Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 016: Rekomendasi Kelas


__ADS_3

"Tunggu kabar dariku besok," ucap Master Khaled begitu selesai mengetes kemampuan Ats. Guru dari Dewan Pengasuhan itu sungguh sadis. Ia memaksa Ats untuk mengeluarkan semua potensinya. Hari ini, Ats mangalami hari yang sangat berat sejak ia tinggal di akademi.


"Terima kasih atas bimbingan Anda, Master," Ats memberi salam formalnya. Dahinya basah oleh peluh keringat. Napasnya masih sedikit ngos-ngosan, tapi ia sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Master Khaled pun dibuat senang olehnya. "Bagus, aku tidak suka orang yang banyak mengeluh. Tingkatkan lagi kemampuanmu. Ini semua masih dasar dari segalanya."


"...."


Ats tak mengucap sepatah kata pun lagi. Ia hanya dapat tertunduk hormat sembari berharap agar Master Khaled lekas pergi. Nalurinya mengatakan bahwa hari ini akan menjadi semakin berat jika ia terus berada di samping sang master.


Bagaimana tidak? Siang ini, ia disuruh berlari mengitari lapangan stadion entah berapa lama, tapi pastinya sangat lama. Masih mending kalau lari joging dengan santai. Ats sudah terbiasa dengan itu. Masalahnya, ia harus lari sprint tanpa henti. Tidak selesai sampai di situ, ia juga harus melaksanakan tes fisik lainnya. Itu membuat Ats merasa akan masuk ke rumah sakit lagi jika terus dilanjutkan.


"Peringatan!" Arselan memberi sinyal pertanda buruk, "Tubuh Anda mengalami kelelahan berat. Harap segera beristirahat. Semoga Anda baik-baik saja, Tuan."


"Aku tahu," jawab Ats dalam hati, "Tapi, master kejam itu masih di sini."


"Mencari solusi ...," Arselan hendak memproses ribuan data, tapi Ats langsung menghentikannya, "Tidak perlu. Beliau akan segera pergi sebentar lagi."


"Yah, cepat mandi dan beristirahatlah," Master Khaled menepuk pundak Ats, "Kalau kamu seperti yang kupikirkan, pasti kamu bisa pulih dengan cepat melihat kemampuanmu hampir setara dengan Arka."


Ats hanya mengangguk pelan. Seperti kata Master Khaled, ia pun segera beristirahat. Dilihatnya anak-anak akademi yang juga mulai berbersih diri, bahkan ada yang sudah berpakaian rapi untuk menghadiri acara petang ini. Mereka sangat beruntung karena bisa sekolah dengan tenang dan damai.


"Oi, masih capek," seorang pemuda menghampiri Ats, "Kayaknya berat, ya, jadi muridnya 'beliau'?"


"Tuh, tahu," Ats pun menghela napasnya, "Lar, kamu mau ikut, nggak?"


"Eh? Emangnya bisa?" Solar tertarik. Ia pun duduk tepat di samping Ats. Tuan Muda Efendi itu sudah bersumpah bahwa ia tak akan kalah dari dari saingannya ini. Jika usahanya biasa-biasa saja, ia tak akan bisa menyusul rivalnya.

__ADS_1


"Mungkin," Ats merasa lega karena Solar tampak tertarik. Ia tidak ingin menderita sendiri. Sepertinya, ia bisa memanfaatkan bocah ambisius ini untuk menemaninya. "Aku coba lobi Master Khaled nanti, tapi—"


"Serius?" potong Solar antusias.


Itu di luar dugaan Ats. Biasanya, bocah dari Keluarga Efendi itu cenderung bersikap dingin padanya. Yah, mungkin persaingan antar pewaris sudah sangat mempengaruhinya sehingga ia senang mendapatkan pelajaran yang dapat menjadi akselerasi kemampuan baginya.


"Aku coba dulu," Ats tak berjanji, "Semoga saja beliau mau nerima rekomendasi dariku."


"Kamu harus bisa membujuk beliau," ucap Solar seolah memaksa, "Para senior itu nggak bakal bikin aku cepat berkembang."


"Yah, siapa yang tahu?" Ats mengangkat bahunya. Ia pun pamit untuk berbersih diri dahulu. Keringatnya sudah benar-benar mengering sekarang. Master Khaled memang tak salah. Pemuda itu punya pemulihan yang cepat sebagai praktisi zarahian tingkat ahli.


***


"Dia melakukan itu padamu?" tanya Profesor Han sembari menahan tawa kecil yang hendak keluar begitu saja. Tidak pantas ia menertawakan penderitaan orang lain.


"Oh, iya, Profesor. Aku ingin merekomendasikan seorang temanku," Ats pun mengingat Solar. Ia adalah pemuda yang selalu menepati janji. Eh? Dia tidak berjanji sih, tapi dia mengusahakan dengan sungguh-sungguh ucapan yang dilontarkannya.


