Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 068: Nama yang Hilang


__ADS_3

"Hari ini pengumumannya, kan?" tanya Putu asal mencomot topik obrolan. Kawan-kawannya pun mengangguk. Setelah lima hari menunggu, akhirnya pengumuman hasil seleksi OSIS akan dipublikasikan. Mereka yang terpilih sebagai anggota OSIS harus segera bersiap untuk urusan-urusan organisasi dan perpindahan asrama.


"Iya, nggak sabar nih," balas Solar antusias.


"Nggak usah terlalu berharap,"Arjuna dengan teganya memotong antusiasme itu, "Lagian, yang diprioritaskan kan anak tahun kedua. Kecil kemungkinan kita buat kepilih."


"Ye, itu kan kamu," Solar membalasnya dengan ketus, "Aku mah yakin bakal keterima."


"Hm, kamu kan sudah pegang tiket istimewa," Ats menimpali, "Anak ambis emang beda sih."


Meja makan ramai oleh obrolan itu. Siangnya, Mading digital menyala dengan sebuah tajuk besar, "Selamat Bagi Para Anggota OSIS yang Baru."


"Komite Kedisiplinan, Komite Kedisiplinan," mata Solar memindai Mading itu. Ia mencari komite yang dipilihnya dengan teliti. Saat namanya terlihat di sana, ia berseru dalam hati sembari menunjuk ekspresi sekadarnya. Ia harus pandai-pandai menjaga ekspresi.


"Hah ...," Putu menghela napas, "Seleksinya emang ketat sih. Aku masih harus banyak belajar ke depannya."


"Nggak keterima, ya?" tanya Solar penasaran. Putu pun mengangguk pelan. Ia tak menemukan namanya di daftar anggota OSIS yang baru.


"Lah, kok ada!?" seruan Arjuna menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Pemuda itu memicingkan matanya, memastikan bahwa nama yang dilihatnya itu benar-benar namanya.


"Berarti kamu harus mengabdi dong," Ats menepuk pundak sahabatnya itu, "Selamat, kamu bakal gabung sama OSIS."


"Kamu sendiri juga masuk, kan?" Arjuna menatap Ats dengan tanda tanya di atas kepalanya.


"Aku—" Ats tersenyum tipis. Ia pun menoleh ke Mading dan memeriksa daftar nama di Komite Digital. Ada deretan nama yang bercahaya di sana. "Masih belum masuk."

__ADS_1


"Heh!? Masa?" Solar menyikut Arjuna dan mengecek daftar nama yang Ats lihat. Dia benar-benar tak menemukan nama rivalnya itu di sana. "Ini belum semua, kan?"


"Sudah, Lar. Kamu dah menang," Ats menepuk-nepuk pundak Solar akrab, "Solar emang suhu sih."


"Kamu nyindir, ya?" tanya Solar datar. Nada bicara Ats memang terdengar biasa, tapi menusuk ke relung hati. Itu memang gaya bicara yang khas dari keluarganya.


"Nggak, mana ada nyindir?" Ats menggeleng pelan, "Aku muji nih."


"Apaan muji?" Solar tak menerimanya, "Mujimu itu dah otomatis jadi olokan, tahu?"


"Terserah kamu dah," balas Ats pasrah. Tak ada gunanya berdebat. Ia pun segera pergi dari mading digital itu setelah memeriksa sekali lagi daftar nama di Komite Digital.


"Oiya, sore ini sudah waktunya belajar teknik itu," gumam Ats di perjalanan menuju asrama. Ia sempat bingung untuk mengatur waktu sebelumnya. Andai ia lolos seleksi OSIS, waktunya pasti akan jadi sangat terbatas.


***


"Loh!? Kok dia nggak ada?" tanya Fang keheranan.


"Siapa?" Amir menoleh karena suara Fang sangat keras. Fang pun menunjukkan daftar nama anggota OSIS yang baru, lalu berceloteh, "Bocah Asir itu. Aku kan dah masukin namanya semalam. Kok nggak ada?"


