
"Aku sudah berjuang keras selama ini," seru Solar tegas, "Lawan aku dengan serius seperti kamu melawan Master Khaled."
"Hm, oke," Ats mengangguk kecil dengan wajah tak berekspresi, "Silakan maju."
Solar tak melihat keseriusan pada wajah Ats. Ia pun merasa diremehkan. Dengan suaranya yang keras, ia membentak lantang, "Jangan remehkan aku! Lawan aku dengan serius!"
"Sudah," jawab Ats datar. Matanya menatap Solar awas. Ia memperhatikan arah serangan lawannya dengan cermat. Di waktu yang paling tepat, ia menghindar dengan gerakan yang minimalis.
"Hiyaaah ...!" Solar melayangkan serangan berikutnya.
Serangan itu membuat Ats harus mundur beberapa langkah untuk menghindarinya. Arselan membantunya untuk menganalisis gerakan lawan. Jadi, ia bisa lebih cepat bertindak.
"Jangan cuman menghindar!" bentak Solar, "Serang aku!"
Mata Solar tertegun. Ats menghilang dari pandangannya dalam sekejap. Tanpa sempat berkelit, lehernya dihantam pukulan yang keras.
"Masih bisa lanjut?" tanya Ats pelan.
"Masih!" ucap Solar penuh penekanan. Ia pun kembali melancarkan serangan, tapi Ats lagi-lagi menghindarinya dengan mudah. Kali ini, punggungnyalah yang dipukul.
"Seranganmu sudah lebih baik, tapi masih banyak celah pada pertahananmu," Ats memberi petunjuk. Ia kembali muncul dan menyerang Solar dari titik butanya. Tubuhnya hilang timbul sampai membuat Solar kebingungan.
"Kekuatan yang besar tanpa ketepatan hanya membuang-buang tenagamu," tambah Ats sembari menghindari serangan balasan Solar. Tangannya pun mencengkeram lengan suksesor Keluarga Efendi itu. Ia menariknya ke belakang sehingga mengunci pergerakan bocah itu.
"Cukup sampai di sini," kata Ats yang kemudian menarik napas panjang. Peluh keringat membasahi dahinya. Serangan Solar yang tajam sudah cukup mendesaknya untuk menggunakan teknik zarahian.
Meski ia masih menang di sini, pertandingan itu cukup menyentil hati Ats. Jarak kemampuan antara dirinya dengan Solar sudah memendek. Ia akan tersusul jika tidak berkembang sepanjang semester ke depan ini.
__ADS_1
"Hah ...," Solar menghela napasnya pelan begitu Ats melepas kunciannya. Ia langsung terduduk dan meluruskan kakinya. Napasnya kembang-kempis kelelahan.
"Kamu harus melatih kepekaanmu untuk mendeteksi keberadaan musuh," Ats memberi saran, "Cobalah minta tips pada Master Khaled untuk menguasainya. Senior Arka juga bisa jadi rujukan yang tepat."
"Kamu sendiri?" Solar mengerutkan keningnya dan menatap Ats dengan heran. Tatapannya itu seolah bertanya, "Bukannya kamu bisa memberitahukannya padaku?"
"Aku memang bisa praktiknya," jawab Ats, "Tapi belum bisa ngajarin teorinya. Kalau kamu datang lima atau delapan tahun lagi, mungkin aku sudah bisa jawab waktu itu."
"Ck! Kelamaan," Solar tak bisa menunggu selama itu. Persaingan suksesor bisa dimulai kapan saja. Ia harus memperkuat dirinya secepat mungkin. Bahkan, tak hanya dari segi kekuatan fisik pribadi, tapi juga penguasaan fraksi yang kuat dalam keluarga.
"Yah, terserah kamu," Ats tak peduli. Mereka pun keluar dari lapangan latih tanding. Jalanan akademi yang tadinya masih sepi, kini mulai ramai.
"Ats, Solar," panggil Fang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, "Sini bentar."
"Apaan, Senior?" tanya Solar datar.
Ats menerima sebuah kotak logam yang ringan. Meski terlihat kecil dan enteng, sebenarnya kotak itu memuat banyak barang berat. Hanya saja, teknologi kontragravitasinya membuat ia jadi jauh lebih ringan.
"Apa ini?" tanya Ats penasaran.
"Barang-barang OSIS," jawab Fang singkat, "Udah, antar sana! Aku baru ada urusan lain nih."
"Sok sibuk amat," ledek Solar.
"Sibuk beneran tahu!" balas Fang sedikit tersinggung, "Eh, kamu ikut aku aja sini. Biar Ats yang antar barangnya."
"Hm?" mata Solar berkedip dua kali, "Oke."
__ADS_1
"Lah?" Ats terbengong melihat kedua kawannya itu pergi. Ia pun menghela napas pelan, lalu menerima saja permintaan Fang.
Ats menekan bel di dekat pintu begitu sampai di depan sebuah gedung besar. Ini adalah gedung yang dikhususkan untuk para murid anggota OSIS. Mereka bekerja dan berasrama di sini.
"Siapa?" pintu dibuka. Muncullah seorang pemuda berkacamata bulat. Ia adalah sosok yang lumayan terkenal meskipun pasif. Kedudukannya di OSIS cukup tinggi sebagai sekretaris jenderal.
"Senior Finn," kata Ats sembari memberikan kotak yang dibawanya, "Senior Fang meminta saya untuk mengantarkan kotak ini ke ruang OSIS."
Finn pun mengambil kotak itu dan memeriksanya. Ia mengangguk kecil, lalu menutup kembali kotak itu. Sebelum Ats pamit undur diri, ia menawarkan sesuatu, "Ats, apa kamu tertarik untuk mendaftar OSIS?"
"Aku sedang mempertimbangkannya, Senior," jawab Ats jujur, "Kalau seandainya aku punya waktu yang cukup, aku mungkin akan mendaftar."
"Oh, aku mengerti," Finn mengangguk paham. Rumor yang mengatakan bahwa Ats adalah bocah genius didikan Profesor Han sudah tersebar luas di akademi. Jadi, ia tak perlu bertanya lagi.
"Apa itu?" tanya seorang pemuda yang sedang sibuk membaca dokumen ketika Finn masuk ke kantor OSIS.
"Barang-barangnya OSIS," jawab Finn lugas. Ia pun menaruh kotak perak itu di atas meja. Saat ia memeriksa isinya lagi, ia menemukan sebuah benda yang tak pernah dilihatnya.
"Hai, Mir," panggil Finn sembari mengamati benda itu lekat-lekat, "Ini gawainya siapa?"
"Hm?" Amir yang merupakan Presiden OSIS menoleh. Ia pun mengerutkan kening. "Itu bukannya punya Fang, ya?"
"Oh," Finn meletakkannya kembali, "Mungkin sih. Dia kan yang bawa barang-barang ini sebelumnya."
"Eh, tunggu," kata Amir begitu melihat gawai itu lebih jelas, "Coba bawa ke sini dong."
"Nih," Finn melemparnya dengan enteng. Untung saja Amir bisa sigap menangkapnya. Gawai kecil itu mendarat dengan selamat di tangannya.
__ADS_1
"Ini ...," Amir tertegun dalam diam. Ia menatap gawai itu lekat-lekat. Sebuah dugaan terpintas di benaknya. Lantaran belum yakin, ia pun menyimpan gawai itu untuk menelitinya.