"Hm, apa kamu menceritakan tentang Arselan pada kawanmu?" Prosefor Han mengerutkan kening. Ia salah menangkap maksud Ats. Pemuda itu pun segera meluruskannya.


"Bukan begitu," Ats menggeleng, "Ini tentang Kelas Zarah di bawah pengawasan Master Khaled langsung."


"Eh? Ada kawanmu yang mau belajar dari bocah resek itu?" tanya Profesor Han spontan tanpa memperhatikan kata-katanya. Ia tak berusaha berusaha memperbaikinya lagi. Padahal ada seorang murid di depannya.


"Bocah resek?" Ats sedikit bingung awalnya, tapi ia bisa langsung mengerti siapa yang dimaksud sang profesor kemudian. Ia pun mengangguk. "Ya, ada kawanku yang mau belajar langsung pada Master Khaled?"

__ADS_1


"Hm, apa kawanmu itu tidak melihat bagaimana Master Khaled menyiksamu?" Profesor Han menaruh setoples camilan di meja. Karena belum punya istri di usianya yang hampir kepala empat itu, ia sendiri yang harus menyiapkan jamuan pada tamu.


"Dia melihatnya, bahkan semuanya," Ats sebenarnya juga heran dengan Solar, tapi ia tetap senang karena akan mendapat kawan seperjuangan dan sependeritaan. "Namanya Solar Efendi. Salah satu pewaris suksesi di Keluarga Efendi. Dia bilang, dia ingin mengembangkan diri secepatnya."


"Perebutan suksesikah?" Profesor Han jadi berwajah ragu, "Aku tidak suka mereka yang seperti itu. Coba saja kamu langsung merekomendasikannya pada Master Khaled. Mungkin ia tak akan keberatan."


"Begitu, ya?" pemahaman Ats terhadap Profesor Han bertambah setingkat. Ia paham mengapa sang profesor tak suka yang namanya suksesi. Bisa dibilang, ia sendiri pun tak beda jauh dengan gurunya.


Mereka berdua sama-sama memilih ranah ilmu pengetahuan demi menghindari yang namanya konflik dengan saudara. Sebenarnya, jika Ats mau, ia bisa menduduki posisi tuan muda utama di Keluarga Asir. Namun, ia tak ingin mendapatkan itu dan lebih memilih dunia ilmu pengetahuan yang damai—menurutnya sih.


"Kalau begitu, saya akan coba bicara dengan Master Khaled nanti," ujar Ats tak menyerah untuk mengajak kawannya jatuh pada penderitaan yang sama. Profesor Han pun tersenyum kecut. Entah mengapa, ia seakan tahu maksud Ats yang sebenarnya.


"Oh, ya," Profesor Han pun duduk di hadapan Ats setelah selesai menyeduh teh, "Apa Magister Snoug sudah menghubungimu?"


"Magister Snoug?" Ats mengerutkan sebelah kening, "Guru besar ilmu politik dan pemerintahan?"


"Yah, dia," Profesor Han mengangguk, "Aku memintanya untuk mengajarimu dasar-dasar kepemimpinan. Dia adalah ahlinya di bidang itu. Harapannya, ini juga membantumu dalam mengendalikan sistem di masa depan."


"Apa Ilmu Politik dan Pemerintahan itu akan membantu saya mengendalikan sistem di masa depan?" Ats jelas terlihat ragu. Dalam hati kecilnya, ia kembali merasa diseret secara halus untuk mencampuri urusan politik kekaisaran. Namun, ia berusaha menampik pikiran itu.


"Ya, tentu saja," Profesor Han kembali mengangguk, lalu menjelaskan, "Kalau kamu belajar Ilmu Politik dan Pemerintahan dengan baik, itu akan membuatmu menjadi lebih peka dan profesional dalam mengambil keputusan. Namun, kamu harus ingat! Aku memintamu untuk belajar Ilmu Kepemimpinan. Kalau kamu mengangbil kedua cabang ilmu lainnya, maka itu lebih baik untukmu."


"Kenapa saya harus mempelajarinya?" tanya Ats, berusaha untuk lebih meyakinkan diri, "Ilmu Kepemimpinan itu. Buat apa saya yang ingin menjadi ilmuan ini hrus mempelajari ilmu yang seharusnya dimiliki oleh para politisi itu?"


"Untuk banyak hal," jawab Profesor Han santai, "Pada dasarnya, pemilik sistem ditakdirkan untuk menjadi pemimpin bagi sistem yang dimilikinya. Itu adalah hukum asal bagi setiap orang. Setiap kita adalah pemimpin, setidaknya untuk keluarga kita kelak. Juga—"

__ADS_1


Profesor Han terdiam sejenak, lalu tersenyum simpul, "Agar kamu tak bernasib sama sepertiku. Jangan membujang terlalu lama. Binalah rumah tanggamu dan pimpin mereka menuju keridaan Ilahi."


__ADS_2