Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 013: Ekspresif


__ADS_3

"Arselan," panggil Ats malam itu. Ia berdiri sendirian di atap gedung asrama yang datar. Matanya memandang jauh ke luar, menikmati indahnya panorama kota yang terang-benderang.


"Sistem diaktifkan!" suara Arselan yang khas kembali terdengar di dalam benak Ats, "Selamat malam, Tuan."


Ting!


Sebuah emotikon senyum tiba-tiba muncul di hadapan Ats sampai mengagetkannya. Jika diperhatikan dengan baik, emotikon itu muncul di atas cakram yang merupakan wadah dari Arselan. Ats pun tertawa kecil melihatnya.


"Wah, Profesor Han sungguh kreatif, tapi—," Ats berpikir sejenak, "Wajah ini terlalu biasa dan sederhana. Arselan, bisakah kamu mengubah mode wajahmu?"


"Tentu, Tuan," Arselan menyanggupi dengan emotikonnya yang mengangguk-angguk, lalu berubah jadi wajah bertanda tanya di dahi. "Apa yang Tuan inginkan?"


"Coba perlihatkan emotikonmu yang lain," kata Ats dengan seulas senyum halus di wajahnya. Ia merasa senang. Rasanya seperti anak kecil ketika mendapat mainan baru di hari spesial.


Arselan menunjukkan berbagai wajah yang terinstal di wadahnya. Ada wajah anak kecil baik dari kaum Aklali maupun Elemental, wajah droid-dorid nan canggih kekinian, bahkan wajah hewan-hewan yang imut dari berbagai jenis dan spesies.


"Tunggu, tunjukkan lagi kucing berbulu itu!" ucap Ats begitu menemukan emotikon yang menarik. Arselan pun langsung menunjukkannya.


"Ini bagus," gumam Ats ketika melihat berbagai ekspresi kucing yang menurutnya keren, "Gunakan saja wajah ini."


"Baik, Tuan," Arselan menerimanya. Ia pun menunjukkan wajah emotikon kucingnya yang tersenyum polos dengan wajah sedikit dimiringkan. Wajahnya sangat imut sampai Ats ingin membelainya tanpa sadar. Sayangnya, emotikon itu hanyalah gambaran visual yang tak dapat di sentuh. Tangan Ats menembus udara kosong tempat emotikon itu menyala.


"Arselan, apa orang lain juga dapat melihat wajahmu ini?" tanya Ats penasaran.

__ADS_1


"Hanya Anda yang dapat melihat saya, Tuan," jawab Arselan dengan wajah kucing berkacamata yang terlihat cerdas dan pemikir, "Namun, bila Anda menginginkannya, saya dapat menampakkan visual ke orang lain seperti hologram pada umumnya."


"Hm, aku mengerti," Ats manggut-manggut, "Untuk sementara, cukup aku saja yang melihatmu."


"Siap, Tuan!" Arselan kembali mengubah wajahnya. Kali ini dengan emotikon kucing yang memberi hormat ala militer lengkap dengan baret merah di kepalanya. Itu membuat Ats nyaris tertawa melihatnya.


"Haha, kamu jadi lebih ekspresif setelah Profesor Han memperbaruimu," ucap Ats sambil menatap di langit yang kosong. Yah, langit yang benar-benar kosong karena tabir yang melindungi pulau terbang. Bintang-bintang artifisial baru akan ditunjukkan sebentar lagi. Biasanya dimulai pukul tujuh malam.


"Apa saja yang sebenarnya Profesor Han lakukan padamu?" tanya Ats kemudian. Sebuah bintang mulai terlihat di langit-langit artifisial itu. Itu adalah bintang kejora yang paling indah di gelapnya malam.


"Profesor Han melakukan pembaruan versi 2.1.4.," jawab Arselan yang kembali menunjukkan wajah si kucing pemikir berkacamata, "Terdapat berbagai penambahan fitur sebagai berikut."


Arselan pun menunjukkan bermacam catatan perbaikan bug dan pemutakhiran sistem. Di sana juga tercatat pengaplikasian teknologi nano. Ada juga sistem bantuan AI tingkat dua yang mana sistem itu akan membantu Ats ketika nauron zarahnya terkena masalah.


"Hm, aku mengerti," Ats manggut-manggut lagi, lalu menghadap ke langit yang kini mulai menerang. Ini adalah saatnya bintang-bintang itu bermunculan.


Ribuan titik cahaya membentuk formasi yang unik dalam konstelasi di angkasa. Bintang-bintang artifisial itu ditata berdasarkan posisi aslinya di alam semesta. Pusat Penelitian Bintang bekerja keras untuk dapat memindainya. Di masa lalu, bintang-bintang itu diteliti untuk menunjukkan arah dan menentukan waktu. Ah, bahkan sekarang masih digunakan begitu bagi pihak tertentu.


