
"Kamu jadi gabung ke Kelas Reserse, kan, Jun?" tanya Ats di tengah perjalanannya kembali ke asrama.
Kelas Reserse. Kelas yang ada di bawah Departemen Jasus. Mereka akan dilatih untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan informasi. Dalam departemen nanti, mereka akan ada di bawah naungan Divisi Diplomatik.
Akan tetapi, fakta itu tidak dijelaskan di akademi secara rinci. Bisa dibilang, akademi ini hanyalah tempat untuk menyaring bakat. Mereka yang masuk kualifikasi akan dihubungi secara rahasia dan mendapatkan pelatihan lanjutan setelah lulus nanti. Ats mendapat informasi itu dari buku yang dibacanya di perpustakaan. Umumnya, itu akan dibaca oleh para sarjana yang telah diundang untuk bergabung dengan Departemen Jasus.
"Aku sudah mendaftar," jawab Arjuna. Pemuda bercelak itu menatap ke angkasa. Ada rona lelah di wajahnya. "Tugasnya simpel sih, tapi nggak semudah yang dikira."
"Disuruh ngapain emangnya?" Ats penasaran. Jika melihat uraian di perpustakaan waktu itu, tugas reserse memang sulit.
"Disuruh buat survei dan analisis kecenderungan siswa terhadap minat dan bakat dari kelas tahun pertama sampai keenam," Arjuna pun menatap kembali gawainya. Ah, sepertinya, itu yang ia kerjakan tempo hari. Ia memang jadi sangat sibuk.
"Lah, bukannya tinggal buat kuisioner?" Ats menatap kawannya heran. Kuisioner bisa dibuat dengan akun di internet, lalu disebarluaskan melalui media sosial baik secara umum maupun pribadi. Itu jadi mempermudah pembuatan survei dan analisis data
"Yah, tapi nggak sesederhana itu," Arjuna mendengus malas, "Masalahnya, aku juga harus menganalisis semua datanya dengan teliti. Kelas Reserse itu menuntut kesempurnaan. Ada banyak data yang masuk, tahu. Aku harus baca satu per satu data kelas pertama sampai terakhir. Kalau ada yang salah, auto dah ditendang dari tuh kelas. Belum lagi referensi literatur yang harus kubaca. Buaaanyak banget!"
"Yah, survei kan emang buat analisis, tapi bukannya cukup dengan sampel?" Ats mengerutkan keningnya. Dengan bantuan Arselan, ia bisa mengelola data seperti itu dengan mudah dan cepat sama seperti ketika data-data yang muncul otomatis di gawai Profesor Han. Ia tinggal menelitinya saja setelah itu.
"Survei yang kudapat itu udah sampel, tapi tetap aja banyak," gerutu Arjuna yang dengan bosannya menaik-turunkan halaman dokumen di gawainya. Ia sedang tak semangat menginput data dan mencatat laporan analisis. Padahal, masih banyak yang harus ia kerjakan. Tenggat waktunya tinggal sebentar lagi.
"Kapan terakhir?" tanya Ats.
__ADS_1
"Dua atau tiga hari lagi ... kayaknya?" Arjuna menghentikan jarinya yang sudah malas. Air mukanya sedikit keruh. Ada rona lesu di sana. "Rasanya jadi kayak buat tugas karya ilmiah. Bukannya reserse itu tugasnya kayak agen rahasia?"
"Hais ... agen rahasia juga harus bisa buat laporan tahu. Mereka bakal dituntut buat sering membaca dan menganalisis data," Ats menepuk pundak kawannya dan memberi semangat, "Tes awal kayak gitu wajar sih, menurutku ... daripada harus duel sama Master Khaled."
"Duel sama Master Khaled? Itu kamu?" Arjuna memandang tak percaya. 'Master Khaled yang itu!? Serius?' Begitulah wajahnya berkata.
"Haha, iya," Ats tertawa hambar, "Berat banget, tahu?"
"Yah, tapi seru, kan?" Arjuna terlihat antusias. "Kalau belajar sama guru sepopuler 'beliau', berarti kamu orang yang hebat."
"Kamu mau ikut?" Ats jadi kepikiran untuk menyeretnya juga sama seperti Solid. Sayangnya, Arjuna dengan tegas menggeleng. "Aku dah sibuk banget di Kelas Menembak sama Kelas Reserse. Mungkin lain kali aja, hehe ... nanti cerita-cerita, ya."
