
"Siapa?" Ats meminta kejelasan lebih lanjut. Begitu Arselan menunjukkannya, ia begitu tertegun. Wajahnya mengeras seolah menahan perasaan yang membuncah di dadanya. Samar-samar, telinganya memerah.
"Kakak kenapa?" tanya Ayya yang mampu melihat perubahan kecil di wajah kakaknya itu.
"Em!" Ats tersentak kecil ketika Ayya bertanya padanya. Ia pun menghela napas pelan, lalu menjawab sambil tersenyum, "Bukan apa-apa kok. Apa kamu ke tempat lain?"
"Ke mana?" Ayya antuasias. Pengalihan topik Ats sukses besar tanpa celah sedikit pun. Ia pun menawarkan sebuah tempat kepada adiknya sembari berkata, "Sini naik, Kakak gendong lagi."
"Hm," Ayya mengangguk senang. Saat mereka tengah berjalan ke tempat yang di tuju, gadis itu tiba-tiba menepuk-nepuk pundak Ats, lalu berseru, "Kakak, Kakak. Ada panter hitam!"
"Oh, itu Pussy," Ats mengulas senyumnya, "Dia jinak. Mau melihatnya?"
"Nggak," Ayya menggeleng takut.
Sayangnya, malah Pussy yang menemukan dan mendekati mereka. Kucing hitam raksasa itu melompat dari satu akar ke akar lainnya sampai tiba di depan Ats. Ayya pun sontak menyembunyikan wajahnya di balik punggung Ats.
"Nggak apa-apa kok, Ay," kata Ats dengan senyum senang di bibirnya, "Dia jinak."
Pussy mendekatkan dirinya pada Ats dan mendengkur. Ia seolah minta dielus olehnya. Kucing hitam itu duduk dengan tenang dan menggemaskan. Arselan langsung memotretnya untuk kenang-kenangan.
"Coba sentuh dia," ucap Ats. Ia memindah Ayya dari punggungnya ke depan. Gadis kecil itu tetap takut melihat Pussy yang baginya menyeramkan, padahal ia sangat imut menurut Ats.
"Cobalah pegang seperti ini," tangan kanan Ats mengelus surau Pussy, sementara tangan kirinya tetap menggendong Ayya. Ayya malah kembali menyembunyikan wajahnya di balik gendongan Ats, takut kalau-kalau tangan kakaknya digigit kucing besar itu.
"Cobalah," kata Ats lagi.
__ADS_1
"Nggak mau!" Ayya menolak mentah-mentah. Ia menggelembungkan pipinya dan memilih untuk tetap menyembunyikan wajah. Sesekali, ia mengintip kucing besar itu saat sedang mendengkur. Detik kemudian, ia meminta pada Ats, "Kakak, ayo pergi."
"Hm? Oke," Ats menoleh. Ia pun jadi ingat bahwa ia ingin membawa adiknya ke suatu tempat. Sebelum pergi, ia berpesan pada Pussy, "Pussy, keluargaku sedang berkunjung ke mari. Berhati-hatilah dan jangan membuat keributan."
"Meong," jawab Pussy seolah paham dengan pesan yang disampaikan oleh pemuda itu. Ia menatap Ats dengan mata berbinar. Saat tatapannya bertemu dengan Ayya, matanya seketika menajam. Ayya pun langsung kembali menyembunyikan wajahnya karena takut.
"Kakak, cepat!" bisik Ayya takut. Ia ingin segera menghindar dari kucing besar itu. Tapi ...
"Kak, cepat, Kak!" desak Ayya, "Dia ngikutin kita."
"Nggak apa-apa dong," jawab Ats santai. Ia pun menepuk-nepuk pundak adiknya agar tenang. Ia juga mengelus rambut hitam Ayya yang lebat. "Daripada dia bikin masalah di tengah yang lainnya."
Ayya pun terdiam karena tak bisa membujuk kakaknya. Ia memilih untuk menghindari tatapan mata Pussy yang entah mengapa seolah tak suka dengannya.
