
Beberapa saat setelah Magister Snoug keluar, pintu Kediaman Profesor Han kembali diketuk. Profesor Han pun mengizinkannya masuk setelah mendengar suara tamu yang mengunjunginya itu.
"Selamat siang, Pangeran," sapa Profesor Han ramah. Ia senang dengan kunjungan pemuda yang akrab dengannya itu. Sebelum ia menjadi profesor dulu, anak itu sudah rajin mengusik eksperimennya. Yah, itu bukan masalah sih. Lagi pula, bocah yang suka mengganggunya penelitiannya itu sudah dewasa sekarang.
"Paman kan juga pangeran dari kekaisaran. Kenapa harus menyapa hormat generasi muda kayak gitu? Apalagi ini di ruang pribadi. Aku lebih suka kalau paman pakai bahasa biasanya," gerutunya pemuda itu protes. Matanya merah berkilau seelok permata Ruby. Rambutnya hitam legam dengan ujung-ujungnya yang kemerahan selaras dengan matanya. Jika mentari menerpanya, rambut itu akan terlihat semakin kemerahan. Itu adalah ciri khas keturunan murni keluarga kekaisaran yang saat ini memimpin seluruh Klan Zarah.
"Yah, paman nggak masalah sama etiket begitu kok, Is" Profesor Han tetap menunjukkan senyum ramahnya, "Aku kan cuma mau hidup tenang."
"Kalau Paman mau hidup tenang, Paman cepat-cepat menikah sana," pangeran bernama Iskandar itu mengingatkan, "Jangan sampai Paman jadi bujang seumur hidup. Aku aja bakal ditunangkan begitu lulus dari akademi ini."
"Pfht! Emang, ya. Begitu nasib jadi keturunan langsung. Kamu santai aja, aku nggak ada niat buat membujang seumur hidup kok," Profesor Han berjanji, "Mungkin sebentar lagi sih. Kakak juga sudah mendesakku terkait hal itu."
"Iya dong. Paman kan sudah hampir kepala empat," Iskandar yang kini telah duduk di hadapan pamannya mengeluarkan sebuah benda kecil. Benda itu ditaruh di meja. Sejenak kemudian, sebuah hologram berbentuk bola muncul darinya.
Profesor Han pun tersenyum senang. Itu adalah benda yang beberapa hari ini ia inginkan. Ia pun menyentuh permukaannya. Sensor yang mendeteksi sentuhan pada hologram langsung mengaktifkan protokol keamanan.
Benda itu pun memancarkan cahaya sejenak, lalu bersinar hijau terang setelah mengonfirmasi bahwa orang-orang di sekitarnya adalah orang yang mendapat hak untuk mengakses informasi yang disimpannya.
"Bagus," Profesor Han bertepuk tangan sekali. Hologram di depannya pun langsung menghilang. "Dengan ini, legalitas pelaksanaan uji coba telah diverifikasi. Aku akan lebih leluasa untuk mengembangkan sistemnya. Sampaikan terima kasihku pada baginda."
"Tentu, aku akan menyampaikannya nanti," ujar Iskandar kemudian, menyampaikan, "Ayahanda menyuruhku untuk mengingatkan Paman. Driver itu adalah anak Keluarga Asir. Dia Putra Laksamana Agung Armada Ketiga. Jangan sampai ia celaka karena sistem yang berbahaya itu."
"Aku tahu," Profesor Han mengangguk, "Aku tidak akan lupa dengan hal itu."
__ADS_1
Yah, Profesor Han sudah bertekad seperti itu. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana ke depanya. Bahkan, saat kedua orang itu masih berdiskusi, sebuah pesan darurat muncul di gawai sang profesor.
***
Ats bergi ke lantai teratas gedung sekolah yang terbuka. Ia mendapati sebuah spot lapang yang sepi di sana. Pada waktu-waktu istirahat seperti ini, kebanyakan murid sedang bersantai di asrama atau bermain di fasilitas olahraga yang disediakan oleh akademi. Ats pun dapat dengan leluasa menguji kemampuan Arselan di sini.
"Arselan, aktifkan pemetaan tiga dimensi," gumam Ats pelan. Matanya memperhatikan bangunan-bangunan di sekitar sekolah. Dari tempat ini, ia bisa melihat ke hampir seluruh wilayah akademi. Ada kompleks asrama, penelitian bintang, fasilitas olahraga, dan berbagai kompleks lainnya.