"Heh, cerita apaan?" Ats mendengus. Arjuna pun menjawabnya enteng, "Deritamu."
Apalagi, ia juga punya kelas dengan pengajar khususnya dan Kelas Penelitian Ilmiah. Intinya, hari-harinya di akademi sangatlah sibuk, berbeda dengan kebanyakan murid lain yang lebih suka memanfaatkan waktunya untuk menikmati setiap detik masa muda di akademi. Sangat berbeda!
Yah, itu semua adalah investasi kecil untuknya di masa depan. Semua perjuangan itu akan terbayar kelak. Tak ada kesuksesan yang instan.
Berlian yang cantik tidaklah terbentuk begitu saja, melainkan melewati begitu banyak proses penempaan dan pemolesan yang keras dan teliti. Banyak perjuangan dan ujian yang harus dilaluinya. Alhasil, ia menjadi benda yang paling cantik di dunia nan melambangkan kehormatan dan keanggunan.
***
__ADS_1
"Atssuria Asir? Bocah ini bisa menggunakan 'sistem' yang gagal dikembangkan oleh Laboratorium Pusat?" tanya pria paruh baya berpakaian rapi itu. Ada banyak kerutan di wajahnya. Sebagian rambutnya sudah mulai memutih, padahal usianya belum sampai kepala lima. Sepertinya, dia sangat bekerja keras demi mengembangkan wilayahnya.
"Benar, Tuan Adipati," jawab seorang pria tua yang seluruh rambutnya sudah memutih, bahkan kumis tebal di bawah hidungnya yang mancung juga, "Anak itu ada di bawah pengawasan Pangeran Han sekarang. Beliau adalah kepala riset 'penelitian' itu"
"Han-kah?" pria yang dipanggil adipati pun mengetuk-ngetukkan penanya ke meja, "Dia sungguh beruntung bisa bekerja di akademi. Andai bocah itu berpihak padaku, pasti usahaku akan jadi lebih mudah. Akademi adalah tempat para bakat muda berkumpul. Aku harus bisa mendapat banyak kekuatan baru di sana, tapi—"
"...," sang adipati menggertakkan giginya. Ia pun memukul meja dengan telapak tangannya yang besar, lalu mengepalkannya. Mukanya ditekuk. Ada rona marah di sana.
"Mohon jaga amarah Anda, Tuan," ucap pria beruban yang mendampingi sang adipati. Ia adalah Arunqa Bey, penasihat sekaligus ajudan utamanya. Sejak muda, ia sudah mengabdikan dirinya pada adipati itu, bahkan berkawan baik dengannya meskipun usia mereka terpaut agak jauh.
"Aku tahu, Bey," adipati menghela napas miris. Ia pun bangkit dan berjalan mendekati jendela. Di luar sana, terlihat pemandangan kota Altalimain yang indah dan menawan, tak kalah indah dengan ibu kota yang selalu bersinar. Kota ini sudah dibangunnya sejak lama.
Dalam prosesnya, sang adipati menerima banyak masukan dari orang-orangnya, bahkan pemikiran mereka yang bebas dan jauh dari etika konservatif kekaisaran. Itu adalah kebebasan. Yah, kebebasan di mana kamu bisa melakukan apa pun. Tak banyak aturan yang mengekang. Selama kamu berbuat baik, kamu tak akan terkena masalah atau terjerat undang-undang.
Itu adalah jiwa yang tertanam dalam sosok kota ini. Kota indah yang menerima apa pun, bahkan hal yang tak pernah dibayangkan oleh orang-orang kolot dari istana. Tak ada batas antara pria dan wanita. Semua makanan tersedia di sana. Enyahlah pembatasan-pembatasan tak berguna itu! Dengan kebebasan, hidup menjadi lebih nikmat dan keuntungan pun akan menjadi semakin berlimpah.
"Semua itu kosong," gumam Adipati Altalimain geram, "Aku tak pernah bisa mengalahkan kakakku. Dia terlalu kuat. Kalau sampai Han membantunya lebih jauh lagi, itu hanya akan merugikanku."
"...."
"Bey, selidiki bocah itu lebih jauh lagi!" titah Adipati Altalimain setelah beberapa saat terdiam, "Perhatikan perkembangannya. Jika ia berhasil bertahan dari percobaan itu, bawa dia ke mari bagaimanapun caranya. Dia harus ada dalam genggamanku."
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Bey tegas, "Saya akan segera menghubungi agen kita di sana."