Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 029: Kelas Kepemimpinan


__ADS_3

"Saya—" Ats tertunduk dan menatap gawainya yang kini sudah mati, "Hanya penasaran dengan tragedi yang terjadi sepuluh tahun lalu."


"Tragedi? Apa maksudmu kecelakaan yang menimpa Armada Ketiga Kekaisaran?" tebak Magister Snoug. Ats pun mengangguk. Barangkali ada nasihat yang bisa ia dapat dengan memberi tahu guru bijaknya ini.


"Ah, apa ada yang mengganggumu akhir-akhir ini?" Magister Snoug jadi penasaran. Ia termasuk salah satu guru yang memperhatikan latar belakang Ats selama ini. Jadi, ia bisa sedikit mengerti kenapa Ats menyelidiki hal itu. Hanya saja, ia tetap harus mengonfirmasikan dugaannya.


"Mengganggu?" Ats memikirkannya sebentar. Sebenarnya, memang ada hal yang mengganggunya akhir-akhir ini. Namun, hal itu terasa samar dan tidak berhubungan sama sekali dengan kegelisahannya sekarang. Ia pun menjawab sekadarnya. "Mungkin karena saya terlalu lelah akhir-akhir ini, Magister."


"Lelah? Apa karena Master Khaled melatihmu berlebihan?" Magister Snoug menebak. Ats pun tersenyum simpul dan menjawab, "Pelatihan dari beliau memang berat, tapi saya bisa bertahan dengan baik di sana."


"Hais ... jangan memaksakan dirimu kalau memang terlalu berat," usul Magister Snoug, "Master Khaled tak akan menyakitimu hanya karena kamu keluar dari kelasnya."


"Saya mengerti, tapi saya akan tetap bertahan di sana," balas Ats optimis. Lagi pula, ia memang suka Kelas Zarah. Meskipun tak berambisi untuk jadi praktisi zarahian terkenal, ia tetap bertekad untuk menjadi seorang praktisi yang kuat seperti ayahnya.


"Oke, terserah kamu," Magister Snoug pun menyerahkan sebuah kacamata khusus untuk pelajaran kali, "Kita akan mulai kelasnya sekarang."


Ketika Ats memakai kacamata itu, ia bisa langsung melihat proyektor tiga dimensi yang muncul di atas meja. Fungsi proyektor itu sama seperti cakram yang mewadahi Arselan. Mereka sama-sama memancarkan hologram tiga dimensi, tapi proyektor ini generasi yang belum dimutakhirkan. Yah, jelas Arselan lebih canggih.


"Kita akan memulai kelas ini dengan memahami makna dari kepemimpinan," ujar Magister Snoug. Jari telunjuknya pun menekan sebuah tombol di meja. Sesaat kemudian, muncul dua buah kata yang mengambang di sana.


"Kepemimpinan dan manajemen," kata Magister Snoug membaca kedua tulisan itu, "Apa menurutmu ia adalah satu hal yang sama atau dua hal yang berbeda?"


"Em—" Ats mengamati kedua kata itu, baru kemudian menjawab, "Satu hal yang sama."


"Hm, kenapa begitu?" Magister Snoug meminta alasannya.

__ADS_1


"Karena kedua-duanya bersifat mengendalikan," jawab Ats yakin. Magister Snoug pun tersenyum simpul. Ia lantas menanggapinya, "Dalam hal itu, kamu tidak salah. Kepemimpinan dan manajemen sama-sama memiliki sifat pengendalian atas hal di bawah otoritasnya. Namun, kedua kata itu sejatinya berbeda."


Magister Snoug menekan kedua kata bernuansa futuristik itu. Dalam sekejap, ukuran keduanya sedikit mengecil, lalu melahirkan kata-kata turunan lainnya. Masing-masing kata itu punya ilustrasi yang berbeda.


Di bawah kata "Kepemimpinan" terdapat kata penginspirasian, pengayoman, penyelarasan, dan pengendalian. Di sisi "Manajemen", terdapat kata perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.


"Nah, dari bagan ini, apa yang bisa kamu simpulkan?" Magister Snoug kembali bertanya.


Ats pun memikirkannya dengan teliti. Otaknya berfikir lebih cepat berkali-kali lipat dari kerja analisis Arselan. Tak lama kemudian, ia menjawab, "Kepemimpinan itu memiliki suatu yang lebih kompleks sehingga memungkinkan ia untuk menginspirasi dan mengayomi orang di bawah tanggung jawabnya."


"Apa suatu yang kompleks itu?" Magister Snoug menuntut jawaban yang lebih riinci.


"Seperti—" Ats kemballi memikirkannya dengan cepat, "Karisma ..., mungkin?"


"Yah, itu salah satunya," Magister Snoug mengangguk kecil dan menekan salah satu sisi pada proyeksi, "Lalu, mari kita lihat ilustrasi berikut."


Direktur itu memiliki banyak pegawai. Ia memberikan tugas-tugas tertentu kepada pegawainya dengan otoritas yang ia punya. Mereka pun mengikuti perintah itu semata-mata karena memang begitulah tugasnya. Ketika sang direktur memerintahkan hal selain dari tugasnya, para pegawai itu akan menolak atau cenderung melakukannya tanpa ketulusan sama sekali.


