
Solar muncul di tengah-tengah formasi musuh. Ia pun menghunuskan pedang di tangan kanannya dan menggenggam pistol di tangan kirinya. Dengan ganas, ia menyerang musuh-musuhnya bagai banteng yang terluka.
Satu peluru, satu nyawa. Harusnya begitu. Sayangnya, Solar tak bisa melakukan itu dengan senjatanya yang sekarang. Pistolnya tidak menimbulkan kerusakan yang cukup sehingga harus dilanjutkan dengan serangan pedangnya.
Pada sepuluh detik pertama, Solar berhasil mengeliminasi tiga musuh terdekatnya. Ia tak memberi kesempatan sedikit pun pada mereka untuk bersiap. Sayang sekali, pergerakannya hanya sampai di situ saja.
"Bodoh! Tembak dia sekarang!" seru seorang pemimpin musuh. Rentetan peluru segera berterbangan ke arah Solar. Dalam sekejap, Solar menerima sebuah notifikasi.
"Anda telah tereliminasi."
Kapsul Solar pun terbuka dengan sendirinya. Pemuda itu langsung melepas segala perangkat yang menempel pada tubuhnya. Ia lantas bangkit duduk dan menghela napas sesal, "Hah … harusnya aku menggunakan teknik zarahian lagi sebelum mereka menembak."
"Yo, Solar," panggil seorang pemuda yang kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Solar berdiri, "Kamu tereliminasi juga, ya?"
"Iya," Solar pun menerima uluran tangan itu, lalu bertanya, "Kita masih belum kalah, kan?"
"Entahlah," jawab pemuda itu tak tahu. Ia bernama Alan. Di Regu Yildirim, ia masuk ke Tim Belati 1 sama dengan Solar. Ia melihat ke kanan dan kiri. Kapsul kawan-kawan lainnya masih tertutup, pertanda mereka masih bertarung di dalam dunia virtual. "Ayo lihat aja di aula."
"Saudara-saudara, itu tadi serangan yang sangat mengejutkan," seru Ari dengan hebohnya, "Ketua Regu Yildirim maju melesat seorang diri ke tengah-tengah tim penyerang dari Regu Zehin dan langsung mengeliminasi tiga dari mereka."
"Yah, itu sangat menakjubkan, Ari," Jemy membalas dengan senyum lebar yang khas di wajahnya, "Tapi sayang sekali, dia langsung tereliminasi juga setelah itu. Menurutku, itu adalah tindakan gegabah. Yah … meskipun hebat dan berani."
"Oh, ternyata begitu," Alan menatap Solar dengan hambar, "Solar, harusnya kamu bertahan lebih lama di sana. Kematianmu adalah poin yang besar bagi mereka."
__ADS_1
"Hm, benar juga," Solar menatap papan poin yang terdapat di layar. Poin Regu Zehin jelas lebih unggul di sana. Namun, ia malah berkata dengan nada seolah tak berdosa, "Tenang saja. Selama kita merebut bendera mereka, kita pasti yang menang."
"Yah," Alan pun tak menanggapinya serius, juga tak berharap banyak meski berkata, "Semoga saja Tim Belati 3 bisa menyelesaikan misinya."
Saat para penonton di dunia nyata tengah mendiskusikan perbuatan Solar tadi, Ats tengah berpikir keras untuk mempertahankan basis komandonya di dunia virtual. Titik pertahanan C sudah direbut. Tak ada lagi seorang pun yang tersisa di sana. Titik pertahanan A pun hampir ditembus.
"Persiapkan meriam serbu! Musuh sudah semakin dekat," seru Ats pada operator yang membantunya di basis komando. Kawan-kawannya pun segera melaksanakan perintah itu. Mereka bekerja secepat mungkin untuk mempertahankan bendera.
"Gawat! Tim Penghancur musuh sudah sangat dekat," lapor Tim Mata 2, "Mereka akan menghancurkan—"
"Ats, meriam kita sudah hancur," lapor operator yang bertugas mengatur sistem pertahanan pertama.
"Titik A berhasil ditembus!" lapor operator yang mengawasi peta, "Musuh mengepung kita dari dua sisi."
"Meriam ledak juga baru saja dihancurkan," lapor operator sistem pertahanan kedua dengan nada datar, "Hah … sudahlah. Tak masalah meskipun kita kalah lagi. Sudah bagus kita bisa bertahan sejauh ini."
"Ini masih babak pertama," Ats menepuk jidatnya, merasa gagal memberikan arahan yang tepat pada kawan-kawannya. Ia pun meremas kepala. Seharusnya, ia tak ragu sedikit pun untuk menggunakan Arselan sejak awal.
"Santai saja, Ats," salah seorang kawan menepuk pundak pemuda itu, "Ini hanyalah permainan. Jangan dibawa berat begitu."
"Iya sih," gumam Ats pelan, kemudian berusaha untuk kembali berpikir jernih, "Hai, coba laporkan jumlah musuh. Setidaknya, kita harus berjuang sampai akhir."
Setelah mendapat data yang diinginkannya, Ats pun langsung membuat ulang strateginya. Ia meminta Tim Mata 2 dan 3 untuk kembali ke pos awalnya guna membantu pertahanan basis komando, sedangkan Tim Mata 1 dan 4 harus maju untuk menyokong Tim Belati 3. Mereka harus bergerak cepat karena Tim Penyerang dari Regu Zehin sudah ada di halaman basis komando mereka.
__ADS_1
"Persiapkan senjata kalian masing-masing!" titah Ats yang sudah mulai pasrah, "Mereka akan masuk sebentar lagi. Ulur waktu selama mungkin sampai Tim Belati 3 menyelesaikan misinya."
"Apa mereka akan berhasil?" salah seorang operator meragukan hal tersebut. Ats pun tersenyum kecut dan mengangkat bahunya. "Entahlah."
"Mata 2 dilumpuhkan," lapor seorang operator.
"Mata 3 juga," tambah yang lainnya, "Tapi mereka sudah berhasil mengeliminasi setengah jumlah musuh."
"Pintu pertama ditembus. Mereka akan sampai ke sini kurang dari lima menit," kabar-kabar buruk terus menerus berdatangan, membuat suasana semakin mengkhawatirkan, "Sudah tidak ada lagi harapan. Kita pasti kalah."
"Tidak," sangkal Ats dengan seringai kecil di bibirnya, "Kita menang."
***
"Wow …! itu tadi serangan yang sangat cepat dan senyap dari Tim Penyerang Yildirim," komentar Ari penuh semangat, "Kapan mereka menyusup, Jemy? Aku tidak melihatnya sama sekali."
"Entahlah, aku juga tidak," Jemy menggeleng dengan senyum simpul di wajahnya, "Kita terlalu fokus pada penyerangan di Wilayah Yildirim, Bung. Mungkin mereka sudah menyusup sejak awal."
"Yah, apa pun itu," Ari hendak memberi kata penutup sebelum mech pertama usai, "Ini adalah performa yang hebat dari anak-anak tahun pertama. Sangat menakjubkan. Mereka berkembang secepat kilat yang menyambar."
"Sesuai namanya," Jemy menambahkan.
"Yah, sesuai namanya," Ari pun menutup mech pertama, lalu mengumumkan peserta pertandingan selanjutnya. Ragu Yildirim dan Regu Zehin yang barusan bertanding dipersilakan untuk beristirahat terlebih dahulu. Pengumuman semifinal akan dipublikasikan setelah babak penyisihan usai.
__ADS_1