"Peta tiga dimensi diaktifkan."
Suara Arselan terdengar di kepala Ats. Sistem itu pun mengonfigurasikan wilayah sekitar dalam radius maksimum yang telah Ats tentukan. Kurang dari sedetik kemudian, Ats mulai melihat sebuah peta timbul di hadapannya. Peta itu menunjukkan setiap sudut akademi dengan detail dan terperinci. Lengkap dengan nama setiap kompleks dan penjelasannya. Data itu diambil dari pusat imformasi yang kekaisaran simpan. Makin lama, konfigurasi peta makin luas. Ats bahkan dapat melihat wilayah yang ada di luar akademi.
"Ini benar-benar persis," gumam Ats kagum. Ia mencocokkan pandangan matanya langsung dengan pembentukan peta itu. Tak ada perbedaan satu pun. Sangat mirip dengan versi aslinya yang diperkecil beberapa kali.
"Yah, aku tinggal menanyakannya pada profesor nanti," Ats pun turun dari lantai teratas gedung sekolah setelah puas melihat-lihat hasil konfigurasi area dalam peta. Entah mengapa, ia merasa sedikit pusing ketika menginjak tangga pertama. Meski begitu, ia masih bisa berjalan dengan baik. Karena itu, ia memilih untuk mengabaikannya saja.
Beberapa saat kemudian, tubuh Ats terasa berat seolah-olah gaya gravitasi di sekitarnya jadi lebih kuat. Jalannya pun jadi tertatih-tatih selama menuruni tangga. Tangan kanannya terpaksa memegang pengaman di tangga agar tidak terjatuh.
"Pusing," gumam Ats lirih.
"Peringatan! Peringatan!"
Tulisan itu tiba-tiba menyala merah di mata Ats. Sayangnya, kondisinya saat ini sudah sangat melemah tanpa sebab yang jelas. Ia pun tak bisa memikirkannya dengan jernih. Baginya, tulisan itu malah semakin mengganggu.
__ADS_1
"Kondisi driver memburuk. Segera aktifkan protokol keamanan darurat!"
Suara Arselan mendengung di telinga Ats. Suara itu malah membuatnya merasa lebih sakit. Ia ingin mematikannya saja, tapi tidak bisa menjalankan perintah dengan baik karena berada dalam kondisi yang hampir tidak memungkinkan.
"Uh ...! Tolong ... hen–tikan i–tu!" gumam Ats berat. Ia sudah hampir tak kuat lagi, padahal ia baru turun satu lantai dari atap. Arselan pun segera meresponnya perintahnya.
"Menonaktifkan sistem untuk sementara. Semoga hari Anda baik, Tuan Ats. Salam teraras Anda."
Arselan tidak serta merta berubah kembali menjadi lencana. Ia tetap berbentuk gelang di tangan Ats. Hanya saja, fungsinya sangat terbatas agar tidak membebani Ats lebih berat lagi.
Meski Arselan sudah dimatikan, rasa sakit di kepaala Ats masih tetap terasa. Pemuda itu pun ambruk bersandar ke tembok. Ia meremas kepalanya dengan kuat.
"Ats? Kamu ...," suara Arjuna terdengar samar di telinga Ats. Entah apa yang Arjuna katakan selepas itu, Ats sama sekali tidak tahu. Pandangannya tiba-tiba memburam ketika melihat raut panik di wajah Arjuna. Sekejap kemudian, semuanya gelap.
***
"Paman yakin ini masih bisa dilanjutkan?" suara yang asing mengusik telinga Ats saat kesadarannya mulai kembali. Ia pun berusaha membuka mata, tapi rasanya berat tak terkira.
"Aku yakin masih bisa," kali ini suara Profesor Han yang terdengar, "Itu tergantung dengan keputusannya."
"Sudah jelas sistem itu sangat berbahaya!" suara asing kembali terdengar berseru, "Jangan sampai proyek ini menelan korban yang tak perlu. Itu jauh dari prinsip para ilmuan Kekaisaran Altair."
"Aku tahu ...," suara Profesor Han tak terdengar sampai selesai. Kesadaran Ats tak cukup kuat untuk menahan beban yang menimpanya entah dari mana. Pemuda itu pun hanya dapat pasrah dan kembali larut dalam alam bawah sadarnya.
__ADS_1