Lampu-lampu jalanan dipadamkan seketika. Jendela-jendela bangunan menggelap otomatis. Bintang-bintang artifisial di langit pun jadi semakin indah dan terang. Inilah salah satu panorama paling mempesona di Ibu Kota Altair, Peta Bintang Semesta.


"Melihat bintang-bintang itu," gumam Ats dalam kesendiriannya. Cakram Arselan terbang ke atas kepalanya dan memunculkan sosok kucing yang penuh rasa penasaran seolah-olah ia adalah anak kecil yang baru belajar. Ats tidak menyadari hal itu dan hanya terus mengoceh sendirian, "Aku ingat bahwa orang-orang dulu pernah menggunakannya untuk meramal."


Ck, itu adalah tipu daya para tukang ramal yang berusaha mencari cuan. Toh, persentase kebenarannya hanyalah satu banding seratus. Mereka menyampurkan sebuah fakta dengan seratus kebohongan.

__ADS_1


"Maksud Anda Zodiak?" tanya Arselan memastikan. Sistem AI-nya menyering ribuan informasi terkait dari apa yang digumamkan oleh Ats, lalu meminta konfirmasi.


"Zodiak? Ah, mitos tentang rasi-rasi itu," otak Ats langsung memprosesnya berkali-kali lipat lebih cepat dari AI Arselan, "Mirip, sih. Zodiak merupakan salah satu cabang ilmu nujum yang tak lebih dari gurauan. Ilmu itu tak patut untuk dipercayai. Di permukaan bumi dulu, surat-surat kabar dari ratusan tahun yang lalu pernah menggunakannya untuk media penghibur bagi para pelanggan."


Arselan merekam penjelasan itu baik-baik. Cakramnya menunjukkan seekor anak kucing yang seakan sedang sibuk menulis. Mungkin itu tak akan berguna sekarang, tapi entah di masa depan. Siapa yang tahu?


***


"Hais ...!" Ayya menghela napasnya sebal, "Kakak sudah di asrama sekarang. Kenapa aku nggak boleh mampir buat ketemu sama dia?"


"Sabar, Ayya," bujuk Elnara yang hari itu sangat keropatan dengan tingkah putri kecil yang seenaknya ini, mirip dengan salah seorang keponakannya yang lain. "Kakakmu tinggal di area pria. Kita tidak bisa masuk ke sana sembarang meskipun dengan identitas sebagai keluarga kekaisaran."


"Kenapa? Aku kan cuman mau menjenguk kakakku sebentar," keluh Ayya yang kemudian menggelembungkan pipinya. Hafiza pun angkat bicara, ikut mendukungnya. Ia penasaran dengan area pria di akademi. Kalau dilihat dari videonya sih, keren. "Benar, kita kan bisa datang ke sana sebagai penjenguk."


"Haha," Elnara hampir kehabisan kata-kata, "Yah, memang bisa, tapi harusnya beberapa minggu yang lalu. Keluarga murid di akademi hanya bisa menjenguk setiap tiga bulan sekali. Karena jadwal kuartal pertamanya sudah habis, kita baru bisa menjenguknya sekitar dua bulan lagi."


"Hah? Lama banget?" Ayya memandang tak percaya, "Kapan?"


"Tunggu saja! Saat waktunya tiba, kalian pasti bertemu," Elnara tersenyum simpul. Sebenarnya, ia sudah berniat mengajak Ayya untuk menjenguk kakaknya di hari kuartal pertama tahun ini. Sayangnya, Ats sedang tidak ada di akademi ketika itu. Menurut Dewan Pengasuhan, ia sedang pergi ke Althalimain bersama seorang senior.


"Kamu juga harus jaga kesehatan baik-baik, Ay," Hafiza mengingatkan. Selama ini, Ayya lebih sering menghabiskan waktunya di kamar perawatan. Ia adalah anak yanng lahir prematur dan sensitif. Sejak kecil, ia sangat mudah terkena penyakit. Karena itu, keluarga kekaisaran, terkhusus keluarga Permaisuri Feza yang merawatnya jadi sangat khawatir.


"Hm, aku putri yang kuat," Ayya mengangguk penuh semangat. Itu membuat Hafiza jadi senang, sedang Elnara tersenyum penuh harapan. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia berdoa agar penyakit Ayya dapat sembuh sepenuhnya sehingga ia tumbuh dengan sehat.

__ADS_1


__ADS_2