"Kamu nggak bisa gitu, Fang," Finn menegur. Ia yang menghapus nama Ats dari Komite Kesekretariatan. "Dia tuh daftar Komite Digital. Nilainya pun kurang sedikit dari orang yang kepilih. Makanya belum bisa masuk dia."


"Heh! Dia tuh cocok jadi asisten, tahu?" protes Fang tak terima, "Aku yang jamin kemampuannya."


"Kemampuannya emang bagus kok," Amir menunjukkan rapor penilaian Ats dari Komite Digital. Bocah Asir itu memiliki nilai paling tinggi pada tabel keahlian di sana. "Dia cuman kurang di keteguhan sama keseriusannya aja. Bisa dibilang, dia lebih fokus sama urusan pribadinya daripada organisasi."

__ADS_1


"Makanya," Fang mengepalkan tangannya, "Dia kutarik ke Komite Kesekretariatan daripada Komite Digital."


"Itu tambah masalah," Finn menanggapi, "Komite Kesekretariatan malah lebih padat daripada Komite Digital."


"Juga," Amir menambahkan, "Kalau dia dekat-dekat sama kamu, nanti dia ikut-ikutan jadi bocah urakan lagi. Kamu pernah ngajak dia kena masalah, kan? Aku nggak mau ketambahan pembuat masalah di organisasi."


"Heh, nggak sampai segitunya kali!" protes Fang. Ia sadar bahwa selama ini, ia memang terlalu menganggap remeh segala urusannya. Namun, ia tak merasa merepotkan orang lain. Yah, dia tak sadar sama sekali bahwa Amir dan anggota BPH yang lain telah dibuatnya kerepotan.


Fang pun menyelesaikan urusannya secepat mungkin. Ia keluar dari kantor OSIS segera dan berjalan ke tempat favoritnya. Itu adalah tempat yang sepi dan jarang dikunjungi oleh orang-orang.


"Waktu itu," gumam Fang sembari menatap lereng curam di hadapannya, "Aku hampir membawanya ke mari. Apa yang membuatnya batal, ya?"


Fang pun melompat ke dalam lereng. Tubuhnya melebur di udara, lalu kembali muncul di dasar jurang. Saat sampai di sana, ia langsung mengetuk sebuah pohon beberapa kali.


Sebuah lubang kecil muncul seketika. Lubang itu tersamar dengan dahan pohon sehingga sukar ditemukan. Ia memancarkan gelombang cahaya singkat sehingga wajah Fang terpindai olehnya.


Tubuh Fang kembali melebur di udara saat ia menyentuh dahan pohon di hadapannya. Partikel-partikel zarahnya mengambang lembut dan mengalir ke lubang-lubang kecil yang terbuka di sana. Ia pun sampai di sebuah ruangan sempit yang gelap.


Sssh ...


Suara desisan terdengar saat pintu terbuka. Fang merasakan sebuah gelitikan kecil saat melewati pintu itu. Tubuhnya kembali dipindai saat memasukinya.


"Sayang sekali," ucap Fang begitu sampai di sebuah ruangan bergawai lebar. Ada meja virtual yang menyala di bawahnya. Jari telunjuk Fang menekan tombol yang timbul di sana. "Aku belum bisa mengukur kemampuannya dari dekat. Dia bahkan tidak masuk kualifikasi OSIS. Untuk mengawasinya sehari-hari pun juga susah. Dia adalah bocah yang gila kerja ...."


"Pesan terkirim," notifikasi muncul begitu Fang menyelesaikan laporannya. Ia menghela napas pelan kemudian pergi meninggalkan gawai itu. Tubuhnya lenyap di ujung lorong yang gelap. Jujur saja, ia sebenarnya tak pernah mau lagi berurusan dengan gawai itu.

__ADS_1


__ADS_2