"Lihat direktur itu!" Magister Snoug menghentikan ilustrasi di meja proyektor, "Bagaimana kondisinya menurutmu?"


"Dia—" Ats berhenti sejenak untuk menganalisis ilustrasi itu, baru kemudian menjawab, "Seorang manajer, tapi tak punya karisma seorang pemimpin."


"Tepat!" Magister Snoug membenarkan, "Dalam hal ini, ia adalah seorang manajer, tapi bukan pemimpin sejati."


Ilustrasi pun dilanjutkan. Ditampakkanlah gedung besar tempat direktur itu berkerja. Sesaat kemudian, ilustrasi terlihat bergetar. Hm, proyektor itu menampakkan kondisi bencana. Dalam ilustrasi kali ini, terlihat seorang pria yang di atas kepalanya terdapat tulisan "Pak Satpam".

__ADS_1


Saat permukaan tanah bergetar, orang-orang di dalam gedung pun menjadi panik. Mereka berlari ke sana-ke mari mencari tempat perlindungan. Pak satpam pun bergerak di kondisi yang kacau itu. Ia mengarahkan orang-orang yang ada di dalam gedung untuk mengungsi. Tanpa protes sedikit pun, orang-orang langsung mengikutinya begitu saja.


"Bagaimana dengan petugas keamanan itu?" Magister Snoug kembali menghentikan ilustrasi. Ats mengernyitkan matanya, berusaha mencari jawabann yang tepat atas pertanyaan itu.


"Dia mengevakuasi para pegawai dengan baik," jawab Ats kemudian, "Para pegawai pun bersikap koordinatif."


"Hm, itu benar," Magister Snoug mengangguk kecil, tapi terlihat kurang puas, "Lalu?"


"Em—" Ats terlihat kebingungan, "Apa ilustrasi itu bisa dilanjutkan sedikit lagi?"


"Tentu," Magister Snoug pun menekan sebuah tombol hologram pada meja proyektor itu. Sensor-sensor yang terpasang di sana langsung merespon. Dalam sekejap, ilustrasi kembali dilanjutkan.


Setelah gempa bumi mereda, pak satpam kembali mengarahkan orang-orang untuk bergerak ke tempat yang lebih aman. Ia meminta siapa pun yang sehat untuk membantu yang sakit dan terluka. Bagitu sampai di luar gedung, ia segera melapor pada otoritas setempat, sementara orang-orang yang mengungsi menunggu dirinya.


"Apakah ini sudah cukup?" tanya Magister Snoug sambil menghentikan kembali ilustrasi itu. Ia juga menekan tombol lain sehingga muncul papan nama di atas setiap orang yang mengungsi. Di antara orang-orang itu, ada beberapa orang berpangkat tinggi seperti manajer lini, ketua tim tertentu, bahkan kepala keamanan yang merupakan atasan dari pak satpam. Begitu memperhatikannya dengan teliti, barulah Ats mengerti.


"Oh, jadi satpam di sini adalah sosok pemimpin sebenarnya di antara sekian banyak orang yang ada," kata Ats semangat. Ia seperti anak yang baru saja menyelesaikan soal matematika yang sangat sulit. Senangnya bukan main. "Dia tak memiliki jabatan atauu otoritas yang tinggi. Namun, dia memiliki kemampuan untuk mengayomi dengan baik."


"Hm, begitulah," Magister Snoug kembali tersenyum simpul, lalu menambahkan. "Satpam ini adalah seorang pemimpin, tapi bukan manajer sejati. Lihat bagaimana ia bertindak dengan instingnya, tanpa perencanaan apa pun. Akan tetapi, orang-orang percaya dan mengikutinya."


"Oke, kita lanjutkan."


Ilustrasi kembali bergerak. Kini, ia memperlihatkan seorang pria paruh baya yang di atas kepalanya terdapat tulisan "Tuan Wali Kota". Pria itu tengah mendengarkan laporan dari para amtenarnya. Ia manggut-manggut kecil, lalu memberi perintah darurat pada mereka. Dengan cepat, para amtenar itu pun bekerja.


Tak habis sampai di situ, tuan wali kota keluar bersama ajudannya untuk mendapati kota yang porak poranda. Ia pun pergi tempat para pengungsi. Di sana, ia berkoordinasi dengan orang-orang setempat. Setelah mendapat cukup informasi terbaru, ia pun memanjat ke tempat yang tinggi. Dari tempat itu, ia memberi semangat pada para warganya dan memohon kerja sama mereka. Bagaimanapun bencana ini harus dihadapi bersama agar segala masalah dapat terselesaikan dengan cepat.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu? Bukankah itu sudah cukup jelas?" tanya Magister Snoug. Ia membiarkan ilustrasi tetap berjalan kali ini.


"Wali kota itu," tanpa berpikir lama, Ats bisa langsung menjawab, "Adalah sosok pemimpin dan manajer sejati."


__ADS_2