebat lagi," Solar merasa tidak berkontribusi lebih besar dari Ats, "Dia telah memandu kita dengan baik. Inilah kualitas seorang murid dari para guru besar akademi."


"Hm, apa ini?" pertanyaan Ali menarik perhatian semua orang, "Ada tamu kejutan di Arena nanti. Kita akan bertanding bersama dengan mereka."


"Apa maksudmu?" Ats pun refleks mengecek ponselnya juga. Ada selaman berita baru di sana. Berita itu baru saja dikirim semenit yang lalu.

__ADS_1


"Hm, apa maksudnya penggabungan regu?" Bayu juga memeriksa pesan itu, "Apa-apaan ini? Kita akan bertanding dengan murid-murid Neo-Altair. Apa kita akan punya kesempatan menang?"


__ADS_2