Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 008: Anggota Keluarga Kekaisaran!?


__ADS_3

"Nggak nyangka, ternyata kamu punya hubungan sama Pengeran Kedua, ya?" tanya Arjuna kagum, "Dia nemenin kamu sampai malam, kan?"


"Apaan sih? Biasa aja kali," sanggah Ats, "Lagian, dia kan ke sini karena Profesor Han yang memintanya. Kalau masalah hubungan, teman-teman seangkatannya juga punya hubungan kali."


"Hais ... ini berbeda, Kawan," Arjuna menggeleng miris atas ketidakacuhan kawanya. Meskipun Pangeran Kedua masih duduk di bangku akademi, ia memiliki kekuatan politik yang cukup dipertimbangkan oleh pemerintahan. Bahkan, seorang adipati sekalipun tak dapat meremehkannya. "Kamu yang jadi murid langsungnya Profesor Han aja sudah bikin orang lain iri. Aku kaget banget mendengarnya kemarin. Meskipun pengaruhnya di keluarga kekaisaran tak sebesar Pangeran Kedua yang masih junior, tapi pengaruh beliau dalam ranah keilmuan dan perkembangan teknologi tak bisa diremehkan. Apalagi kamu ada kesempatan buat dekat sama Pangeran Kedua. Kudengar, Profesor Han berdiri di belakang Pangeran Kedua untuk mendukungnya."


"Hm? Emangnya Profesor Han punya pengaruh di keluarga kekaisaran?" Ats tak mengerti. Arjuna pun menepuk jidatnya karena ketidaktahuan bocah itu. Bagaimana mungkin ia tidak mengenal gurunya dengan baik?


"Profesor Han kan memang anggota Keluarga Kekaisaran Altair," kata seorang pemuda yang duduk di samping Arjuna. Ia punya rambut cokelat gelap, iris mata berwarna selaras, dan kulit yang kuning langsat, tak terlalu terang ataupun gelap. Namanya adalah Putu Salamun.


"Eh? Masa?" Ats tak lantas percaya.


"Beneran kok," kawannya yang lain menunjukkan gawainya yang sedang memuat profil Profesor Han. Ia adalah Solar Efendi, orang yang selama ini menganggap Ats sebagai rivalnya. Yah, tentu saja Ats mengabaikannya.


Ats tertegun membaca profil itu. Selama ini, ia memandang gurunya sebagai seorang profesor yang hebat, bukan sosok bangsawan dari keluarga kekaisaran. Itu karena ia tak mendapati ciri khas keluarga kekaisaran yang jelas pada diri Profesor Han, berbeda dengan Iskandar.


Memikirkan hal itu, Ats memijat keningnya. Entah sejak kapan, sepertinya ia sudah masuk terseret ke ranah politik yang tak ingin ia dekati. Walaupun latar belakang keluarganya adalah militer yang erat hubungannya dengan politik, ia lebih memilih untuk mengikuti jalan ibundanya yang seorang ilmuan. Karena itulah ia mau menerima tawaran Profesor Han.


"Hah ...," Ats menghela napasnya begitu Arjuna dan yang lainnya pergi. Dokter belum mengizinkannya untuk ikut kelas di akademi meskipun ia sudah merasa baik-baik saja sekarang. Kata dokter, Ats harus melakukan kontrol langsung dengan Profesor Han pagi ini.


"Sistem, ya?" gumam Ats sambari menatap pergelangan tangannya yang dililit oleh sebuah gelang keperakan. Ia mulai menimbang ulang keputusannya untuk melanjutkan proyek ini. Andai ibundanya masih ada, apakah beliau akan mengizinkannya untuk mengikuti pengembangan sistem ini.


"Arselan," panggil Ats.


"Ya, Tuan," jawab Arselan tanggap. Sistem langsung kembali diaktifkan seketika. Fungsi-fungsinya yang dibatasi selama mode tidur pun dibuka kembali.


"Jadi begitu, ya? Aku memang tak perlu melepas gelang ini," gumam Ats pelan. Arselan pun langsung mengonfirmasi dugaan itu. Ia lebih merekomendasikan mode tidur daripada memutuskan sistem secara total.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Ats setelah mengangguk kecil. Ia penasaran dengan rasa nyeri yang dideritanya kemarin. Mungkinkah itu salah satu efek samping penggunaan sistem? Padahal, dia hanya menguji salah satu sistem sekundernya saja.


