Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 056: Ikatan Rahim


__ADS_3

"Terima kasih sudah mau datang," ucap wanita muda itu dengan senyuman tulus di bibirnya. "Ayya sangat senang dengan kedatanganmu."


"Bibi Elnara, apa dia sering sakit begitu sejak dulu?" tanya Ats dengan suara yang lirih. Meskipun sudah mengetahuinya, ia tetap saja bertanya. Sebenarnya, ia pun merasa bersalah karena mengundang adiknya datang ke Pulau Reda. Andai ia tak mengajaknya untuk 'pulang' kemarin, mungkin Ayya akan baik-baik saja di ibu kota.


"Ya, fisiknya memang sangat lemah. Karena itulah kami sering menolaknya untuk keluar dari ibu kota," jawab Putri Elnara dengan suara yang lembut. Sebelumnya, Ats memanggil ia dengan honorifik "Tuan Putri". Namun, karena hubungan kekerabatan mereka yang dekat, ia langsung meminta bocah Asir itu untuk memanggilnya dengan sebutan bibi.


"Akhir-akhir ini, kesehatannya cukup membaik," lanjut Putri Elnara, "Dia sangat ceria seperti anak-anak seusianya setelah sekian lama menghabiskan waktu di ranjang putih."


Menurut dokter yang mengawasi Ayya sejak kecil, ada sesuatu yang membuat gadis itu bersemangat sehingga menumbuhkan tekadnya untuk hidup. Itu adalah kabar baik pertama yang Keluarga Kekaisaran Altair—setidaknya keluarga permaisuri kedua—dapatkan pada awal tahun ini.


"Menurut dokter itu," lanjut Putri Elnara, "Penyebabnya adalah kamu. Sebelum ke akademi, kamu sangat jarang ke ibu kota, 'kan?"


"Ya," Ats mengangguk kecil sembari menatap adiknya yang kini tengah tertidur pulas. Dulu, ia tak pernah memikirkan Ayya sama sekali. Sejak ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan muncul, ia terus disibukkan dengan buku-buku juga latihan sebagai seorang praktisi zarahian dari Keluarga Asir.


"Sejak kamu datang ke ibu kota," Putri Elnara ikut menatap Ayya. Ia bahkan mengelus kening gadis itu dengan ujung jari-jarinya. "Dia berusaha untuk bisa bertemu denganmu. Setiap kali ada kesempatan, ia selalu mencoba untuk keluar demi bertemu denganmu."


Hati Ats macam tertusuk jarum-jarum kecil mendengar ucapan itu. Kelihatan kecil, tapi menyakitkan. Kata-kata Putri Elnara memang lembut dan tak bermaksud menyindir, tapi tetap saja Ats merasa ditegur.


"Apa kamu ingat saat kamu dibawa ke rumah sakit waktu itu?" Putri Elnara menoleh kepada Ats kali ini, "Saat itu, Ayya sangat terkejut dan meminta kami untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sayangnya, kamu masih belum sadar sampai Ayya kembali ke istana. Lalu, ketika kamu sadar, kamu malah langsung pergi dari rumah sakit."

__ADS_1


"..."


Ats tertunduk lesu. Ia menggenggam tangan adiknya yang amat kecil, tapi hangat saat disentuh. Pemuda itu pun menanyakan hal yang membuatnya amat penasaran selama ini, "Kenapa dia sangat ingin bertemu denganku?"


"Karena kamu kakaknya," jawab Putri Elnara.


Lagi-lagi, perkataan tuan putri itu telak menusuk relung hati Ats. Berbeda dengan Ayya, ia tak pernah ingat dengan keberadaan adiknya selama ini. Kenyataan itu membuat Ats semakin merasa bersalah.


"Jangan tunjukkan wajah itu di depan adikmu," kata Putri Elnara begitu melihat kesedihan yang terpancar dari wajah keponakannya ini, "Ayya tak ingin kamu berwajah murung. Tersenyumlah padanya saat ia bangun nanti."


"Baik, Bibi," Ats mengangguk paham. Ia pun duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Ayya. Setelah menghela napas panjang, ia kembali menatap adiknya yang tertidur pulas.


"Dia akan baik-baik saja selama banyak beristirahat, tapi," Dokter Razana yang baru saja datang menjawab. Selama perjalanan ke Pulau Reda, ia yang bertugas mengawasi Ayya. "Kondisinya tidak akan jadi lebih baik kalau dia hanya berdiam saja."


"Apa maksudmu?" Putri Elnara bingung dengan ucapan Dokter Razana yang terkesan kontradiktif.


"Sesekali, kita harus mengajaknya jalan-jalan ke luar," jelas sang dokter. Wanita itu pun berjalan mendekati Ats dan menepuk pundaknya. "Namun, kita harus bisa menyesuaikannya dengan kemampuan Ayya agar tidak membuat efek sebaliknya."


"Oh," Putri Elnara mengangguk, "Aku mengerti."

__ADS_1


"Ats," panggil Dokter Razana, "Saat dia bangun nanti, kamu harus memperhatikan dan selalu menemaninya. Dia ke mari untukmu."


"Baik, Bibi," Ats menyanggupi. Sayangnya, Ayya tidak bangun lagi sepanjang hari itu. Ats menemaninya seharian dengan perasaan bersalah yang terus menumpuk. Pemuda itu hanya akan keluar saat ada keperluan mendadak.


***


"Maaf, Anasiya," ucap Zen sungguh-sungguh, "Aku yang mengundangmu, tapi aku malah terlambat. Ats meminta kami ke rumah sakit tiba-tiba. Aku jadi lupa kalau ada janji untuk bertemu denganmu."


"Itu bukan masalah, Zen," Anasiya memaklumi, "Aku juga pasti panik jika ada keluargaku yang sakit. Setelah ini, kami juga berencana untuk menjenguk tuan putri."


"Tuan putri, ya?" Zen masih belum mengerti. Ia tak pernah menyangka bahwa sepupu yang selama ini dianggapnya sebagai rival ternyata memiliki hubungan kekeluargaan yang erat dengan Keluarga Kekaisaran Altair. Adik bocah itu bahkan seorang putri. "Tapi, kenapa Ats tidak menjadi seorang pangeran?"


"Kenapa malah menanyakannya padaku?" Anasiya mengerutkan kening, heran dengan pertanyaan dari pemuda di hadapannya ini.


"Ah, maaf," Zen menggeleng, "Aku hanya bergumam saja."


Wajar saja Zen tidak mengetahuinya. Tidak semua anggota keluarga mempelajari silsilah keluarga lainnya. Ats sendiri bahkan tak terlalu peduli mau ia dianggap sebagai bagian dari Keluarga Asir atau Keluarga Kekaisaran Altair. Namun, jika disuruh memilih, tentu ia memilih keluarga yang telah merawat dan menyayanginya sejak kecil.


Zen menatap Anasiya yang kini tengah menyeruput tehnya dengan penuh etika dan sopan santun. Ia menarik napas perlahan guna menghembuskan segala kegugupan di hatinya. Setelah cukup meyakinkan hati, ia pun hendak bertanya, "Jadi, Anasiya—"

__ADS_1


Sayangnya, pertanyaan yang ingin ditanyakannya tak kunjung keluar. Ia malah mengatakan hal sepele yang tidak berguna sama sekali. Pertemuannya kali itu pun berakhir sia-sia.


__ADS_2