"Kita sampai," kata Ats begitu ia sampai di ujung tebing yang tinggi. Tebing ini adalah pemisah antara satu bukit dengan bukit lainnya. Ia pun menunjuk tebing seberang yang lebih rendah dari tempatnya berdiri. "Biasanya, kakak ke sini lewat sana."
"Anasiya sudah pernah bilang ke kamu, 'kan?" Ats mencoba mengingatkan, "Untuk ke mari, kamu harus punya tubuh dan sehat dan pandai menggunakan teknik zarahian."
"Hm," Ayya mengangguk. Ia fokus pada penjelasan kakaknya sampai lupa dengan eksistensi Pussy yang sebenarnya berdiri tepat di samping Ats.
"Untuk ke mari," Ats pun menjelaskan, "Kamu harus terjun dari sana."
"Mati dong," kata Ayya kritis. Ats pun menahan tawanya. Jika dipikir dengan akal sehat biasa, tentu hal itu benar. Namun, praktisi zarahian tentu punya caranya sendiri.
"Yah, kalau kita gagal menggunakan teknik di tengah prosesnya, kita pasti mati atau terluka," jawab Ats dengan entengnya, "Saat kita mulai melihat dasar jurang di bawah sana, kita harus segera meleburkan diri dan mengarahkan semua partikel tubuh kita ke batu besar itu."
__ADS_1
Ats menunjukkan tempat batu besar yang menghalangi jalan setapak di baliknya. Ayya yang melihat itu jadi bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan penjalasan kakaknya.
"Grr!" Pussy mengeram sampai membuat Ayya sangat terkejut. Gadis itu pun spontan mencengkeram lengan baju kakaknya erat-erat. Wajahnya langsung bersembunyi seperti biasa.
"Ats!"
Ats mendapati Dokter Razana dalam posisi siaga saat menoleh. Wanita itu menatap Pussy dengan tajam. Meskipun ia seorang dokter wanita yang terlihat lemah, sebenarnya ia praktisi yang lebih kuat dari Ats. Bagaimanapun juga, ia pernah menerima pendidikan di perguruan ayahnya yang juga kakek Ats dan Ayya.
"Pussy, tenanglah!" satu kata yang Ats lontarkan itu membuat Pussy langsung terdiam. Ia pun menundukkan tubuh seolah memberi penghormatan.
"Dia—" Dokter Razana tak tahu harus berkomentar apa. Melihat kucing besar itu menuruti perintah Ats, ia pun menurunkan kewaspadaannya. Detik kemudian, ia manatap keponakannya dengan tajam.
"Ats, apa kamu bilang tadi?" tanya Dokter Razana dengan aura intimidasi yang mengalir dari suaranya. Ats pun bergidik dalam diam. Ia merasakan firasat yang tidak menyenangkan.
"Bukan apa-apa," jawab Ats sekadarnya.
"Kakak Ats suka terjun dari sana," Ayya yang menjawab. Ats merasa terkhianati oleh kesaksian adiknya itu. Firasatnya semakin buruk sekarang.
"Oh, jadi begitulah caramu merepotkan orang tua dari dulu," Dokter Razana mengepalkan tangannya. "Sekarang, kamu malah mau mengajarkannya pada adikmu, hah?"
"Em—" Ats tak bisa berkata-kata banyak, "Bukan begitu."
"Hah ... cepat ikut aku sini! Jangan berdiri dekat-dekat dengan pinggir jurang," kata Dokter Razana mengingatkan, "Ayya, sini, Nak. Bibi aja yang gendong."
Ayya menatap Ats sejanak, lalu ke Pussy. Melihat kucing itu menatapnya dengan tajam, ia pun segera turun dari gendongan Ats. Sejenak kemudian, ia bergegas kepada bibinya.
__ADS_1
"Ats, kita harus banyak berbincang setelah ini," kata Dokter Razana sembari berpaling menjauhi jurang. Ats pun menghela napas hambar. Ia hanya bisa menjawab pasrah, "Baik, Bibi."