"Anda mengalami keterkejutan otak, Tuan. Itu adalah kondisi ketika Anda menerima informasi yang berlebihan dalam waktu singkat sehingga mempengaruhi neuron zarah dalam otak. Berdasarkan data yang ada, para driver pada umumnya akan mengalami pusing, sesak napas, dan pandangan yang berkunang-kunang."

__ADS_1


Arselan menjelaskan panjang lebar. Ats manggut-manggut mendengarnya. Ia memang mengalami gejala-gejala itu kemarin. Rasanya sakit sekali.


"Tok! Tok!"


Pintu dibuka. Seorang pria jangkung berambut cepak masuk ke kamar rawat. Dengan seulas senyum khas di bibirnya, ia menyapa Ats dan bertanya, "Bagaimana kondisimu, Nak?"


"Saya sudah baikan, Profesor," Ats membalas senyuman itu dengan senyuman serupa. Sebagai pemuda yang tumbuh di tengah-tengah Keluarga Asir, ia terbiasa memberi salam dengan tersenyum.


"Sungguh? Apa kamu sudah tak pusing lagi sekarang? Apa ada nyeri pada bagian tubuhmu?" Profesor Han memastikan. Ia sudah mengamati berbagai data yang menunjukkan kondisi Ats melalui gawainya. Maski begitu, ia harus tetap memastikan kondisi sebenarnya.


"Saya benar-benar sudah sehat, Profesor," tegas Ats.


"Syukurlah kalau begitu. Kesehatanmu sangatlah penting. Kita tidak akan bisa melanjutkan pengembangan kalau ini berakibat buruk padamu," Profesor Han bernapas lega, "Apa kamu mengalami trauma setelah kejadian itu?"


"Tidak, saya hanya sedikit terkejut," balas Ats. Ia memutuskan untuk melanjutkan proyek ini. Perannya di sini bukan hanya sebagai driver, tapi juga pengembang yang berinteraksi langsung dengan sistem. Ia punya hak untuk mundur jika mau. Profesor Han menegaskan hal itu.


"Saya ingin menjadi ilmuan seperti ibunda saya, Profesor," ujar Ats yang menyungging senyum tipis di wajahnya, "Proyek pasti bisa menjadi batu loncatan yang besar bagi saya."


***


"Inikah tempatnya?" batin Ats. Ia berdiri di sebuah ruangan berpintu besar seperti pintu-pintu gerbang yang ada di istana. Pintu itu terbuat dari kayu besi. Kayu yang sangat kuat dan langka dari salah satu klan hebat di bumi. Di papan namanya tertulis besar-besar nama tempat itu, "Perpustakaan Ilmiah."


"Arselan, benarkah ini tempatnya?" tannya Ats masih ragu. Ia belum berani menggunakan peta tiga dimensi lagi sekarang. Profesor Han menyarankannya untuk tidak menggunakan fungsi itu sampai beberapa waktu. Sebagai gantinya, ia menggunakan pemetaan digital biasa.


"Tempat tujuan ada di balik pintu ini, Tuan," jawab Arselan, "Silakan masuk sesuai arahan yang diberikan."


"Hah ...," Ats menghela napas, ia pun mendorong pintu besar itu, "Baiklah."


Pintunya lebih berat dari yang ia kira. Ats harus mendorong pintu itu kuat-kuat untuk membukanya. Ketika ia masuk, didapatinya puluhan rak yang tersusun rapi di sana. Setiap rak menyimpan ratusann buku dengan ketebalan yang berbeda. Buku-buku itu dikelompokkan dalam berbagai kategori yang telah ditentukan oleh para sarjana terdahulu.


"Buku-buku asli?" Ats berdecak kagum. Di zaman ini, buku asli sudah sangat jarang dipakai, apalagi oleh Klan Zarah. Semuanya ditulis secara digital. Itu lebih simpel dan hemat tempat, tapi memiliki konsekuensi tersendiri.

__ADS_1


"Arselan, apa kamu bisa memindai semua buku yang ada di sini?" Ats penasaran. Ia tak mungkin bisa membaca semua buku itu di sini. Pasti butuh waktu yang sangat lama untuk menghabiskan semuanya.


"Pemindaian dapat dilakukan. Apa Anda yakin ingin melakukan pemindaian?" Arselan mengonfirmasi keputusan Ats. Ats pun mengangguk.


Sekejap kemudian, Arselan memancarkan suatu gelombang. Dalam waktu singkat, gelombang itu kembali diterima.


"90% buku di ruangan ini telah dipindai dan dimasukkan ke arsip perpustakaan nasional, Tuan," jawab Arselan kemudian, "Anda dapat mengaksesnya dengan bebas selama memiliki kartu keanggotaan."


"Bagaimana dengan 10% sisanya?" Ats menyentuh sampul tebal salah satu buku di sana. Jari-jemarinya merasakan tekstur halus dari buku itu. Tampaknya, buku-buku ini tetap terawat meskipun tidak pernah dibuka sama sekali.


"Ada sistem khusus yang memblokir pemindaiannya. Anda membutuhkan izin untuk dapat mengakses buku-buku yang tersisa," jelas Arselan. Ats pun mangut-mangut. Ia kembali berjalan dan melihat-lihat setiap buku yang disusun di situ.


"Hah ...," Ats kembali menghela napasnya setelah berjalan cukup lama, "Sebenarnya, apa itu Departemen Jasus? Kenapa profesor menyuruhku untuk mencari tentangnya di sini?"


"Departemen Jasus merupakan instansi di bawah akademi langsung," Arselan menjawab, "Departemen ini bertanggung jawab atas pengembangan Kelas Reserse, Kelas Menembak, Kelas Beladiri, dan Kelas Zarah."


"Kamu sudah menjelaskannya tadi," Ats menggeleng pelan. Meskipun Arselan mengetahui banyak informasi di seluruh Klan Zarah, tapi masih lebih banyak lagi yang tak diketahuinya. Data yang tersimpan dalam basis hanyalah data yang pernah dimasukkan oleh para operator. Bagaimanapun, sistem tetaplah sistem. Ia dikembangkan oeh para peneliti seperti Profesor Han dan Ats pun sudah masuk ke dalamnya sekarang.


"Profesor bilang," gumam Ats, "Aku bisa mendapatkan petunjuk di sini. Arselan, bisa tolong kau pindai buku-buku di sini sekali lagi. Tunjukkan buku yang menjelaskan Departemen Jasus padaku."


"Melakukan pemindaian," respon Arselan cepat, "Pemindaian selesai. Apa Anda akan menggunakan peta tiga dimensi?"


"Tidak, gunakan peta digital yang biasa saja," jawab Ats. Sebenarnya, ia lebih suka peta tiga dimensi yang sudah pernah diujinya itu. Jika hanya sebatas perpustakaan besar ini, ia mungkin tidak akan kesakitan. Namun, ia tak ingin mengambil risiko yang tak perlu. Akan sangat merepotkan kalau ternyata ia pingsan lagi di sini. Lebih baik mengikuti kata Profesor Han saja untuk sekarang.


"Ilmu Politik dan Hubungan Internasionalkah?" Ats sampai di sebuah rak besar. Ia menatap buku-buku tebal yang tersimpan di sana. Tak ada satu pun yang mengulas tentang Departemen Jasus secara gamblang jika dilihat berdasarkan judul-judul dari sampulnya saja. Departemen itu mungkin merupakan salah satu subbab yang ada di dalam salah satu buku ini.


"Yang ini, ya?" Ats mengambil buku yang Arselan rekomendasikan dengan layar hologramnya. Menurut Arselan, buku itu merupakan buku yang paling rinci menjelaskan tentang Departemen Jasus.


"Buku ini tersedia di Perpustakaan Nasional, Tuan," Arselan mengingatkan, "Anda dapat mengaksesnya dengan kartu level tiga."


"Kartu level tiga itu kan baru bisa diakses setelah aku menjadi sarjana atau magister," Ats pun mengambil buku yang Arselan rekomendasikan itu. Ketika ia menarik ujung sudutnya dari lemari, benda "itu" pun aktif dengan sendirinya setelah sekian lama. "Mungkin karena itulah Profesor Han memintaku untuk langsung ke sini."

__ADS_1


"Mendeteksi pergerakan yang tak wajar," gumam benda"itu" di tempat bersemayamnya, "Penyusup ditemukan. Menyalakan protokol keamanan S-11. Singkirkan penyusup sekarang juga!"


__ADS_2